| Lintas Agama lainnya |
Sebanyak 492 mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) yang masih berada di penampungan bekas Kantor Wali Kota Jakarta Barat mengalami kesulitan air dan harus mengambil air dari bawah ke lantai atas dengan menggunakan ember secara bergantian.
Untuk mendapatkan air bersih, mereka bahkan harus membelinya setiap hari yang mana pembelian air perharinya menghabiskan biaya Rp 1,3 juta,” ujar kepala asrama Setia, Yulius Thomas Bilo, Jumat (30/10).
Tampak mahasiswa secara bergilir naik turun dari lantai 1 ke lantai 3 dengan membawa ember berisis air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus yang dikirim dengan truk tangki. Pengiriman air dilakukan pada pagi dan sore hari.
Mereka menggunakan ember bekas cat dan jeriken bekas untuk mengangkut air dari belakang gedung blok III. Mereka mandi di kamar mandi yang tersebar di lantai I hingga lantai V di gedung tersebut.
Dari dalam kamar mandi yang kondisinya sudah rusak, tercium bau menyengat. Kondisi serupa terlihat di blok IV dan V yang dihuni para mahasiswa Setia.
Salah seorang mahasiswi asal Mamasa ketika ditanya oleh Kristiani Pos mengatakan dirinya hanya pasrah dan berusaha bertahan di tempat itu. “terserah dosen dan pihak kampus saja,” ujarnya.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam acara pengucuran Dana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan di Kampung Duri, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan solusi bagi mahasiswa Setia.
”Kami mengupayakan solusi jangka pendek dan jangka panjang. Upaya paling memungkinkan adalah memindahkan mereka ke Wisma Transito Transmigrasi di Tanjung Priok,” kata Fauzi seperti dilansir Kompas.
Fauzi menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan membiarkan warga, termasuk mahasiswa Setia, telantar di Jakarta. Namun, Fauzi mengatakan tidak akan mengizinkan mereka kembali ke kampus lama di Kampung Pulo. [CP]
Masuk: 04 Nov 2009 (00:24 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi