| Lintas Agama lainnya |
"Kami sudah kantongi identitas pelakunya. Tak hanya ciri-cirinya, nama dan rumahnya sudah kami berikan kepada polisi. Tapi hingga kini mereka tak pernah ditangkap," kata Hadun kepada Tempo, Jumat, 30 Desember 2011. Masih berkeliarannya delapan orang itu, kata Hadar, membuat pengikut Syiah di Sampang terus ketakutan.
Bahkan, kata dia, aksi perusakan bisa muncul kembali lantaran penggeraknya masih bisa ke mana-mana, termasuk kemungkinan melarikan diri. Berdasarkan dokumen yang dimiliki Ahlul Bait, kerusuhan di Sampang mulai marak sejak 2007.
Penggeraknya yang berjumlah delapan orang selalu menebar ancaman. Padahal, kelompok Syiah sudah berusaha mengajak dialog, namun selalu ditolak. "Sejak 2007 kami sudah melapor ke polisi, tapi tidak ditanggapi," ungkap dia sembari menyimpulkan pembakaran sarana ibadah pada Kamis lalu akibat pembiaran aparat keamanan.
Apabila kondisi ini terus menghantui penganut Syiah, Ahlul Bait terpaksa membawa kasus ini ke pengadilan hak asasi manusia internasional. "Pimpinan kepolisian akan kami adukan," kata Hadar.
Saat ini, dia menjelaskan, warga Syiah mengungsi ke sejumlah tempat yang sangat memprihatinka di Polres Sampangn. Pada Kamis malam mereka dikumpulkan di sebuah ruangan kecil. Kondisinya agak lumayan setelah mereka dipindak ke GOR Sampang. Hanya saja sarana mandi cuci dan kakusnya tidak ada.
"Sebagus apapun tempatnya, masih enak di rumah sendiri. Kita tetap desak polisi segera menangkap para tersangka sehingga kami segera bisa pulang ke rumah," pungkas Hadun.
Kasus pembakaran pesantren Islam Syiah itu berlangsung sekitar pukul 10.00 pada Kamis lalu. Sekitar 30 orang penghuni berusaha menghalangi perusak, namun gagal karena jumlah mereka kalah banyak.
Pengasuh Pesanten Tebu Ireng, Jombang, Sholahuddin Wahid, mengatakan keberadaan penganut Syiah di Sampang merupakan hak warga. Setiap penduduk Indonesia punya hak untuk hidup di mana saja sesuai aturan yang ada. Karena itu, jika keberadaan mereka sah, harus dilindungi.
Namun, kata dia, untuk lebih amannya dan menjaga keselamatan, dia menyarankan warga Syiah untuk pindah. "Perpindahan harus secara sukarela, tidak boleh dipaksakan," ujarnya.
Idealnya, menurut Gus Solah, panggilan adik mantan presiden Abdurrahman Wahid ini, antara penganut Sunni dan Syiah dapat hidup berdampingan dan saling menghormati. Kuncinya sekarang ada oada aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Sampang.
Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Miftach menambahkan, kekerasan antara kelompok yang mengatasnamakan Sunni dan Syiah di Sampang sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Hal ini disebabkan karena ketidakcocokan di antara keduanya. Dia menilai aparat keamanan telah kecolongan.
Pernah Dipaksa Pindah
Sebelum terjadi pembakaran sarana pesantren Islam Syiah di Sampang, Jawa Timur, penganut paham yang berjumlah 253 orang itu sempat dipaksa untuk pindah tempat. Tempat yang dipilih adalah Malang.
"Saat kejadian Pak Tajul Muluk (pimpinan Syiah di Sampang) dan beberapa orang sedang berada di Malang. Pak Tajul bilang mereka sebenarnya sudah berniat pindah ke Malang," kata Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Jawa Timur, Edy Purwinarto, Jumat, 30 Desember 2011.
Di Malang inilah, rencananya para pengikut Syiah itu berharap mendapatkan ketenangan dalam menjalan ritual peribadatan mereka. Dengan alasan khawatir menimbulkan gejolak, Edy enggan merinci lokasi persis kelompok ini di Malang.
Pengrusakan sarana Syiah terjadi Kamis lalu oleh kelompok orang yang mengatasnamakan memiliki paham Sunni. Kejadian itu berlangsung di Dusun Nangkreng, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.
Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, masalah keyakinan yang menyebabkan terjadinya perusakan tempat peribadatan hanya bisa diselesaikan oleh para ulama. "Pemerintah tidak bisa masuk keyakinan, ini domainnya MUI, tokoh NU dan Muhammadiyah," kata Soekarwo.
Apalagi, kata dia, Syiah selama ini diakui tak bertentangan dengan kaidah Islam secara umum. Sehingga, menurut Soekarwo, tak bisa diterapkan proses pelarangan sebagaimana yang telah dilakukan kepada aliran Ahmadiyah.
Meski begitu, solusi terdekat yang dilakukan pemerintah, yaitu dengan melokalisir pengikut Syiah di suatu lokasi. Saat ini mereka ditempatkan di Gelora Olahraga di Sampang. "Solusi jangka panjangnya, kami serahkan ke MUI dan para ulama," imbuhnya.
Koordinator Pembela Hukum Ahlul Bait Indonesia (pembela kelompok Syiah), Muhammad Hadun Hadar, membantah kliennya akan pindah ke Malang. Dia menuturkan, wacana kepindahan merupakan upaya pemaksaan yang dilakukan pemerintah setempat kepada kelompok Syiah.
"Pada Oktober 2011 lalu, Kiai Tajul dipaksa menandatangani perjanjian untuk mengungsi sementara ke Malang selama setahun. Pemerintah menjamin selama di pengungsian rumah maupun masjid milik kami akan dijaga. Tapi faktanya, meskipun Kiai Tajul sudah di Malang, tetap saja rumah dibakar," kata Hadun Hadar.
Merasa dikhianati, kelompok Syiah saat ini mengaku tetap akan mempertahankan rumah maupun tanah mereka di Sampang dan sudah tak mau lagi dipaksa untuk pindah ke Malang. Apalagi di Malang kawasan yang dijanjikan juga tak jelas kepemilikanya. []
Masuk: 30 Des 2011 (18:34 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi