| Lintas Agama lainnya |
"Pembauran berlangsung sepanjang perkawinan kebudayaan itu tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam," kata Suratno, Ketua Departemen Falsafah & Agama, Universitas Paramadina, yang berada Los Angeles, AS, ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu (12/7), kemarin.
Perkembangan Islam di AS itu disampaikan Suratno, yang mengutip penuturan Dr. Maher Hathout, salah seorang nara sumber dalam acara dialog beberapa hari lalu dengan komunitas Islamic Center of Southern California (ICSC), organisasi keagamaan di Los Angeles (LA) dalam rangkaian program SUSI (Studi of the United State Institute), 2009 on Religious Pluralism.
ICSC, katanya, adalah organisasi Islam terbesar di California yang memiliki ribuan anggota. Hampir tiap hari, markas ICSC yang terletak di kawasan South Vermount Avenue itu selalu penuh sesak oleh kaum Muslim dengan beragam aktivitas.
Suratno, yang masih menyampaikan pendapat Maher Hathout, mengatakan, Islam diturunkan ke dunia sesuai dengan bahasa umatnya. Islam diturunkan di Mekah sehingga ajaran dan hukum yang berlaku sesuai dengan kultur dan tradisi yang berlaku di Arab.
"Ketika Islam turun ke seluruh dunia, maka Islam dalam bentuk aslinya yang didominasi kultur dan tradisi Arab itu, harus beradaptasi dan berakulturasi dengan tradisi dan budaya Islam tempat lain seperti Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan Australia," katanya.
Islam, yang masuk ke AS, juga mengalami pembauran dengan kultur dan tradisi AS. Hathout, yang juga penasehat senior MPAC (Muslim Public Affairs Council), sebagaimana dikutip Suratno, menuturkan pengalamannya ketika datang ke AS sekitar 37 tahun lalu.
"Ketika itu kaum Muslim berupaya keras mempertahankan agar Islam di AS bergantung pada imam pendatang dari negara asal, terutama Timur Tengah," katanya.
Sayangnya, kata Hathout, dalam beberapa kasus, upaya-upaya itu kontra produktif dan bahkan terkadang bertentangan dengan kultur AS.
Setelah sekian lama berlalu, upaya tersebut diabaikan di kalangan kaum Muslim dan justru melahirkan kebingungan khususnya di kalangan generasi baru Muslim.
"Ada batas antara kami selaku imigran dan generasi baru, anak-anak kami yang lahir di AS, merupakan produk kebudayaan lingkungan AS. Pembatas itu di antaranya (ialah) munculnya kesulitan mereka untuk memahami apa-apa yang diajarkan oleh imam pendatang kami," katanya.
Generasi baru Muslim membutuhkan penjelasan tentang bagaimana mereka bisa terlibat dalam aktivitas kultural "khas AS" dalam gaya hidup, musik, olah raga, fashion dan aktivitas-publik lainnya tanpa harus merasa kehilangan ke-Musliman mereka.
"Mereka terus mencari identitas tentang bagaimana menjadi 'Muslim AS' yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan generasi baru Muslim AS, sesuatu yang progresif, dan seharusnya setiap Muslim berprilaku demikian," katanya.
Seorang Muslim tidak dapat beradaptasi dan mengatasi dinamika kehidupan biasanya karena memperlakukan agama mereka secara literal dan kaku.
"Itu sebabnya generasi baru Muslim AS terus berijtihad, atau bersikap progresif," kata Hathout, yang juga adalah pengurus Interfaith Alliance di Amerika Serikat itu. [Rep]
Masuk: 13 Jul 2009 (17:19 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi