| Lintas Agama lainnya |
Hamas menyangkal menggunakan paksaan. Mereka menyebutnya sebagai imbauan. Tidak ada aturan baru yang tertulis, tetapi kalangan garis keras organisasi perlawanan ini secara terang-terangan memperjuangkan kebersihan akhlak. Untuk itu polisi Hamas mulai pembersihan perbuatan-perbuatan yang 'tidak islami.'
Contohnya perempuan tidak boleh lagi mengendarai motor dan pria tidak boleh lagi telanjang dada di pantai. Selain itu Hamas ingin supaya para orang tua mengawasi anak-anak gadis mereka ketika keluar rumah. Pakaian dalam tidak boleh di tampilkan di etalase toko.
UU Tak Tertulis
Penduduk sekuler Jalur Gaza masih belum mematuhi aturan-aturan baru ini. Tapi dalam waktu dekat Hamas akan memperketat aturan ini. Kampanye kebajikan yang dalam bahasa Arab disebut 'fadilah', menurut Hamas bertujuan agar warga kembali ke jalan (Islam) yang benar.
Kementrian urusan Agama Hamas akan menyebar ribuah poster yang memberi contoh pada masyarakat Jalur Gaza yang sudah konservatif. Beberapa pamflet memperingatkan bahaya konsumsi obat bius atau dampak buruk televisi dan internet. Kampanye Hamas ini menekankan imbauan perempuan berpakaian sopan.
Masalah
Zeinab El Ghunaimi direktur Pusat Penyuluhan dan Penelitian Hak Wanita di Kota Gaza. Ia termasuk kelompok wanita di Jalur Gaza yang tidak memakai jilbab. Jumlahnya semakin sedikit saja. Ketika Hamas berkuasa empat tahun lalu, kebanyakan wanita memilih memakai jilbab untuk menghindari masalah.
Menurut El Ghunaimi, islamisasi Jalur Gaza dipicu boykot Israel. Hampir tidak ada ruang untuk debat dan kemiskinan medesak penduduk ke rangkulan agama, katanya.
Samar El Ramli, sahabat Zeinab lahir dan besar di Gaza. Ia bekerja untuk Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengan bangga dia menuturkan bahwa Hamas tidak mengusiknya karena ia pake mobil PBB.
"Kalau sedang di tempat umum tanpa jilbab, banyak orang menduga saya orang asing, sebab hampir semua perempuan sekarang pakai jilbab."
El Ramli menolak memakai jilbab karena disuruh pemerintah. "Bila saya pakai jilbab itu karena Tuhan, jadi bukan demi Hamas. Kalau mereka memaksa saya memakai jilbab saya akan keluar dari Jalur Gaza," katanya.
Tidak ada paksaan
Di kantornya di kementerian agama Hamas, menteri Dr Talib Hammad Abu Shaar menjelaskan, bahwa Islam tidak mengenal paksaan. "Kami tidak mau adanya Taliban di Gaza, tidak akan ada orang yang dipaksa untuk mengenakan jilbab," katanya.
"Akar kami terletak pada Ikhwanul Muslimin. Kami mencoba melaksanakan ajaran Islam berdasarkan kesadaran. Ini kami lakukan melalui dialog dan keyakinan. Kebebasan memilih merupakan bagian utama dari agama Islam."
Revolusi kecil
Banyak warga menilai aturan baru dan tindakan polisi Hamas sebagai paksaan. Dan orang Palestina tidak suka dipaksa. Ketika departemen kehakiman Hamas beberapa minggu lalu mewajibkan pengacara perempuan mengenakan jilbab di pengadilan, seketika muncul semacam revolusi kecil.
Kelompok pengacara kritis, yang mayoritasnya berjilbab, tidak setuju dengan dekret paksaan dari atas. Akhirnya mereka berhasil menentang keputusan kementerian itu. [RNW]
Masuk: 31 Okt 2009 (13:16 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi