| Lintas Agama lainnya |
Siti Musdah Mulia, tokoh pluralis dan direktur eksekutif Indonesian Conference on Religion and Pease (ICRP) mengatakan sebenarnya pendidikan kita cukup satu atap, yakni ditangani oleh kemendiknas, bukan kementerian agama.
"Diskriminasi agama terjadi karena problem dalam pendidikan kita di bawah dua atap, agama dan negara sehingga pendidikan kita terbelah. Dengan sistem yang terbelah ini membuat anak-anak juga terbelah," kata Musdah dalam seminar yg diadakan di Jakarta, 5 Agustus yang dihadiri sekitar 200 orang.
Seminar dengan tema "Tuhan Tolong Pulihkan Bangsa Kami" yang diadakan Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) bekerjasama dengan Perhimpunan Pelayan Penjara PGI, merupakan bagian dari acara dalam rangka HUT RI ke-66.
Musdah mengatakan berdasarkan penelitian ICRP, akibat dari pendidikan dua atap menimbulkan kebencian. Ironisnya, hal ini dibiarkan berlangsung oleh pemerintah.
"Kita jangan mengharapkan dunia pendidikan kita untuk membangun toleransi. Kita harus mulai dari keluarga kita untuk membangun toleran," tambah dosen dan guru besar Universitas Islam Negri (UIN) itu.
Ia juga mengajak semua untuk jangan diam tapi harus berani berteriak jika negara melakukan diskriminasi.
"Kita hanya memperlakukan Tuhan sebagai mesin cuci. Setiap hari Jumat dan hari Minggu orang padati gereja dan masjid, tapi tak sesuai dengan imannya. Bahkan mengaku sebagai orang beragama tapi pelakunya lebih dahsyat dari setan. Semakin kita beragama semakin tidak manusiawi."
Ahmad Safii Ma'arif, seorang tokoh Muslim, pembicara lain, mengatakan, "Kalau doa saja tak cukup tapi harus juga pro aktif untuk mengubah bangsa ini."
"Kami para pemuka lintas agama telah bersuara namun suara kami tak didengarkan oleh pemerintah. Namun kami tak putus asa dan asal kita tetap promosikan kejujuran," kata Maarif.
Negara ini, katanya, tak boleh dimonopoli oleh agama tertentu atau menjadi tirani bagi minoritas. Terpenting bagi kita adalah kita harus berbuat untuk menyelamatkan bangsa ini.
"Kita harus bangkit dan kuasai keadaan, kita tidak boleh kehilangan harapan karena Tuhan tak mau kita putusasa," tambahnya.
Sementara itu Theophilus Bela, ketua FKKJ, dalam sambutannya berharap agar HUT RI ke-66 menyatukan umat lintas agama.
Seminar ditutup dengan buka puasa bersama. []
© Cath News
Masuk: 08 Ags 2011 (16:43 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi