| Lintas Agama lainnya |
Layanan ini memang bukan hal baru lantaran sebelumnya layanan serupa ditawarkan mitfahrgelegenheit.de. Pada tahun 1996, papar Salim, sang pengusaha itu, orang tuanya yang berasal dari Irak pernah mengalami pengalaman buruk saat menggunakan jasa taksi.
Kebetulan sopir taksi tersebut non-Muslim. Sepanjang jalan, orang tuanya selalu dicecar umpatan tentang Islam dan Muslim. "Ia mengumpat jilbab yang dikenakan ibu saya," papar Salim seperti dikutip thelocal.de, Jumat (27/1).
Namun, Salam memastikan, layanan yang ditawarkannya tidak dikhususkan untuk Muslim saja. Penumpang non-Muslim juga diperkenankan untuk menggunakan jasa ini. "Saya juga berharap, layanan ini dapat menjadi jembatan penghubung antara Muslim dan non-Muslim," katanya.
Meski bertujuan mulia, layanan ini banyak mendapat kritik. Berbagai pihak menuduh Salam membuat jurang pemisah antara imigran dan masyarakat Jerman. "Banyak saudara dan saudari Muslim mengeluh bahwa mereka tidak dapat menikmati jasa konvensional karena pemisahan gender," kata dia. []
© Republika
Masuk: 27 Jan 2012 (21:58 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi