| Lintas Agama lainnya |
Berawal dari Keresahan
Angin perbukitan membuat suasana siang hari itu terasa sejuk, ketika saya memasuki pintu gerbang kompleks Yayasan Soko Tunggal, di kawasan Sendang Guwo, Semarang, Jawa Tengah. Di sini terdapat kampus Akademi Soko Tunggal, Pondok Pesantren Soko Tunggal, serta masjid yang dikenal sebagai Masjid Soko Tunggal, alias hanya ditopang satu tiang di tengah.
Yayasan Soko Tunggal identik dengan Nuril Arifin, kiai eksentrik yang merupakan murid setia tokoh NU, almarhum Kiai Haji Abdurrahman Wahid. Sedianya saat itu saya dari Jakarta menuju Semarang untuk menjumpai Gus Nuril. Namun ternyata Gus Nuril yang kerap dipanggil Abah ada keperluan mendadak di Jakarta. Saya pun ditemui Kisno Tantowi, wakil yang ditunjuk Gus Nuril.
“Sejak 1998 akhir saya bertemu dengan Gus Nuril di suatu tempat. Lalu saya disuruh ikut ngaji dengan Gus Nuril. Sampai sekarang. Saya sudah 11 atau 12 tahun ikut Gus Nuril. Sejak SMA sampai sekarang. Saya sebagai ketua umum pesantrennya. Kalau bahasa pesantren itu mungkin lurah."
Pesantren Soko Tunggal ini menjadi saksi tempat pertemuan sejumlah tokoh lintas agama di Semarang, Jawa Tengah. Para tokoh agama itu berkumpul pasca kasus perusakan tempat ibadah pada Juli 2005. Saat itu bangunan milik Gereja Isa Almasih Pringgading di Karangroto Jawa Tengah luluh lantak diamuk massa yang mengatasnamakan umat Islam. Massa itu mempersoalkan pendirian rumah ibadah yang dianggap ilegal.
Kisno Tantowi mengatakan, “Kemudian ada tokoh Nasrani namanya Pak Pendeta Gunarto melapor ke Gus Dur. Oleh Gus Dur, Pak Gunarto diminta menghubungi Gus Nuril. Lalu Abah mengundang tokoh-tokoh agama di seluruh Semarang untuk berkumpul. Waktu itu sepakat mendirikan forum, ikatan. Tujuannya, kalau ada masalah-masalah seperti lintas agama, jangan kita masuk atas nama pribadi, tapi atas nama organisasi. Waktu itu sepakat membentuk Forkhagama, Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama, pada akhir 2005. Setelah berdiri Forkhagama, kita bisa mengatasi friksi-friksi, seperti di gereja di Karangroto dan lain-lain.”
Pendeta Gunarto adalah salah satu tokoh agama Kristen di Semarang. Ia mengasuh Sekolah Tinggi Teologi Abdiel di Ungaran, Jawa Tengah. STT Abdiel berada di bawah naungan Sinode Geraja Isa Almasih, yang dirusak massa waktu itu.
"Bersama sahabat saya Nuril itu, glenak-glenik berdua. 'Piye yo Gun, bangsa ini dipikirkan bersama oleh agama-agama bersama. Jadi agama tidak jadi momok menakutkan, tapi jadi kasih yang mengikat persaudaraan. Awalnya begitu, ngobrol berdua. Terus saya bilang, ‘Berani Gus? Berani! Kowe wani Gun? Wani’. Terus kami bersalaman, nekad. Kami berbagi gagasan. Dia mengambil jalur itu, saya mengambil jalur akademis.”
Gunarto mengaku mempunyai cita-cita yang sama dengan Gus Nuril soal keberagaman.
"Memang dari dulu, saya dengan Gus Nuril punya keinginan itu. Punya keinginan mendirikan pesantren multiagama, ciri khas bhinneka tunggal ika, ciri khas Indonesia.”
Menyiapkan Pesantren
Salah satu sudut lahan persawahan di Mijen, Semarang, yang rencananya akan dibangun Pesantren Multi Agama
Sebagai pengasuh pondok pesantren, gagasan Nuril Arifin tak jauh-jauh dari dunia pesantren. Ia menggagas pendirian Pesantren Multi Agama. Kepada saya, Gus Nuril menyebutkan gagasan itu didukung sepenuhnya para tokoh di forum para tokoh lintas agama, termasuk Gus Dur waktu itu.
"Pada waktu itu yang tanda tangan saya, Gus Dur, Pak Jenderal Tyasno Sudarto, kemudian wakil dari Katolik, kemudian Cik Cay Ing, kemudian Mas Gunarto sendiri…”
Lahan seluas dua hektar di kawasan Mijen, Semarang disiapkan. Lahan milik Gus Nuril itu dihibahkan untuk lokasi pendirian Pesantren Multi Agama. Gus Dur bahkan menghibahkan lahan yang cukup luas di daerah Cipularang Purwakarta, Jawa Barat.
"Di Cipularang, lahannya milik Gus Dur, sampai sekarang belum diserahkan kepada saya. Kalau di Sasak Panjang, Depok, itu bagus. Sejuk. Dan itu 20 hektar, dataran tinggi, air mengalir bagus. Tapi itu baru saya bebaskan tiga hektar. Itu nanti akan saya bagikan masing-masing agama. Dua hektar atau berapa. Lalu ada satu hektar untuk digunakan berbagai agama untuk pertemuan-pertemuan, nasional maupun internasional. Sekaligus jadi laboratorium penyelesaian masalah-masalah agama di Indonesia."
Nuril Arifin atau Gus Nuril serta Pendeta Gunarto atau Pak Gun merupakan beberapa orang yang termasuk nekad. Mereka hanya bermodal semangat dan mimpi untuk mewujudkan ide yang mereka akui setengah gila; membuat Pesantren Multi Agama.
"Pesantren multi agama itu kita kasih nama pesantren itu artinya tempat santri. Santri itu dari bahasa Hindu, cantrik, orang yang mencari ilmu. Tidak ada santri bahasa Arab. Kalau pondok, dalam bahasa Arab itu maknanya hotel. Santri itu bisa Kristen, bisa Hindu, Katolik, yang mencari ilmu di suatu tempat. Bisa sekolah tinggi teologi, bisa SMA, perguruan tinggi atau apa saja. Itu disebut pesantren multi agama. Tapi pengelolaannya mandiri. Jadi Hindu ya yang mengajar orang Hindu sendiri. Kita tidak akan campur tangan”, kata Gus Nuril.
Karena itu, tak ada tokoh-tokoh agama di Semarang yang keberatan dengan penggunaan istilah pesantren. Para tokoh lintas agama itu satu suara, untuk menjaga Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, menurut cara mereka.
“Pesantren multi agama atau laboratorium nasional religius ini dibutuhkan untuk bangsa yang besar. Karena untuk 10-20 tahun ke depan, kalau pesantren ini tidak jadi, saya tidak yakin Pancasila masih menjadi asas dan dasar negara kita. Kalau itu terjadi dengan sendirinya Indonesia sudah bubar. Karena sekarang dengan vulgar semua partai mengedepankan asas sendiri, ada partai kristen, katolik, partai Islam, kiri, sosialis. Ini kan tidak sesuai dengan asas Pancasila. harusnya tetap berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang asli. Bahwa ciri khususnya adalah Islam atau Kristen, itu tidak masalah. Tapi koridornya tetap sama, pancasila."
Kendala Menghadang
Gus Nuril begitu bersemangat membicarakan gagasan mendirikan Pesantren Multi Agama. Ia bahkan sudah menyiapkan rancangan gambar bangunan Pesantren Multi Agama.
"Saya sudah siapkan maketnya. Bentuk gambar, itu sudah ada. Nggak, itu dari saya sendiri, itu berdasarkan hati, pandangan langit. Lalu saya ajak ngomong Gus Dur. 'Ya sudah Gus praktikkan saja, itu sama dengan pandangan saya', gitu.”
Konsepnya adalah bangunan yang mencerminkan kebhinekaan, keberagaman umat.
"Kita beri nama misalnya Perkampungan Soekarno, Perkampungan Soeharto, Perkampungan Gus Dur, Perkampungan Megawati. Yang di situ semacam cluster, tidak ada ketertutupan pagar. Masing-masing punya ciri khusus, gereja misalnya. Ada pasarnya. Ada masjid, perguruan tinggi, ada pasarnya. Tapi ada lapangan khusus yang bisa digunakan bersama-sama. Di situlah kita bisa memberi contoh kehidupan yang harmoni ala Pancasila itu bagaimana."
Namun ada banyak kendala yang menghadang. Diantaranya masalah dana.
"Makanya, ini seharusnya menjadi pemikiran menteri agama sekurang-kurangnya, presiden sudah saya kemukakan tapi nggak ada responnya. Memang ide murni dari saya dan Gus Dur. Gus Dur sudah setuju waktu jadi presiden ingin membangun di kawasan Cipularang. Tapi Gus Dur sudah dipanggil Allah. Saya lagi mencari ke kanan ke kiri untuk mendapatkan foundation. Tapi ini sampai sekarang tidak ada. Kalau tanahnya sih sudah ada. Tinggal dibangun. Siapapun yang mau jadi pemimpin proyeknya silakan. Bagi saya yang penting ide penyelamatan bangsa ini bisa, sekaligus jadi mercu suar dunia."
Masalah dana juga dikeluhkan oleh tokoh umat Hindu dari Parishada Hindu Dharma Indonesia wilayah Semarang, Sri Rahayu Dewa. Selain itu warga yang tinggal dekat bakal lokasi pesantren itu
"Kalau membangun itu bisa. Carikan dana bisa. Tapi untuk pemeliharannya, siapa yang di sana. Yang ideal ya umat yang ada di sana. Kebetulnya di sana umat yang ada tidak mencerminkan komunitas lintas agama. Petani, peternak. Di samping itu, komunitas kita itu sedikit sekali di Semarang. Cuma 200 KK. Sebenarnya kita punya umat di Mijen, tapi lokasi tanah itu jauh dijangkau. Dan nggak ada kendaraan umum.
Sri Rahayu Dewa menilai, semangat untuk mendirikan Pesantren Multi Agama menurun pasca meninggalnya Kiai Abdurrahman Wahid. Sri menyambut baik pendirian Pesantren Multi Agama, namun ia pesimistis, pesantren itu bisa terwujud dalam satu dua tahun ini.
“Itu kalau hanya wacana, tanpa dukungan yang kuat, material, saya kok agak pesimistis ini bisa berjalan.”
Sang penggagas Pesantren Multi Agama Nuril Arifin memimpikan Pesantren Multi Agama itu bisa menjadi Taman Mini Indonesia Indah yang lain, yaitu yang mencerminkan keberagaman
"Kalau miniatur Indonesia sudah ada taman mini, ada sekian pulau di TMII. Tapi kan belum ada laboratorium religius, yang diakui secara benar, ada miniaturnya. Ada Kristen, katolik, Islam, Hindu, Budha, Protestan, Konghucu, kan belum ada. Ini kan titik rawan, jadi sumbu ledak yang luar biasa. Kalau partai gagal memimpin rezim akan meledakan kutub pendek untuk membikin kekacauan."
Jika Gus Nuril tengah berjuang mencari dana untuk pendirian Pesantren Multi Agama, sahabatnya Pendeta Gunarto berjuang melalui jalur lain. Sebagai seorang dosen, Gunarto mengupayakan pesantren multi agama agar bisa juga dilakukan melalui jalur akademik.
"Pesantren Multiagama itu kalau sukses ya bisa bersama-sama saling belajar. Misalkan, kami cetuskan di Korea, bersama Rektor UNDIP, supaya nanti di Indonesia ada perguruan tinggi yang membuka S2, Agama dan Filsafat. UNDIP setuju, IAIN Semarang setuju. Ijin dari Menteri itu nanti Agustus keluar. Itu realisasi dari Forkhagama. Itu nanti kami lewat jalur akademik, untuk membuktikan pesantren multiagama di situ di jalur akademik. Itu gagasan saya.
Langkah Pendeta Gunarto relatif lebih mulus dibanding Gus Nuril. Ia memperkirakan, tahun depan sudah ada jalur akademik perguruan tinggi yang membuka program multi agama.
"Tahun depan buka sudah. Agustus ini izin keluar. Kalau nanti jalur rakyat, lewat Forkhagama. Ada wilayah, di mana di sana ada model pesantren--ada tempat ibadah Hindu, Budha, agama yang lain. Tidak mencari kesamaan dalam arti sinkretisme, tapi menyadari perbedaan, tapi tetap bekerjasama dalam kasih, demi martabat manusia, demi kemuliaan Tuhan.
Saat ini Gus Nuril membagi waktunya untuk berkeliling mencari lembaga donor yang bersedia ikut membantu mendirikan Pesantren Multi Agama. Di sisi lain, ia juga mengasuh pondok pesantren dan akademi kebidanan Soko Tunggal di Semarang. Kisno Tantowi, salah seorang santri senior Gus Nuril mengatakan, di lingkungan Soko Tunggal, Gus Nuril dan para santrinya mendalami pemahaman lebih jauh tentang agama.
"Pesantren Soko Tunggal berasal dari majelis dan riyadhah, untuk ritual mendekatkan diri kepada Allah. Setelah itu harapannya, sifat kita itu berharap seperti Allah. Dari sifat itu, kalau kita sudah mempunyai sifat kasih sayang, apapun sektenya, agamanya, sukunya, dan lain-lain yang bermacam-macam itu, kita tidak kaget. Kita menganggap semua ciptaan Allah itu manusia saja. Tidak ada bedanya dengan kita."
Nia Kurniawati adalah salah seorang mahasiswi di Akademi Kebidanan Soko Tunggal. Meski ia beragama non-Islam. Ia sudah dua tahun kuliah di lingkungan pendidikan Gus Nuril.
“Saya Kristen, Unitarian. Tentang kehidupan beragama, saya tidak kuatir. Di sini terbuka dengan agama lain. Awal kuliah sempat di asrama. Setelah itu, karena ada di rumah ada renungan-renungan, lebih baik saya di rumah saja. Selama satu tahun, hari Jumat saya pulang. Hari Sabtu ada kebaktian raya, hari Minggu kesini lagi.”
Setiap mahasiswa Akademi Kebidanan Soko Tunggal, juga selalu mendapatkan mata kuliah lima agama selama satu semester pertama. Dan Gus Nuril pun berharap setiap agama di Indonesia bisa menyebarkan kasih sayang di dalam kehidupan sosial.
"Kita ini harus ada bentuk penjabaran, dalam Islam itu rahmatan lil alamin. Bahwa agama itu agama kasih. Agama kasih di dalam agama apapun itu pengejewantahannya adalah kesalehan sosial. Itu adalah bentuk dari khululiyyah, dari manunggaling kawulo gusti, mengaplikasikan sifat Rahman dan Rahim, kasih sayang dalam kehidupan sosial."
Meskipun, entah kapan Pesantren Multi Agama itu bisa terwujud. []
© KBR68H
Masuk: 11 Ags 2011 (23:15 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi