| Lintas Agama lainnya |
Ichwan juga mengatakan, untuk mengantisipasi aksi terorisme tak perlu ada pendidikan khusus menyangkut terorisme. Menurut dia, sebenarnya ini masalah yang sederhana. "Jelas bahwa aksi-aksi terorisme merupakan aksi sosial yang menyimpang. Itu saja," tambahnya.
Jadi, hal yang perlu dilakukan adalah sosialisasi bahwa Islam tak mengajarkan hal-hal seperti yang dilakukan para pelaku terorisme.
Secara terpisah, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, menyatakan, hal terpenting adalah menanamkan fikih dakwah.Terutama, kata Yunahar, dilakukan pada generasi muda yang semangatnya tinggi dan menggelora. "Ini tugas kita semua, para kiai, ulama, ormas Islam, dan pihak lainnya untuk memperkuat fikih dakwah," katanya menegaskan.
Yunahar mengatakan, ini berarti bahwa semua sepakat bahwa kezaliman dan kemungkaran harus dilawan. Namun, kata dia, cara melawannya seperti apa, ini yang harus banyak diungkap dalam fikih dakwah. Dengan demikian, respons terhadap kemungkaran bisa dilakukan secara tepat.
Dalam konteks ini, jelas Yunahar, perlu pula menanamkan pentingnya kesadaran, melawan kemungkaran tidak dengan cara mendatangkan atau menimbulkan kemungkaran baru. "Orang yang semangatnya tinggi, namun pengetahuan fikihnya rendah, bisa miliki pemahaman salah kaprah."
Yunahar juga menegaskan bahwa aksi-aksi terorisme juga tak ada kaitannya dengan pendidikan di sekolah, madrasah, maupun pesantren. Ia menilai, pendidikan yang selama ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan itu sudah baik.
Kalaupun ada aksi-aksi terorisme, jelas Yunahar, itu merupakan hasil di luar dunia pendidikan yang ada di sekolah, madrasah, maupun pesantren. Sama sekali tak ada kaitannya. "Kalau ada aksi terorisme, itu akibat paham atau ajaran yang mereka terima dari luar," katanya.
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Adian Husaini, mengatakan, selama ini sebenarnya apa yang diajarkan pada umat Islam, termasuk para siswa dan santri sudah benar. Yaitu, memberikan pemahaman bahwa aksi terorisme bukan ajaran Islam. Islam ajarkan kedamaian.
Pelajaran antiterorisme
Sementara itu, Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdatul Ulama (NU) Jawa Tengah, mewajibkan seluruh satuan pendidikan yang berada di bawah naungannya memberikan materi pelajaran antiterorisme melalui pembelajaran makna Ahlusunnah wal Jamaah.
"Kami mewajibkan pemberian materi pelajaran antiterorisme tersebut untuk mencegah potensi murid-murid terpengaruh paham Islam radikal," kata Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jawa Tengah, Mulyani M Noor, seperti dikutip kantor berita Antara, Ahad (18/10). [Rep]
Masuk: 20 Okt 2009 (14:00 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi