| Lintas Agama lainnya |
Dia menjadi salah satu peserta pertemuan para penulis yang berlangsung di Ubud, Bali. Dalam satu forum Ubud Writers & Readers Festival 2010, Jumat (8/10), menjawab pertanyaan wartawan, dia menyatakan pendapatnya tentang Indonesia yang tampaknya semakin tidak toleran, terutama dengan sepak terjang FPI.
Menurut Barton, ada dua hal. Pertama adalah, itu gerakan minoritas. Apa yang mereka pelajari dari demokrasi adalah, jika mereka bergantung pada daya tarik, mereka kalah dari segi angka. Jadi mereka berjuang untuk memenangkan jumlah orang dengan gerakan-gerakan massal.
Dan yang kedua adalah aspek provokatif. Sama seperti gerakan Tea Party di Amerika Serikat, ini adalah upaya minoritas untuk membawa perubahan. Contohnya juga seperti Pendeta Terry Jones yang berencana membakar Qur'an. Ini hanya satu gereja dengan 50 orang jemaat. Dengan menentukan tanggal dan jam pembakaran, tiba-tiba ada Menteri Pertahanan dan Gedung Putih menelepon mereka dan meminta, tolong jangan lakukan itu.
Dengan menjadi bully yang penuh kebencian mereka mendapat perhatian. Dan terhadap bully, yang harus kita lakukan adalah kita berani melawan pada mereka, dan tidak memberi penghargaan atas apa yang mereka lakukan.
Sedangkan yang terjadi sekarang, menurut Barton adalah, tidak ada kepemimpinan yang berani melawan mereka. Presiden membuat kesalahan dengan mendengarkan MUI, yang bukan sebuah badan otoritas, tapi sebuah majelis dan yang sedang dibajak oleh sekelompok minoritas, tentang pembakaran masjid-masjid Ahmadiyah. Dan dia (Presiden) juga membuat kesalahan dengan tidak melakukan sebuah aksi tegas.
Mereka (kelompok minoritas) sedang mencoba memenangkan pengaruh dengan menjadi liar, menjajaki seberapa jauh yang bisa mereka lakukan dan bisa lolos dari konsekuensi. Yang paling tepat dilakukan adalah untuk menanggapi tantangan mereka. Bahwa mereka melakukan hal-hal yang tidak dapat diterima, dan ini tidak bisa berlanjut. []
© Reformata
Masuk: 12 Okt 2010 (17:12 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi