| Lintas Agama lainnya |
Proyek yang diberi nama "Visi Gunung Kudus Tuhan" diharapkan bisa mencegah terjadinya benturan antar agama. Proyek ini menunjukkan bahwa visi hari akhir Yahudi adalah terciptanya keselarasan yang memberi ruang bagi hegemoni arsitektur Islam kini yang ada di Temple Mount.
Yoav Frankel, direktur dari inisiatif proyek ini mengatakan bahwa visi yang mereka kembangkan adalah bagaimana mentransformasikan Temple Mount ke dalam kekudusan asalinya sebagai tempat pemujaan bagi umat Yahudi, Kristen dan Islam.
Proyek ini disponsori oleh The Interfaith Encounter Association yang berada di Konrad Adenauer Conference Center Mishkenot Sha'ananim, Yerusalem.
Menurut tradisi Islam, Dome of the Rock dibangun pada tahun 691, yang menandai tempat dimana Muhammad terangkat ke surga. Namun, menurut tradisi Yahudi, Bukit Muria, yang kini berada di bawah Dome of the Rock adalah tempat dimana Bait Suci Salomo berada.
Sampai sekarang, orang-orang Yahudi percaya bahwa untuk membangun kembali Bait Suci Salomo, maka Dome of the Rock haruslah dihancurkan.
Namun, dalam sebuah artikel tahun 2007 yang dimuat dalam Tehumin, sebuah jurnal hukum Yahudi yang sangat berpengaruh, seorang sarjana Yahudi yang masih muda bernama Frankel, mempresentasikan suatu pilihan yang berbeda.
Gagasan utama Frankel adalah doktrin Yahudi untuk membangun kembali Bait Suci Salomo merupakan doktrin yang ditegaskan dalam kitab para nabi.
Otoritas para nabi ini memberi keleluasaan terhadap lokasi dimana Bait Suci itu akan dibangun. Karena itu, menurut Frankel, Bait Suci bisa saja dibangun di lokasinya yang sekarang atau di lokasi sekitar Temple Mount, dekat Dome of the Rock.
Artinya, tidak perlu adanya penggusuran terhadap Dome of the Rock, jika dipilih opsi untuk membangun Bait Suci itu tidak persis di lokasinya sekarang.
Sayangnya, gagasan Frankel ini mendapat penolakan keras dari kaum Yahudi dan Muslim.
Syekh Abdullah Nimar Darwish, pendiri gerakan Islam di Israel mengatakan bahwa imam mahdi yang akan datang nanti, akan memutuskan apakah harus dibangun kembali Bait Suci ataukah tidak.
Jadi, selama imam mahdi belum datang, maka tidak perlu ada upaya untuk membangun kembali Bait Suci.
"Jika imam mahdi itu datang, dan ia memerintahkan untuk membangun kembali Bait Suci, maka saya akan membantu membawakan batu untuk membangun Bait Suci itu," kata Syekh Darwish.
"Selama masih ada orang Muslim yang hidup, maka tidak akan ada Bait Suci Yahudi yang akan dibangun di al-Haram al-Syarif (Temple Mount). Status quo itu harus dijaga, jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah." Kata Syekh Darwish.
Sementara itu, Barukh Ben-Yosef, ketua Gerakan Pemugaran Bait Suci, mengatakan bahwa Bait Suci harus dibangun dilokasi dimana Dome of the Rock berada.
"Siapapun yang berkata berbeda, tidaklah memahami apa yang sedang ia katakan," kata Ben-Yosef. "Seorang nabi tidak punya otoritas untuk mengubah hukum yang menyatakan lokasi dimana Bait Suci itu harus dibangun."
Ben-Yosef juga menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa Bait Suci harus dibangun oleh seorang nabi. Hal itu dikemukakannya menanggapi pernyataan Syekh Darwsih tentang imam mahdi.
Di kalangan Yahudi sendiri terdapat perbedaan pendapat tentang pendirian kembali Bait Suci Salomo. Para rabbi Ortodoks justru menentang gagasan pendirian kembali Bait Suci Salomo selama Temple Mount tidak dikuduskan bagi orang Yahudi.
Gerakan untuk mendirikan kembali Bait Suci Salomo justru berkembang di kalangan awam Yahudi. [JP]
Masuk: 25 Jun 2009 (12:36 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi