| Lintas Agama lainnya |
"Kehilangan dua hari sekolah setiap tahun tidak merugikan. Ini soal keadilan. Islam adalah agama yang berkembang pesat di kota ini, mengapa kita diberi hak yang sama dengan agama-agama lainnya," kata seorang muslimah berjilbab Khaleda Aketer yang ikut berunjuk rasa di depan Dewan Kota.
Pejabat kunci yang menentukan nasib usulan itu adalah Walikota New York Michael Bloomberg. Ia sudah menyatakan menolak usulan tersebut dan tidak akan mengubah keputusannya. "Saya bersimpati, tapi kenyataannya, kita membutuhkan lebih banyak lagi hari sekolah, tidak lebih," tukas Bloomberg.
Aksi unjuk rasa di Dewan Kota bukan hanya dihadiri oleh komunitas Muslim tapi juga sejumlah warga non-Muslim yang memberikan dukungan agar Idul Fitri--hari besar umat Islam--dijadikan hari libur selama dua hari.
"Kami hanya ingin diakui, diikutsertakan dan dihormati seperti kelompok agama lainnya," kata Hesham El-Meligy, warga Springville dan ketua Coalition of Muslim School Holidays, di sela-sela aksi.
Dalam kalender pendidikan sekolah-sekolah AS, hari-hari besar agama Kristen dan Yahudi sudah dinyatakan sebagai hari libur, tapi tidak untuk hari-hari besar agama Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Namun atas dasar kebijakan Departemen Pendidikan, siswa Muslim dibolehkan izin tidak masuk sekolah pada hari raya Islam, dengan syarat mereka harus mengatur jadwal dengan para guru untuk mengganti jam pelajaran yang hilang.
El-Meligy mengungkapkan, jumlah komunitas Muslim di Staten Island sekitar 25.000-35.000 orang. "Jumlah Muslim di wilayah ini meningkat pesat. Mereka bukan hanya datang dari luar negeri, tapi juga datang dari kawasan lainnya seperti Brooklyn dan Queens," ujar muslim asal Mesir itu.
El-Meligy menyatakan optimis, suatu saat Departemen Pendidikan akan memberikan perhatian atas usulan dari warga Muslim. "Jika tidak dibawah perintah Bloomberg, mungkin penggantinya kelak," tandasnya. [ ]
© Eramuslim
Masuk: 01 Jul 2010 (16:12 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi