| Lintas Agama lainnya |
"Kita memang tidak bisa menyalahkan prosedur tes medis yang dilakukan di RST. Namun semestinya pihak rumah sakit masih mempertimbangkan sisi moralnya. Ini kan juga melanggar syariat agama Islam," tegas Nur Yasin, , Rabu (2/12).
Menurut Nur Yasin, seharusnya, sisi moral tetap harus dikedepankan dalam pelaksanaan test kesehatan bagi CPNS di Kota Batu. Termasuk menghormati emansipasi wanita. Kalau pasiennya perempuan, harusnya dilayani oleh dokter perempuan juga.
"Ilmu syariat itu mengatur tentang keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Kalau syariatnya sudah dilanggar berarti harus ada yang diluruskan dalam masalah ini," ungkap Nur Yasin.
MUI Kota Batu tidak bisa membenarkan jika dalam pelaksanaan test kesehatan bagi CPNS Kota Batu tetap dilakukan dengan cara yang sama. Dalam hukum Fiqih, terangnya, tim medis bisa melihat aurat perempuan dalam kondisi tertentu saja.
Misalkan saja untuk membuktikan kebenaran fakta di kepolisian tentang adanya laporan pemerkosaan kepada seorang perempuan.
"Untuk melengkapi alat bukti, tentunya polisi membutuhkan hasil visum dari rumah sakit," sebut Nur Yasin seperti dilansir situs beritajatim.com.
Lebih lanjut, Nur Yasin menegaskan, pemerintah harus segera mengambil kebijaksanaan dalam menangani masalah ini. Misalkan saja memilih rumah sakit yang tidak perlu mewajibkan CPNS Kota Batu untuk semi bugil di hadapan dokter. [nuo]
Masuk: 03 Des 2009 (08:00 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi