| Lintas Agama lainnya |
"Saya sudah mendapat laporan dari Camat Cikeusik dan intelijen di lapangan, memang terjadi bentrokan antara warga dengan pengikut Ahmadiyah," katanya.
Futoni menjelaskan, bentrokan itu dipicu kedatangan sejumlah jamaah Ahmadiyah dari luar daerah. Akibat kejadian itu, kata dia, satu kendaraan roda empat dibakar masa satu unit dimasukan ke dalam jurang dan satu unit rumah dirusak.
Kapolres: Ahmadiyah Menantang
Kepala Polres Pandeglang AKBP Alex Fauzy Rasyad menjelaskan, penyerangan warga Cikeusik terhadap Jamaah Ahmadiyah dipicu sikap jemaah yang mengeluarkan pernyataan bernada menantang kepada warga setempat. "Sebenarnya situasinya sudah kondusif, dan masyarakat juga sudah tenang-tenang saja, tapi karena ada pernyataan bernada menantang dari Jamaah Ahmadiyah akhirnya warga terpancing," kata Kapolres ketika dikonfirmasi, Minggu (6/2).
Alex yang saat ini sedang berada di lokasi untuk memimpin pengamanan itu, juga menjelaskan awalnya masyarakat setempat berkeinginan mengusir Jamaah Ahmadiyah dibawah kepemimpinan Parman. Warga, kata dia, sebelumnya telah meminta Parman membubarkan jemaah dan tidak menyebarkan ajaran Mirza Ghulam Ahmad tersebut.
"Ketika diminta membubarkan Ahmadiyah, Parman malah mengatakan, 'lebih baik mati dari pada membubarkan diri'," kata Kapolres.
Namun beberapa hari lalu, ketika suasana mulai memanas, Parman bersama instrinya dan Atep yang menjadi Sekretaris Jamaah Ahmadiyah Cikeusik meminta perlindugan ke Polsek Cikeusik. "Setelah Parman diamankan situasi kembali tenang, tapi tadi pagi datang Jamaah Ahmadiyah dari Jakarta sekitar 20 orang, dan mengeluarkan pernyataan siap mempertahankan Ahmadiyah sampai titik darah penghabisan," katanya.
Mendengar pernyataan itu, masyarakat yang sudah tenang pun terbakar emosinya dan akhirnya berupaya mengusir paksa Jamaah Ahmadiyah itu, sehingga terjadinya insiden tersebut. Kapolres juga menjelaskan, akibat insiden tersebut satu unit kendaraan roda empat dibakar massa, satu unit mobil APV dimasukan ke dalam jurang dan satu unit rumah dirusak.
Enam Tewas
Sebanyak enam orang anggota Jamaah Ahmadiyah, meninggal akibat bentrokan tersebut. "Yang saya lihat ada enam orang yang meninggal, dan seluruhnya dari Jamaah Ahmadiyah," kata Lukman tokoh masyarakat Cikeusik ketika dikonfirmasi, Minggu.
Lukmah menjelaskan, seluruh korban meninggal itu tidak diketahui identitasnya karena tak memiliki kartu identitas, namun seluruhnya berasal dari luar daerah dan merupakan Jamaah Ahmadiyah. Sementara satu orang warga Desa Umbulan, Sarta, mengalami luka bacok pada lengah kanannya. "Lengan kanan Sarta hampir putus dibacok oleh anggota Jamaah Ahmadiyah," kata Lukman.
Lukman juga menjelaskan, sebenarnya warga tidak bermaksud melakukan kekerasan. Masyarakat hanya ingin agar Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik pimpinan Parman membubarkan diri. "Warga ingin Ahmadiyah itu membubarkan diri karena sudah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), tapi permintaan itu abaikan oleh mereka," katanya.
Menurut Lukman, pada Sabtu malam, puluhan anggota Jamaah Ahmadiyah dari Kota Bogor tiba di Cikeusik dengan menumpang dua kendaraan roda empat, dan menginap di rumah Parman. Pada Minggu pagi, sekitar seribuan warga dari berbagai daerah, di antaranya berasal dari Kecamatan Cibaliung, Cikeusik Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak mendatangi rumah Parman.
Saat massa tiba, puluhan Jamaah Ahmadiyah yang berada di rumah Parman sudan siap dan mereka membawa berbagai jenis senjata tajam, seperti samurai, parang dan tombak. Sesaat kemudian, kata Lukman, salah seorang anggota Jamaah Amhadiyah membacok lengan kanan Sarta hingga nyaris putus.
"Pembacokan inilah yang memicu bentrokan. Warga marah karena melihat lengan kanan Sarta nyaris putus," kata Lukman. []
© republika
Masuk: 06 Feb 2011 (13:41 UTC+07) | edit terakhir: 06 Feb 2011 (13:43 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi