| Lintas Agama lainnya |
"Wajar, kami menghendaki pimpinan nasional yang akomodatif (terhadap Islam) karena Islam sebagai mayoritas. Dari sembilan poin kriteria, kami menekankan pentingnya pemimpin nasional dari mereka yang secara proporsional akomodatif terhadap aspirasi umat Islam," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin di PP Muhammadiyah Jln. Cik Di Tiro Yogyakarta, Rabu (27/5).
Kriteria pasangan presiden-wakil presiden demikian menjadi maklumat PP Muhammadiyah Nomor 5/MLM/I.0/O/2009 tentang Pemilihan Presiden Wakil Presiden 2009. Ketua PP Muhammadiyah Dr.Haedar Nashir mengemukakan warga Muhammadiyah dan warga bangsa agar menggunakan hak politik secara cerdas untuk memilih memimpin nasional.
Ada sembilan kriteri pemimpin negara versi Muhammadiyah untuk lima tahun mendatang. Yaitu berjiwa negarawan dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan lainnya, berkarakter kuat ditandai sesuai antara ucapan dan tindakan, memiliki visi kebangsaan yang jelas dalam menyelamatkan sumber daya alam dan kekayaan negara.
Kemudian pemimpin negara harus mampu bekerja keras dan bekerja nyata untuk kemajuan bangsa, mengutamakan kemandirian ekonomi nasional dan ekonomi untuk kemakmuran bangsa, menjaga martabat bangsa dan kedaulatan negara dari intervensi dan kepentingan asing, mengagendakan perubahan yang konkret untuk keluar dari transisi, melakukan revitalisasi reformasi dan demokrasi.
"Secara proporsional akomodatif terhadap aspirasi umat Islam dengan tetap menunjukkan komitmen kuat dalam membangun bangsa secara keseluruhan," kata Haedar Nashir.
Din Syamsuddin menyatakan maklumat ini dituangkan secara netral, tidak mengarahkan kepada sepasang capres dari tiga pasang capres yaitu Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Jusuf Kalla-Wiranto, Megawati-Prabowo.
"Jika ditafsirkan kriteria ini isyarat (memilih) capres tertentu, terserah. Warga Muhammadiyah cukup cerdas hanya diberi isyarat bisa mengerti," ujar dia saat sesi tanya jawab.
Dia mengaku aspek ke sembilan, presiden-wapres yang akomodatif terhadap Islam menjadi tekanan pemimpin nasional lima tahun mendatang. Ketika ditanya kriteria ini ada pada Jusuf Kalla, dia mengelak. Begitu juga isyarat ini merujuk pada istri pasangan capres yang berjilbab, dia diplomatis,
"Keislaman tidak hanya simbolik (jilbab), juga substansinya." Dengan kelakar dia bertanya balik, "Siapa sih istri dari pasangan capres yang berjilbab?," kata dia disambut sebutan nama capres tertentu oleh wartawan. [pr]
Masuk: 27 Mei 2009 (17:31 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi