| Lintas Agama lainnya |
Acara ini dihadiri tidak kurang dari 150 orang masyarakat Indonesia yang ada di Qatar. Mereka mewakili masyarakat Islam, Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu serta perkumpulan lainnya seperti Dharma Wanita Persatuan dan Ikatan Alumni ITB.
Dalam sambutannya Dubes RI untuk Negara Qatar, HM Rozy Munir mengatakan bahwa Gus Dur layak menyandang predikat Guru Bangsa karena keteladanannya dalam memperjuangkan hak-hak asasi manusia, membela kaum minoritas, mengajarkan untuk saling menghormati dalam perbedaan serta memegang teguh Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan. Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun menyebutnya sebagai Bapak Pluralisme dan kulturalisme di Indonesia.
Rozy Munir yang pernah jadi menteri BUMN dalam kabinet Gus Dur bertutur cerita kedekatannya dengan Sang Guru Bangsa semasa menjabat presiden maupun ketua umum PBNU. Gus Dur adalah sosok yang sederhana, jujur, apa adanya, toleran dan dermawan, pungkas Rozy Munir.
Nugroho perwakilan dari Kristen menyampaikan testimoninya dengan judul “Apa kata Alkitabku tentangmu Gus”. Jonet perwakilan dari Katolik membacakan kesaksiannya dengan judul “Suara Kenabian di hidup Gus Dur”, kemudian rekannya Sanggam membacakan belasungkawa Paus Benediktus XVI,
“Ya Allah yang Maha Kasih, kami telah kehilangan negarawan yang sangat besar, yang mengajarkan pluralisme. Kau panggil bapak kami Abdurrahman Wahid yang selalu mengajarkan perdamaian. Bangsa ini membutuhkan beliau”.
Iskandar Aguslim perwakilan dari umat Buddha menyampaikan kekagumannya kepada Gus Dur yang fasih bicara tentang agama Buddha. Sedang Abdul Basit dari KMNU Qatar dengan semangatnya mengajak untuk meneladani Gus Dur dan memahami ajaran-ajarannya.
Acara yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan pembacaan puisi oleh ketua umum Permiqa (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar). [nuo]
Masuk: 10 Jan 2010 (12:43 UTC+07) | edit terakhir: 10 Jan 2010 (12:45 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi