| Lintas Agama lainnya |
Juga seringkali ditemui fatwa yang bertolak belakang satu sama lain dan juga fatwa luar negri, yang menembus Maroko melalui internet dan stasiun-stasiun TV Arab.
Tidak terkesan
Sadoua Amezian dibesarkan di Maroko, pindah ke Belanda, dan sekarang sedang berlibur di tanah airnya. Dia tidak begitu terkesan dengan gelombang fatwa yang datang.
"Buat kami normal-normal saja bahwa ada diskusi setiap harinya. Bahwa ada pandangan berbeda antara ulama yang satu dan lainnya. Saya pribadi sih akan mencari jalan saya sendiri. Tapi bagi banyak orang yang tidak terlalu berpendidikan, mereka tergantung pada fatwa-fatwa itu. Jika Anda buta huruf total misalnya, seperti orang tua kami, fatwa akan membawa dampak lebih besar terhadap Anda. Bagi saya, meskipun ada fatwa dan pendapat berbeda mengenai suatu hal, saya akan berpikir sendiri secara logis tentang apa yang paling benar bagi saya. Tapi untuk orang tua saya, fatwa itu: Ya atau tidak. Ikuti atau tidak. Jika ahli agama mengatakan begini, yak laksanakan!"
Menurut partai sosialis Maroko, PSU, harus segera diakhiri keluarnya 'fatwa-fatwa terbelakang yang bertentangan dengan rasionalitas, logika dan hukum.' Salah satu fatwa yang diterbitkan di Attajdid misalnya menyinggung bahwa seorang pencari kerja boleh-boleh saja membayar uang suap untuk mendapatkan pekerjaan, asal semua kemungkinan lain telah dicoba. Ini sudah kelewat batas. Demikian PSU.
Kelewat Batas
Ahmed Toufiq, Menteri Urusan Islam Maroko, setuju kalau fatwa-fatwa dinyatakan kelewat batas. "Konyol sekali kalau saat ini semua orang seenaknya saja mengeluarkan pernyataan tanpa mengetahui fakta-faktanya dengan baik," ujarnya. Untuk mengatasi 'kekacauan' yang berlangsung Ahmed ini menyelenggarakan pertemuan Majelis Ulama. Di Maroko, dewan ini adalah badan tertinggi para ulama. Hasil pertemuan: hanya fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama saja yang harus diikuti.
Apakah umat muslim Maroko yang tinggal di luar negri juga terpengaruh oleh polemik fatwa ini? Tidak juga, menurut Sadoua Amezian.
"Kebanyakan muslim akan membawa norma yang mereka taati dari rumah. Walaupun banyak fatwa yang dikeluarkan, tapi pegangan tetap ditentukan dari rumah, melalui teman dan internet. Saya juga tidak sebegitu perhatiannya dengan semua yang terjadi di Maroko. Imam di masjid kita mungkin akan lebih berpengaruh, namun tidak halnya dengan imam dari Maroko. Bahkan jika akan ada lebih banyak lagi fatwa yang dikeluarkan melalui TV, saya rasa tidak akan terlalu berdampak pada perilaku saya."
Hilangnya tabu
Pimpinan harian Attajdid, Mustapha Khalfi, berpendapat korannya menerbitkan fatwa-fatwa baru untuk mendorong pembaharuan religius di Maroko. "Kami mendukung dinamika dalam Islam," katanya. Ini diamini oleh kaum muslim liberal, misalnya cendekiawan Islam Abdelbari Zemzemi. Dia tidak setuju dengan kebanyakan fatwa yang dikeluarkan, tapi menurutnya; "fatwa membuat semua jadi bebas dikemukakan dan dibahas. Sehingga tabu akan hilang secara bertahap."
Gelombang fatwa tidak membuat Maroko menjadi lebih konservatif, seperti yang dialami Amezian selama liburannya.
"Apa yang saya lihat di Maroko, justru sebaliknya. Maroko sekarang sangat modern. Semakin banyaknya fatwa sama sekali tidak membawa warganya menjadi lebih ortodoks. Sebaliknya, situasi sekarang justru lebih bebas dari dulu. Kami dulu keluar rumah saja tidak boleh. Sekarang, Anda bisa melihat laki-laki dan perempuan, bercampur baur dan berjalan bersama. Bersenang-senang bersama diiiringi musik. Pantai-pantai juga penuh. Ini tidak akan Anda saksikan sama sekali dulu. Banyak orang tidak lagi keluar dengan jubah panjang dan jilbab. Saya pikir Maroko justru lebih terbuka sekarang. Lebih banyak hal yang diperbolehkan. Saya juga ikut menyaksikan bagaimana banyak hal telah berubah."
Tetes Air
Dapatkah fatwa-fatwa ini mencerahkan wajah tua Maroko? Tidak secepat itu, menurut para cendekiawan Islam generasi modern. Bagi mereka, hujan fatwa bak setetes air yang jatuh di atap seng, di teriknya musim panas Maroko. []
© RNW
Masuk: 08 Ags 2010 (22:53 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi