| Lintas Agama lainnya |
''Saya mengatakan bergolak bukan berarti negara yang diundang tersebut sedang bergolak, atau banyak terjadi kekerasan, tapi maksudnya negara-negara itu dihuni oleh kelompok-kelompok yang banyak melakukan kekerasan,'' tegas Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, dalam konferensi pers di kantor PBNU Jakarta, Rabu (16/12).
Rencananya 100 ulama dan cendekiawan akan hadir antara lain dari Iran, Mesir, Syiria, Lebanon, Libya, Irak, Palestina, Jordan, Malaysia, Thailand, Philipina, dan Singapura.
Lebih lanjut dikatakan kiai Hasyim bahwa beberapa negara yang diundang tersebut dihuni oleh kelompok-kelompok garis keras. NU akan menyumbangakan pikiran-pikirannya bagaimana proses moderasi dalam menghadapi kelompok-kelompok keras itu.
''Misalnya antara kelompok Syiah dan Sunni di Irak, Hamas dan Fattah di Palestina, Taliban dan kelompok-kelompok garis keras di Pakistan dan antar kelompok-kelompok garis keras di Mesir,'' tutur kiai Hasyim.
Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia akan diselenggarakan oleh International Conference of Islamic Scholars (ICIS) PBNU ini merupakan bagian dari kegiatan Muktamar ke-32 NU. Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia ini diagendakan akan akan dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto.
''Ini maknanya bahwa apapun yang terjadi di lingkup internasional akan berpengaruh bagi Indonesia. Menko Polhukam kita harapkan terlibat dalam diskusi- diskusi ini agar dapat memperkirakan arus-arus dari lingkup internasional ini, baik liberal maupun garis keras yang masuk ke Indonesia,'' tegas kiai Hasyim.
Dalam konferensi ini PBNU juga telah mengundang Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa. Para tokoh pergerakan yang hadir diharapkan banyak memberikan masukan kepada Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia. ''Selama ini Deplu negeri hanya menerima masukan dari pejabat-pejabat negara. Padahal di negara yang bergolak, pemimpin pergerakan tidak selalu selaras dengan kebijakan negaranya,'' tandasnya.
Konferensi ini juga dipastikan akan dihadiri oleh Menteri Agama RI Suryadharma Ali. Menurut Hasyim, berbagai gerakan keagamaan yang ada di Indonesia mempunyai akar internasional yang harus dicermati oleh Departemen Agama. ''Kita juga mengundang Menteri Agama agar di dalam melakukan kegiatan keislaman lintas ormas dan lintas agama juga mempunyai dokumen dan memori internasional yang sebaik-baiknya,'' paparnya. [nuo]
Masuk: 16 Des 2009 (19:50 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi