| Lintas Agama lainnya |
BKPRMI tampil bahu membahu bersama aparat kepolisian berdiri di halaman Gereja GMIM Kinamang, yang di dalamnya ada sekira 300 pimpinan gereja di dunia yang lagi beribadah.
Dengan pakaian khas Muslim, kemeja koko warna putih dengan peci warna putih, mereka berjaga-jaga di depan dan samping gereja yang berhadapan dengan GKIC itu.
Ketua BKPRMI Manado Agus Weno mengaku, kehadiran BKPRMI sebagai contoh kerukunan beragama di Sulut. "Sekaligus ingin kami sampaikan ke pada dunia, kalau Muslim di Sulut cinta damai, anti teroris dan menghargai perbedaan umat beragama,'' kata Agus.
Acara empat tahunan ini, yang berlangsung 4-7 Oktober, dihadiri oleh 275 peserta dari 81 negara.
Selam pertemuan itu peserta melakukan sharing tentang situasi Gereja, tantangan yang dihadapi di negaranya masing-masing, termasuk kemiskinan, politik, ekonomi, peperangan, bahkan sampai masalah diskriminasi dan terorisme.
Menurut Pdt Marthen Sumual, ada juga gereja yang mengalami tantangan bagaimana menghadapi bandar-bandar narkoba. Seperti yang dikeluhkan utusan gereja dari negara-negara Amerika Selatan.
Sementara utusan Gereja di Libanon, mengungkapkan tentang keputusan pembagian kekuasaan antara orang Kristen dan Muslim yang pada akhirnya menghasilkan konflik (perang).
Pertemuan GCF ini sendiri, baru yang kedua kali dilaksanakan. Pertama kali dilaksanakan tahun 2007 di Limuru, Kenya. Pertemuan yang dilaksanakan di Manado ini adalah yang kedua.
Sementara itu ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) Pendeta Soritua AE Nababan menjelaskan, forum ini sangat penting karena menjadi satu-satunya forum yang diwakili seluruh Gereja yang ada di dunia.
Di dunia ada lebih dua miliar umat Kristen, dengan Katolik satu miliar lebih, lima sampai enam ratus juta Protestan dan empat sampai lima ratus juta berbagai aliran kekristenan lainnya.
"Pertemuan ini bukan sekedar sebuah konferensi yang pada akhirnya mengambil suatu keputusan, tetapi ini satu langkah lebih maju dari sebuah gerakan ekumenis, dimana persaudaraan semua orang Kristen bisa terjadi," ujar Pendeta Nababan, mantan ketua umum PGI.
Sementara itu, ketua panitia Pendeta Liesje Tamuntuan-Makisanti melaporkan, para nara sumber dalam acara itu termasuk Musdah Mulia dan Pendeta Andreas A Yewangoe, ketua umum PGI. []
© Cath News
Masuk: 07 Okt 2011 (05:45 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi