| Lintas Agama lainnya |
"Rusaknya akhlak dan moral generasi muda dan maraknya aliran sesat itu menunjukkan kekosongan dakwah yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang," kata Suryadharma Ali di hadapan ribuan ibu-ibu majelis taklim yang memadati Istora Senayan, saat peluncuran program Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji (Gemmar Mengaji) di Istora Senayan, Jakarta, Rabu.
Munculnya berbagai macam aliran sesat dan sempalan di Indonesia ini tidak lepas dari kekosongan dakwah di masyarakat, karena itu revitalisasi pendidikan agama berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu berkesinambungan, katanya.
Untuk itu, Suryadharma mengajak seluruh komponen untuk hijrah dari fanatisme golongan dan mahzab, dan mencegah permusuhan di antara umat.
"Kebebasan dalam bergama, itu harus ada batasnya. Kebebasan, tidak boleh menghina dan mengacak-acak kitab suci agama lain. Nabi terakhir adalah Muhammad, dan tidak ada lagi nabi. Begitu juga kitab suci al-Quran," kata Suryadharma Ali.
"Maka program Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji itu untuk cegah masuknya paham ajaran sesat dan mencegah rusaknya akhlak generasi muda," ungkap Menteri Agama Suryadharma Ali.
Suryadharma Ali mengatakan program Gemmar Mengaji ini perlu didukung oleh semua pihak. Program ini merupakan terobosan untuk memperbaiki akhlak umat.
Selain itu, dengan program ini diharapkan agar generasi muda sejak dini betul-betul paham ajaran agamanya. "Selain masalah kemiskinan, dan SDM, ada miskin akhlak. Semua pihak ambil peran masing-masing untuk selamatkan akhlak kita," katanya.
Di tempat sama, Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama Nasaruddin Umar mengatakan kegiatan ini akan dicatat dalam sejarah Indonesia yaitu menumbuhkan kembali masyarakat untuk mengaji.
Umat Islam bisa capai jumlah yang besar dan terpadat di Indonesia, namun dalam dua dekade ini gerakan mengaji mengalami kelesuan. Penyebabnya, ungkap Nasaruddin, kemungkinan karena adanya perubahan sosial di masyarakat.
"Kita sekarang jarang mendengar teriakan mengaji anak-anak di masjid, tradisi positif ini bisa hilang. Maka kita gaungkan kembali tradisi positif ini," kata Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin gerakan ini akan dilakukan di seluruh Indonesia. Untuk langkah awal, Kementerian agama melakukan Gemmar Mengaji ini di enam provinsi sebagai daerah percontohan. Enam provonsi, yakni DKI, Jabar, Jateng, Jatim, Banten, dan DIY.
Lebih lanjut, Nasaruddin pun mengatakan ada 800 ribu masjid/musholla yang akan menyemarakan pengajian badha magrib hingga isya ini.
Selain itu, Kementerian Agama pun menggerakan 95 ribu penyuluh di seluruh pelosok tanah air. Para penyuluh itu membentuk minimal tiga majelis taklim. Sehingga, minimal saat ini ada 496.000 majelis taklim di Indonesia.
Sebanyak 300 ribu guru-guru agama dan 50.000 pondok pesantren pun akan dilibatkan dan mendukung gerakan ini.
Peluncuran program Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji di Istora Senayan sempat diisi tausiah dari Pimpinan Majelis Taklim Attahiriah, Suryani Tahir. Kelompok muslim gambus turut menyemarakan acara yang dihadiri ribuan kelompok pengajian yang mengenakan pakaian serba putih. []
© Kompas
Masuk: 31 Mar 2011 (08:10 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi