| Lintas Agama lainnya |
Vatikan juga mendukung pernyataan Uskup Swiss yang mengkritik hasil referendum itu karena memperumit "masalah hidup berdampingan antar agama dan budaya". Imam Besar Mesir Ali Gomaa menggambarkan larangan itu sebagai penghinaan terhadap perasaan komunitas Muslim di Swiss dan negara lain.
Menteri Luar Negeri Perancis Bernard Kouchner menyatakan kaget dengan larangan yang menurutnya, memperlihatkan "perasaan tidak toleransi" dan harus diubah.
Hasil referendum hari Minggu itu menyebabkan para pemimpin sekular Eropa kecewa. "Saya agak terkejut dengan keputusan itu," ujar Kouchner seperti dikutip radio RTL Perancis. "Ini perilaku tak toleran dan saya membenci perilaku itu. Saya berharap Swiss segera mengubah keputusan itu dengan segera."
Lebih dari 57,5% suara dan 22 dari 26 provinsi mendukung larangan pembangunan menara mesjid itu dalam referendum hari Minggu. Usul itu diajukan oleh Partai Rakyat Swiss, SVP, yang merupakan partai terbesar di parlemen, dan menyatakan menara mesjid ini merupakan tanda Islamisasi.
Pemerintah Swiss sebelumnya menentang larangan itu dengan menyatakan langkah itu akan membuat jelek citra Swiss terutama di dunia Islam.
Hasil referendum ini adalah kabar buruk bagi pemerintah Swiss yang khawatir akan terjadi kerusuhan di komunitas Muslim negara itu. Warga Swiss memang prihatin dengan peningkatan jumlah imigrasi - dan juga kebangkitan Islam - dan mereka tidak mengindahkan permintaan pemerintah.
Pemerintah Swiss mengatakan menerima hasil referendum dan tidak akan lagi mengeluarkan izin pembangunan menara mesjid baru.
Kecaman Media
Media massa Swiss pada Senin juga menyatakan keprihatinannya atas rusaknya citra negara itu setelah referendum yang mendukung pelarangan pengadaan menara masjid.
Suratkabar Le Temps mengatakan pemungutan suara dalam referendum itu "diinspirasi oleh ketakutan, dan merusak citra Swiss di mata internasional. "Balas dendam, boikot dan kebencian dari masyarakat dunia Islam terhadap Swiss bakal tak terhindarkan, dan ini terlalu mahal harganya," tulis harian Jenewa itu.
"Sejumlah orang akan merasakan trauma atas krisis ini dan bakal menimbulkan protes penuh kebencian atau ketidakpercayaan terhadap Swiss. Ini akan menjadi bom waktu," tulis koran itu.
Harian Lausanne juga menegaskan kekhawatirannya bahwa pelarangan itu akan berdampak negatif terhadap ekspor dan industri keuangan negara. Surat kabar Le Journal du Jura menjuluki referendum pada Minggu itu sebagai "ketakutan yang berlebihan."
Sementara itu, surat kabar La Liberte of Fribourg mengomentari pelarangan menara itu sebagai "ketakutan berlebihan yang dikaitkan dengan Islamisasi di negara itu." Surat kabar Zurich, Tagesanzeiger mengatakan negara itu telah terbagi antara "modern-intenesionalis" di satu pihak, dan tradisional-nasionalis di pihak lain. Disebutkan, referendum tersebut akan memperdalam isolasi internasional terhadap Swiss.
Senada dengan media massa, kalangan pengusaha Swiss juga mengatakan keputusan itu merugikan sikap internasional Swiss dan dapat merusak hubungan dengan negara Muslim serta penanam modal kaya yang melakukan transaksi perbankan, bepegian dan berbelanja di sana.
Omar Ar-Rawi, wakil integrasi Islamic Domination di Austria, juga menyatakan kekecewaannya atas sikap itu dan menilai bahwa Swiss telah gagal memberi tanda yang jelas mengenai keragaman, kebebasan beragama dan hak asasi manusia.
Umat Muslim di Swiss dan sejumlah negara menilai referendum tersebut sebagai bias dan anti-Islam. [nuo]
Masuk: 01 Des 2009 (13:25 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi