| Lintas Agama lainnya |
Begitu juga pandangan terhadap Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. "Kesalahan persepsi itu yang harus kita luruskan, bahwa kejadian 11 September itu adalah murni kejahatan manusia, bukan berasal dari agama tertentu," katanya.
Pandangan inilah, kata Scot, yang harus diupayakan untuk menciptakan 'mutual understanding' agar tercipta toleransi antarumat beragama.
Salah satu caranya adalah dengan kegiatan kuliah umum seperti ini. Selain itu, dalam beberapa bulan terakhir, pihak Kedutaan Besar Amerika pun telah mengirim puluhan pemuda Indonesia untuk mengikuti program yang mengangkat tentang "Religious and Pluralism".
"Dari kegiatan seperti itu, para pemuda tersebut bisa berdiskusi dan saling membuka pemahaman tentang pluralisme dan toleransi. Mereka juga melihat kehidupan beragama di Amerika seperti apa," katanya.
Scot mengaku, memang perlu kerja keras untuk mengembalikan kondisi, meski kenyataannya hingga kini penduduk Muslim di Amerika sudah mencapai hingga 10 juta orang, dan perlahan terus bertambah.
"Dari seluruh penduduk Muslim di Amerika Serikat, 90 persennya mengaku merasa dihargai. Mereka berbaur dengan penduduk Amerika lainnya tanpa harus resah tentang agama mereka," katanya.
Dalam kesempatan itu, Scot juga menyampaikan bahwa perempuan Muslim di Amerika bebas mengekspresikan identitasnya sebagai Muslim, salah satunya dengan mengenakan jilbab, "Tidak perlu khawatir, itu tidak akan dipersoalkan. Apalagi bagi universitas yang kepentingannya adalah pendidikan," katanya. []
© Republika
Masuk: 16 Sep 2011 (08:47 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi