| Lintas Agama lainnya |
Bagi kebanyakan orang, hari libur ini lebih sering digunakan untuk berkumpul dengan keluarga, bertukar kado atau makan malam besar-besaran daripada merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Banyak orang Muslim yang tinggal di negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen juga ikut andil dalam hari raya ini. Contohnya di Jerman, Sinterklas pun bisa berbahasa Turki.
Mayoritas penduduk Jerman mengidentifikasikan dirinya sebagai umat Kristen, tetapi sebanyak tiga juta umat Muslim juga tinggal di sana. Bagaimana mereka menghadapi hari-hari raya ini?
Ali tiba di Jerman tigabelas tahun lalu ketika dia masih remaja. Dia berasal dari Irak. Di Jerman ia belajar untuk menjadi insinyur. Untuk membayar uang sekolah dia bekerja di pasar akhir pekan di kota Berlin menjual kue-kue Timur Tengah. Akhir tahun seperti sekarang amat berarti bagi Ali. Dia dan istrinya menikah pada tanggal 24 Desember 2007. Namun dia tidak sepenuhnya mengikuti hari raya Natal sendiri.
"Saya Muslim, jadi saya tidak merayakan Natal. Saya gunakan waktu liburan itu dengan menghabiskan waktu bersama isteri. Mungkin kami akan pergi ke pasar Natal. Saya juga gunakan waktu libur untuk belajar atau semacamnya".
Anak-anak muslim
Hari Natal modern sepertinya lebih berarti untuk kado daripada untuk agama. Ini bisa menjadi masalah untuk keluarga Muslim yang anak-anaknya merasa ketinggalan ketika melihat teman-temannya yang beragama Kristen dilimpahi hadiah. Idan Suer, anak seorang imigran Turki dan seorang dosen sosiologi di salah satu universitas di Berlin, menjelaskan bagaimana salah satu temannya menangani masalah ini.
"Keluarganya dan beberapa keluarga Turki lain berkumpul pada Malam Natal dan membeli hadiah untuk anak-anak mereka. Mereka mengadakan acara Natal versi Turki. Musik Turki dinyalakan, makanan Turki disajikan dan tentu saja, ada Sinterklas yang bisa berbahasa Turki. Ini bukan sesuatu yang berhubungan dengan agama. Ini hanya cara untuk membuat anak senang dengan membelikan mereka hadiah-hadiah kecil".
Bukan hari raya Islam
Tapi tidak semua orang setuju dengan solusi ini. Burhan Kesici, wakil presiden Federasi Islam Berlin percaya pentingnya membuat batas antara suasana umum dan pribadi.
"Jika seorang rekan Jerman mengundang Anda, maka Anda dapat merayakan Natal bersamanya. Tapi sebagai seorang Muslim tidak baik merayakan Natal secara pribadi bersama keluarga. Ini bukan hari raya Islam".
Kesici paham Natal bisa menyulitkan banyak orang tua Muslim, tapi dia yakin mereka dapat meredam tekanan dari luar dan menjelaskan pada anak-anak bahwa hari Natal - dan kado-kado yang berasosiasi dengan hari raya itu - adalah bukan bagian tradisi mereka. Meskipun demikian kepopuleran perayaan Natal secara besar-besaran mempengaruhi cara orang Muslim mengamati hari raya mereka sendiri.
Perayaan besar-besaran
Dulu kami tidak punya bulan Ramadhan dalam bentuk ini. Sekarang kita membuat perayaan besar-besaran di berbagai institusi dan kita membeli banyak hadiah untuk anak-anak. Kita telah melihat perayaan Natal orang Jerman, lalu berkata, OK, kita juga bisa buat seperti ini di hari raya kita.
Menurut Kesici ini adalah perkembangan positif. Tidak hanya anak-anak Muslim dapat menikmati suguhan yang sama seperti teman-teman Kristennya, tetapi perayaan besar-besaran dan gamblang telah membawa kesadaran yang lebih besar untuk hari raya Muslim dalam masyarakat luas. [rnw]
Masuk: 23 Des 2009 (18:08 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi