| Lintas Agama lainnya |
Aksi memprotes rencana gereja The Dove World Outreach Center (DWOC) pimpinan Pastor Terry dan Sylvia di Gainesville membakar al-Qur'an tepat pada peringatan tragedi 9/11 hari ini, banyak menuai protes. Sampai Presiden SBY pun ikut serta dalam aksi penolakan dengan cara mengirim kepada Presiden Amerika Serikat, Obama. Aksi serupa bermunculan di berbagai media nasional dan asing. Umat Islam pun dibuat geram.
Namun berbeda di kampung pesantren, tepatnya di Buntet Pesantren Cirebon. Aksi bakar quran sudah kerap dilakukan, dan seringkali menjelang lebaran Idul Fitri atau hari-hari lain.
Bagaimana itu bisa terjadi, mari saya ajak Anda untuk memasuki wilayah kampung pesantren ini.
Di pesantren yang didirikan cukup tua ini terdapat lebih dari 40 pondok dalam satu kampung. Di dalamnya berbaur masyarakat antara keluarga kyai, santri dan warga sekitar. Perpaduan pesantren yang bercampur dengan warga ini membuat sulit membedakan mana santri dan mana warga asli.
Nah, saat menjelang lebaran, warga pesantren ini sudah terbiasa mempersiapkan segala sesuatu menjelang lebaran, termasuk mengecat rumah, menyiapkan kue lebaran dan kesibukan yang paling penting adalah bersih-bersih rumah.
Al quran di kampung pesantren ada banyak terdapat di masjid, mushola, kamar-kamar asrama. Qur'an ini sudah menjadi menu bacaan setiap hari. Ada yang sebulan sekali membaca Qur'an, ada yang sehari dua juz dan ada pula yang terbiasa menghatamkan setiap seminggu sekali. Hal ini rutin dilakukan baik oleh santri, keluarga kyai mapun warga buntet sendiri.
Tentu saja Qur'an yang sehari-hari dibaca itu menjadi lapuk karena sering dijamah oleh tangan pembacanya, dibolak-balik. Kondisi Qur'an yang rusak sering kali berceceran, sobek dan lusuh. Saat itulah buku-buku agama, Bukan saja al-Qur'an, kitab-kitab gundul (kitab kuning) dan buku-buku agama juga mengalami kondisi lapuk dan pada sobek-sobek.
Nah, itulah saat beres-beres tempat menjelang lebaran ini, buku-buku yang tidak dipakai, kitab dan al-Qur'an dikumpulkan dan digabung menjadi satu. Selanjutnya disiram dengan bensin, dan disulut dengan api. Itulah aksi pembakaran al-Qur'an di pesantren.
Kaum santri percaya bahwa al-Qur'an itu adalah kitab suci dan menyentuhnya harus suci. Karenanya, ceceran kertas Qur'an itu jangan sampai terinjak oleh kaki. Untuk menyelamatkannya maka jalan yang terbaik adalah dibakar. Jadi aksi bakar Qur'an itu adalah justru untuk menyelamatkan nash al-Qur'an itu sendiri. []
© Kurtubi (Kompasiana)
Masuk: 11 Sep 2010 (15:03 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi