| Lintas Agama lainnya |
Hal itu dikemukakannya saat menjadi pembicara dalam acara refleksi dan syukuran akhir tahun di M-Icon Manado, Kamis (31/12).
“Bagi saya almahrum Gus Dur adalah seorang beragama Islam namun memiliki iman Kristiani yang asli dan sejati. Karena itu, sudah sepantasnyalah bahwa sebagai warga gereja, kita turut bergembira, karena Tuhan telah memberikan sosok pribadi sedemikian seperti almahrum. Dan berdoa demi keselamatan akhir jiwanya,” ujarnya.
Lebih jauh Tawaluyan mengatakan, Tuhan menggunakan pribadi ini menjadi alat dan sarana pengasinan dunia dengan garam Kristiani. Dengan kata lain, Tuhan menggunakan sosok Gus Dur sebagai alat dan sarana penerang dunia dengan cahaya Kristiani.
“Tuhan menggunakan sosok pribadi (Gus Dur) ini agar kita yang mengaku diri sebagai pengikut-pengikut Kristus mampu merefleksikan diri dan berkaca pada diri almarhum, lalu pergi diutus dan berbuat seperti beliau, yakni menjadi murid-murid Kristus yang sejati, mewartakan pluralisme Kristiani sejati demi keselamatan universal,” paparnya.
Pastor yang membidangi Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Manado dan Komisi Keawam Keuskupan Manado ini mengatakan, setiap orang mengenal dengan baik siapa sosok pribadi ini. “Almarhum Gus Dur adalah seorang yang sungguh-sungguh nasionalis dan pluralis dengan berbagai nilai plus lainnya. Seluruh kediriannya ia perjuangkan untuk orang lain, bangsanya,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah pimpinan remaja gereja ikut angkat bicara soal sosok Gus Dur. Bahkan mereka menilai Gus Dur layak diberikan gelar sebagai pahlawan nasional.
Ketua Remaja GPdI Sulut Pdt Haezer Sumual mengatakan Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang memiliki iman Kristiani, bersikap pluralis. “Tidak ada tokoh lain seperti Gus Dur yang mampu menjadi perekat minoritas dan mayoritas. Karenanya, selain menjadi teladan para pemimpin bangsa, Gus Dur juga layak mendapat pahlawan nasional karena telah memperjuangkan keesaan NKRI dan pernah menjadi Presiden RI,” paparnya.
Menurut Sumual, pemuda Sulut memiliki pengalaman kedekatan dengan Gus Dur saat acara akhir tahun 2001 di Bukit Inspirasi Tomohon. “Waktu itu kita dari pemuda lintas gereja menggelar dialog dan Gus Dur langsung hadiri dalam kegiatan ini. Ia begitu dekat dengan semua orang termasuk di Sulut,” tukasnya.
Dukungan juga datang dari Ketua Pemuda Katolik Sulawesi Utara Harold Pratasik. “Gus Dus layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Sangat memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional. Memang ada mekanismenya namun jika semua elemen bangsa memperjuangkannya maka itu akan terpenuhi,” terangnya.
Lanjut Pratasik, Gus Dur adalah seorang tokoh yang sangat demokratis dan toleran. Ia menjadi pengayom bagi kaum minoritas. “Gus Dur dapat memberi warna bagi demokrasi Indonesia, juga memberi andil reformasi. Tentunya bangsa Indonesia merasa kehilangan tokoh demokrat sejati dan pejuang hak asasi manusia,” katanya.
Ketua Pemuda/Remaja KGPM Tenny Assa mengakui, sosok Gus Dur sangat dekat dengan pemuda gereja se-Sulut. Buktinya, ketika digelar dialog pemuda lintas gereja di Sulut, Gus Dur ikut hadir. Dirinya pun sangat mendukung Gus Dur digelari pahlawan nasional.
Yahudi Indonesia
Meninggalnya Gus Dur, juga menyisakan duka yang mendalam bagi Komunitas Yahudi di Indonesia atau Jewish Community of Indonesia (JCI).
Pasalnya, menurut Ketua Komunitas Yahudi di Indonesia Yaacov Baruch didampingi Kepala Biro Infokom IN Grosman, bagi JCI, Gus Dur merupakan satu-satunya tokoh Muslim yang sangat melindungi keberadaan komunitas Yahudi di Indonesia.
“Selama ini Gus Dur merupakan satu-satunya tokoh Muslim yang sangat melindungi keberadaan Yahudi di Indonesia. Bahkan beberapa tahun lalu, Gus Dur telah dijadwalkan untuk membuka sinagog yang ada di Manado, tetapi berhubung kesehatan Gus Dur mendadak terganggu maka penerbangan ke Manado dibatalkan. Padahal lokasi sinagog telah disterilkan menjelang satu hari sebelum hari H, para tamu dari Israel dan luar negeri telah bersiap di Manado untuk menyambut kedatangan beliau,” tukas Yaacov dan Grosman.
Lebih lanjut diungkapkan Yaacov, Gus Dur dikenal sangat dekat dengan komunitas Yahudi internasional.
“Sebab selain menjadi anggota Yayasan Shimon Peres, Gus Dur juga satu-satunya mantan Presiden RI yang telah dua kali berkunjung ke Israel. Bahkan pada waktu kunjungan ke Israel tahun 2003 Gus Dur secara khusus menyampaikan keberadaan komunitas Yahudi Manado di depan Parlemen Israel (Knesset), padahal waktu itu, Presiden Iran melancarkan kampanye anti-holocaust bahwa holocaust hanya dongeng semata, tapi justru Gus Dur langsung mengadakan seminar internasional tentang holocaust di Bali yang dihadiri rabbi-rabbi dan para korban holocaust,” kata Yaacov mengisahkan.
Oleh sebab itu ungkapnya, tahun 2008 lalu Gus Dur dianugerahi Medal of Valor oleh Simon Wiesenthal Center di Amerika atas kegigihannya membela hak kaum Yahudi di Indonesia dan dunia. Selain itu Gus Dur juga pernah memperoleh gelar doktor dari Hebrew University di Yerusalem.
“Jadi dengan kepergian Gus Dur, kami komunitas Yahudi Indonesia merasakan dukacita yang sangat mendalam. Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Indonesia dan beliau sangat layak mendapat gelar pahlawan nasional. Semoga almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” kunci Yaacov dan Grosman. [hk]
Masuk: 05 Jan 2010 (15:22 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi