| ||
| Lintas Agama lainnya | ||
Roy menulis banyak buku tentang Iran, Islam, dan politik Asia. Bukunya yang paling terkenal, L'Echec de l'Islam politique (1992) (Kegagalan Islam Politik) (1994), menjadi kajian untuk mahasiswa Islam politik.
Karyanya yang paling anyar adalah Secularism Confronts Islam (Columbia, 2007). Buku ini menawarkan perspektif Islam di masyarakat sekuler dan melihat beragam pengalaman imigran Muslim di Barat.
Di Swiss, mayoritas warganya mendukung pelarangan menara masjid; di Prancis dan Belgia, burka menjadi perdebatan serius; di Italia, salib mendapat kecaman. Demikian juga di Jerman terjadi perdebatan sengit mengenai Muslim.
Mengapa Eropa begitu takut dengan simbol-simbol keagamaan "asing"?
Perdebatan di Eropa telah bergeser dalam 25 tahun (satu generasi) antara imigrasi dan simbol-simbol Islam yang kelihatan, yang kemudian menciptakan suatu paradoks: bahkan orang-orang yang menentang imigrasi mengakui sekarang bahwa generasi kedua dan ketiga dari para migran di sini telah berakar sendiri di Eropa. Jadi sekarang yang menjadi perdebatan adalah mengenai status Islam. Dan di sini kita memiliki fenomena yang aneh: sementara perasaan anti-imigrasi terutama dikaitkan dengan hak konservatif, sentimen anti-Islam bisa ditemukan di kedua sisi kiri dan kanan, tetapi dengan dua alasan yang sangat berbeda.
Bagi kelompok kanan, Eropa adalah Kristen. Islam harus ditoleransi, meskipun sebagai agama yang lebih rendah. Tidak ada cara untuk melarangnya (sebab adanya prinsip "kebebasan beragama," sebagaimana dijelaskan dalam konstitusi kita, perjanjian-perjanjian internasional maupun piagam PBB), tetapi ada cara untuk membatasi keberadaannya tanpa harus melawan prinsip-prinsip kebebasan beragama (misalnya Pengadilan HAM Eropa tidak mengutuk pelarangan burka di sekolah-sekolah Prancis).
Bagi kelompok kiri, isu ini lebih umum sebagai isu sekularisme, hak-hak perempuan dan fundamentalisme: mereka melarang jilbab, bukan karena persoalan Islami, melainkan lebih karena dianggap bertentangan dengan hak-hak perempuan.
Karena itu, perdebatan tentang Islam berkembang lebih rumit: apa yang menjadi identitas Eropa, dan apa peranan agama-agama di Eropa. Tentu saja, pada kedua isu ini, kelompok kiri dan kanan mengambil posisi yang sangat berbeda. Tapi, kita menyaksikan munculnya gerakan-gerakan populis baru (seperti Geert Wilder di Belanda), yang mencoba menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Pada dasarnya mereka menggunakan hak asasi tapi menggunakan argumen-argumen kelompok kiri.
Dalam buku Anda, Anda mengatakan bahwa kelompok fundamentalis seperti al-Qaidah tidak ada hubungannya dengan tradisi Islam. Tapi, bagi orang-orang Eropa, mereka nampak sangat tradisional.
Apakah al-Qaidah dan organisasi-organisasi serta gerakan-gerakan serupa merupakan fenomena modern? Bagaimana Anda menjelaskannya?
Jenis terorisme yang dilakukan oleh AQ (al-Qaidah, red) tidak diketahui dalam sejarah Islam, sama seperti dalam sejarah "Kristen." Jadi, dalam hal apapun, itu merupakan fenomena baru.
Jika kita melihat beberapa karakteristik utamanya: serangan bunuh diri, penyanderaan, target warga sipil; semuanya merupakan praktek-praktek yang telah dijalankan oleh organisasi-organisasi sebelum AQ: Macan Tamil menggunakan serangan bunuh diri, kelompok ekstrim kanan Italia (pemboman Bologna pada Agustus 1980), Brigade Merah Italia: jika Anda menyaksikan video eksekusi sandera asing oleh AQ di Irak, itu hanya mengikuti "pementasan" eksekusi Aldo Moro oleh Brigade Merah (ada panji dan logo organisasi, sandera yang diborgol dan ditutup matanya, sebuah kelompok "militan" mementaskan pengadilan palsu, serta sebuah kalimat kuliah dan eksekusi).
Berdasarkan modus operandi-nya, bentuk organisasi, traget-target (imperialisme AS), dan perekrutan (kaum muda Muslim atau mualaf yang berpendidikan Barat), jelas bahwa AQ bukanlah ekspresi Islam tradisional (bahkan fundamentalis), melainkan merupakan upaya membentuk kembali Islam di bawah ideologi revolusioner Barat.
Apakah ada organisasi Kristen yang serupa?
Tergantung apa yang Anda sebut "Kristen" (demikian juga halnya dalam isu Islam): adakah kekerasan itu dimotivasi oleh iman atau sebuah ideologi politik? Saya berpendapat bahwa dalam kedua kasus, motivasi lebih didorong oleh ideologi (meskipun diklaim dengan legitimasi agama) ketimbang oleh iman.
Ada teorisme barat "putih" (pemboman Oklahoma tahun 1995, misalnya). Tapi pada kenyataannya, tidak ada paralel yang jelas: perjuangan ini lebih mirip sebuah perang asimetris; kelompok-kelompok radikal Islam tidak memiliki kekuatan udara atau operator udara. Seorang tentara salib Kristen radikal yang ingin berperang melawan Muslim tidak perlu masuk ke dalam organisasi teroris: dia cukup mendaftar ke Angkatan Udara AS dan menjadi pilot pesawat pembom.
Media AS telah mendokumentasikan fakta bahwa Akademi Angkatan Udara AS di Colorado telah menjadi sarang evangelikalisme Kristen (dengan biaya dari taruna-taruna Yahudi atau ateis) (catatan: Air Force Removes Chaplain From Post: Officer Decried Evangelicals' Influence, oleh T.R. Reid, Washington Post Jumat, 13 Mei 2005).
Bagaimana Anda menjelaskan kesuksesan ideologi-ideologi/gerakan-gerakan radikal semacam itu? Apakah karena kemiskinan dan keterasingan yang benar-benar menjadi alasan untuk itu?
Tidak. Semua penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara kemiskinan dan radikalisasi: ada lebih banyak orang Saudi daripada Bangladesh (pada kenyataannya hampir tidak ada orang Bangladesh) di antara kelompok-kelompok radikal.
Saya pikir perjuangan ini merupakan kelanjutan dari anti-imperialis lama yang keliru, gerakan-gerakan dunia ketiga melawan Barat dan khususnya AS. Bin Laden berbicara sedikit tentang agama, tetapi ia menyebut tentang Che Guevara, kolonialisme, perubahan iklim, dan sebagainya.
Ini jelas merupakan sebuah gerakan generasi: AQ adalah sebuah gerakan "muda" dari orang-orang muda yang terpisah dari keluarga mereka, lingkungan sosial mereka dan bahkan tidak tertarik di negara asal keluarganya.
Ada banyak mualaf dalam AQ, hal ini sungguh mengherankan dan tidak diperhitungkan. Para mualaf adalah pemberontak yang tanpa sebab bergabung dengan Rote Army Fraction (RAF) atau Brigade Merah tiga puluh tahun silam, tapi sekarang mereka bergabung dengan gerakan paling sukses di pasar anti-imperialis.
Kita masih dalam kelanjutan dari sebuah millenarisme revolusioner barat, yang berpaling dari konsep pendirian masyarakat baru dan adil. Gerakan-gerakan baru ini bersikap speptis dengan upaya membangun masyarakat yang lebih baik, inilah dimensi bunuh diri mereka (yang juga ditemukan dalam RAF).
Sekarang ini banyak orang Eropa berpandangan bahwa budaya Eropa adalah budaya Kristen, dan karenanya Islam dalam segala sesuatu dianggap bermasalah dan asing untuk Eropa.
Bagaimana pendapat Anda?
Mereka yang berkata begitu. Pada saat yang sama Paus Benediktus dan Yohanes Paulus berkata bahwa Eropa telah menolak dan mengabaikan akar-akar Kekristenannya: perdebatan mengenai kebebasan seksual, aborsi, hak-hak kaum gay tidak bertentangan dengan Eropa dan Muslim, tapi sekularis di satu sisi (dan ada Muslim sekularis) dan orang-orang beriman konservatif di sisi lain (mereka bisa saja Muslim, Katolik atau Yahudi Ortodoks).
Pada kenyataannya, Eropa terpecah dalam pembahasan topik budayanya sendiri, antara sekularis yang menyadari bahwa Pencerahan (dengan Hak-hak Asasi Manusia, kebebasan, demokrasi) sebagai akte kelahiran Eropa, dan kaum "kulturalis Kristen" yang menyadari bahwa pencerahan juga berakibat pada munculnya komunisme, atheisme dan bahkan Nazisme.
Apakah ada resiko nyata Islamofobia di Eropa?
Masalahnya adalah bagaimana kita mendefinisikan Islamofobia: apakah itu hanya istilah lain dari rasisme, dan khususnya rasisme terhadap orang-orang yang memiliki nama Muslim, apapun derajat keimanan mereka, atau apakah itu sebuah penolakan terhadap agama?
Ada kelompok anti-rasis yang militan yang tidak tahan dengan jilbab (ini terjadi di kalangan feminis), tapi ada juga orang-orang rasis yang tidak menentang jilbab (karena mereka berpikir orang-orang ini memang berbeda dari kita). Masalah ini menjadi kompleks karena kita tidak mencoba menguraikan dua isu: etnis dan agama.
Tentu saja kebanyakan orang Muslim di Eropa memiliki latar belakang etnis asing, tetapi perbedaan antara etnis dan agama meningkat: ada konversi pada keduanya; ada atheis "Arab" dan "Turki." Kita perlu membedakan antara "komunitas etnis" dan "komunitas iman," sebab keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda, dan sebab "etnisitas" kurang bermakna dalam hal budaya, tapi lebih dikaitkan dengan warna kulit.
Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan, misalnya, kampanye terbesar melawan Darwin di Eropa dilakukan oleh seorang Muslim Turki berdasarkan buku-buku yang ditulis oleh kaum Injili Amerika, maka ada konvergensi nilai-nilai dan norma-norma, tapi juga dengan cara dimana agama-agama itu menerjemahkan keyakinan mereka ke dalam tindakan dan intervensi politik.
Bagaimana dunia politik bisa menemukan cara untuk menangani "keterapungan, agama yang mengalami dekulturisasi dan globalisasi" ini?
Saya pikir, agama-agama yang "sukses" adalah agama-agama global dan yang mengalami dekulturisasi (evangelikalisme, salafisme, dll) bukan gereja-gereja tradisional (khususnya Gereja Katolik). Tren ini menjadi tren dominan sekarang. Tidaklah masuk akal untuk berjuang melawan itu, khususnya di negara-negara dimana undang-undangnya tidak ikut campur dalam hal keyakinan.
Sebaliknya, Saya pikir kita harus menekankan pemisahan antara gereja dengan negara, caranya dengan menerapkan kesetaraan penuh antar agama, tapi tidak didasarkan pada "multi-kulturalisme." Kita harus melihat agama sebagai "agama saja," apapun yang mereka katakan tentang diri mereka. Masalahnya bukan apa yang Islam katakan atau apa yang Paus katakan, tetapi dimana kondisi-kondisi agar komunitas iman bisa dengan bebas mempraktekkan hak-hak mereka.
Pemerintah harus berperan dalam "deinking" (pemisahan, red) antara agama dan budaya, tapi pada saat yang sama menolak pendekatan multi-kulturalis terhadap agama dalam mendukung kebebasan beragama yang netral dan ketat dalam kerangka hukum yang ada.
Di media kita sering melihat dialektika Islam "liberal" vs "radikal." Adakah Islam "liberal" atau "radikal"? Ketika kita melihat Rukun Islam, apakah mungkin berdoa "liberal" atau "radikal"? Apakah istilah ini tepat dalam kasus ini?
Tidak. Saya pikir kesalahannya adalah menganggap bahwa dalam membangun sebuah masyarakat yang baik, seseorang harus memilih teologi "liberal." Perdebatan mengenai "reformasi" Islam tidaklah relevan. Orang-orang yang membela Luther Muslim tidak pernah membaca tentang Luther: ia bukanlah seorang yang liberal, dia sangat anti-Semit. "Format" Muslim ke dalam lingkungan Barat tidak ada hubungannya dengan teologi. Hal ini dilakukan melalui praktek-praktek dan usaha-usaha individual oleh orang-orang Muslim sendiri.
Mereka mencoba mendamaikan praktek-praktek mereka dengan lingkungan Barat, dan mereka menemukan dalam perangkat-perangkat lingkungan ini untuk melakukannya (memikirkan ulang norma-norma dalam makna nilai-nilai, misalnya). Dalam jangka panjang, perubahan-perubahan ini akan diterjemahkan ke dalam pemikiran ulang teologi, tapi dalam banyak hal, tidaklah masuk akal untuk menghubungkan mondernitas dengan liberalisme teologis: untuk berpikir seperti itu berarti mendistorsi sejarah atau mengandalkan wishful thinking. []
© Globalia Magazine
⇒ 19 Ags 2010 (15:20 UTC+07) | edit terakhir: 19 Ags 2010 (15:25 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi