| Lintas Agama lainnya |
"Citra imam Belanda didasarkan pada pernyataan-pernyataan dua atau tiga imam radikal aliran salafi yang terus-terusan muncul di media," demikian Fred Leemhuis, guru besar sastra Arab pada Universitas Groningen. "Kita sekarang ingin tahu apa sebenarnya isi khotbah para imam Belanda. Dan terutama kebaikan-kebaikan apa yang mereka puji-puji".
Lain dari kenyataan
Bersama Anand Blank yang menulis disertasi doktor tentang topik ini, Leemhuis menganalisis ucapan-ucapan enam orang imam Belanda yang dipilih secara acak, dan berasal dari berbagai latar belakang etnis. Para imam itu juga diwawancarai panjang lebar. Pakar psychologi sosial Pieter van Oudehoven mengadakan penelitian seiring, guna mengetahui nilai-nilai mana yang dianggap penting bagi orang-orang Belanda yang beragama Katolik, Protestan dan non-agama. Dari penelitian tampak bahwa pengungkapan para imam ternyata amat moderat dan hampir tidak menyimpang dari pandangan warga Belanda lain.
Gambaran imam salafi yang menghasut, sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan, ujar Leemhuis. "Yang mencolok dari isi khotbah para imam adalah sebagian terbesar mewakili semacam orthodoksi garis tengah. Tidak ekstrim ke sisi yang satu atau yang lain.
Bertetangga baik
Nilai-nilai baik yang disampaikan para imam, menurut Leemhuis, sama dengan nilai-nilai yang dianggap penting oleh orang Belanda lainnya: rasa hormat, perhatian, saling percaya dan keterbukaan. Dua nilai mencolok dalam khotbah mereka: pentingnya bertetangga baik dan rasa hormat pada orang lain. "Mayoritas imam menekankan di dalam khotbah dan dalam pembicaraan dengan kami, bahwa seseorang harus berhubungan baik dengan tetangga." Dan itu mereka maksudkan bukan saja orang-orang yang tinggal di sebelah rumah. "Mereka justru sampaikan kepada umat, supaya berhubungan baik dengan semua warga kampung, jadi juga dengan orang yang tidak seiman."
Di dalam khotbah mereka, para imam memperlihatkan pengertian bagi posisi sulit kaum Muslimin di dunia, demikian Leemhuis. Tetapi mereka menyampaikan hal ini dengan kata-kata yang diplomatis dan rujuk. "Sabar dan arif dipuji sebagai dua cara untuk menyelesaikan masalah ini, dan sama sekali bukan kekerasan." Karena itu Leemhuis juga tidak terkejut melihat reaksi tenang umat Muslim terhadap film Geert Wilders. "Ini memang cocok dengan kesimpulan penelitian kami."
Titik temu
Bahwa wawasan moral para imam tidak berbeda dengan warga Belanda lainnya, menurut Fred Leemhuis, antara lain karena makin berorientasi Belanda. Selama ini para imam berulang kali harus menghadapi masalah yang sama. Mereka juga sering berhubungan untuk memecahkan masalah dengan cara yang sama. Selain itu waktu mempersiapkan khotbah mereka, tidak jarang digunakan sumber-sumber yang sama. Sebagai contoh Leemhuis menyebut buku Taman Orang Saleh. "Sebuah kumpulan cerita indah dan membangun mengenai kehidupan Nabi Muhammad yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda."
Persamaan nilai antara warga Muslim dan penduduk Belanda lain, menurut Leemhuis memberikan titik temu yang baik bagi para politisi: "Apabila kita ingin meningkatkan integrasi orang Muslim dan non-Muslim Belanda, maka kita harus menekankan nilai-nilai yang sama-sama mereka miliki dan yang bisa dikenali semua orang." [RNW]
Masuk: 28 Mei 2008 (20:59 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi