| Lintas Agama lainnya |
Stereotip negatif tentang Islam yang kerap diekspose sebagian media itu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam di Australia. Cara ampuh yang dilakukan komunitas Muslim Australia untuk mematahkan stereotip negatif tentang Islam adalah melalui dialog lintas iman.
Sejatinya, pemerintah Australia telah berupaya untuk merangkul orang, agama, dan bahasa dari setiap sudut dunia. Pemerintah negeri Kanguru pun telah bertekad untuk memajukan toleransi antarmasyarakat. Namun, pemberitaan media yang bias terhadap Islam membuat upaya itu sedikit terhambat.
Simak saja pernyataan spontan dari Dr Brian Douglas, seorang tokoh Gereja Anglikan di Canberra tentang persepsinya mengenai Islam Indonesia yang dibacanya dari media-media Australia. "Yang saya tahu soal Islam di Indonesia lewat media adalah Jamaah Islamiyah," tutur Douglas. Ia pun mengakui bahwa sebagian media di Australia masih bias dalam memberitakan soal Islam.
Editor The Canberra Times, Roderick Quinn, mengatakan tak semua media di Australia menggambarkan Islam secara buruk. Menurutnya, Canberra Times selalu menjauhi stereotip pada pemberitaannya. Surat kabar yang telah berusia puluhan tahun itu, lanjut dia, selalu memberitakan Islam secara berimbang.
Pandangan buruk terhadap Islam kian menjadi-jadi setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001 (9/11). Namun, menurut Prof Abdullah Saeed, direktur National Centre of Excellence for Islamic Studies pada Universitas Melbourne, peristiwa itu justru menjadi berkah tersendiri bagi umat Islam di Australia.
"Sejak peristiwa itu terjadi, dialog lintas iman di Australia justru kian meningkat. Keingintahuan orang Australia terhadap Islam pun bertambah," tuturnya. Sebelum peristiwa 9/11 terjadi, kata dia, sangat jarang orang Australia membicarakan masalah agama. Apalagi, 25 persen penduduk negara itu tak beragama.
Rowan Gould, anggota Islamic Council of Victoria, juga mengakui setelah peristiwa 9/11 orang Australia mencoba mencari tahu tentang Islam. "Buku-buku tentang keislaman terjual lebih banyak setelah peristiwa itu," tuturnya. Dialog antarumat beragama pun terjalin semakin intensif.
Dialog antarkomunitas umat beragama di kawasan Victoria meliputi Springvale, Dandenong, Keysborough, dan Noble Park bahkan terjadi semakin harmonis. Para pemuka agama Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Baha'i, dan Sikh secara rutin berkumpul dan berdialog untuk menyamakan pandangan tentang pentingnya menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.
"Lewat dialog lintas iman ini, kami mendorong setiap umat beragama agar lebih toleran dan menghilangkan praduga, sehingga kota ini (Dandenong) bisa terus damai," papar Helen Heath, presiden Interfaith Network, di kota Dandenong.
Lewat dialog lintas iman, para pemuka dan komunitas umat beragama di wilayah itu biasa melakukan pertemuan. Setiap pemeluk umat beragama pun saling mengunjungi tempat ibadah agama lain. "Kami juga terlibat dalam perayaan acara-acara komunitas, seperti perayaan Harmony Day," tutur Heath.
Di Australia pun ada kebiasaan saling mengunjungi antara sekolah yang dikelola komunitas umat beragama. Cara ini terbukti efektif untuk 'membunuh' prasangka buruk terhadap agama lain. Para siswa pun menjadi lebih memahami perbedaan dan persamaan agama yang dianutnya dengan agama lain.
Kesadaran untuk membangun dialog lintas iman juga mulai tumbuh di kalangan umat Kristen di Australia. Direktur Eksekutif Uniting Church Australia, David Pargeter, mengatakan, pihaknya kerap melakukan dialog dengan lembaga Islam di Victoria. Menurut Pargeter, pihaknya juga berupaya menghilangkan prasangka terhadap agama lain dengan cara mendidik keluarga Kristen.
Pada 2005 dan 2006, pemerintah Australia telah mencanangkan Rencana Aksi Nasional untuk membangun di atas kohesi sosial, keserasian, dan keamanan. Akhir tahun ini, Parlemen Agama Dunia akan digelar di Melbourne, Australia.
Heath, yang juga menjadi community organizer Parlemen Agama Dunia, mengatakan, acara yang akan digelar pada Desember 2009 itu akan diikuti 8.000 hingga 12 ribu perwakilan umat beragama dari seluruh dunia. Melbourne dianggap sebagai tempat yang ideal untuk menyelenggrakan pertemuan antaragama terbesar di dunia itu. [Rep]
Masuk: 19 Jun 2009 (13:37 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi