| Lintas Agama lainnya |
"Polisi tidak boleh membuat kesimpulan seperti itu tanpa melalaui investigasi," kata Pendeta Andreas A. Yewangoe, ketua umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. "Kami percaya dengan polisi, namun kami tidak setuju dengan pernyataan mereka."
Pendeta Luspida Simanjuntak dan assistannya Hasean Lumbantoruan Sihombing dari Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) diserang di jalan ketika mereka dalam perjalan menuju tempat kebaktian hari Minggu, 12 September.
Sihombing ditusuk di perutnya dan dalam kondisi kritis sementara Pendeta Simanjuntak dipukul dan sempat pingsan.
Pada pertemuan di antara para pemimpin lintas agama dan pejabat Menteri Agama di Jakarta pada 13 September, Pendeta Yewangoe berpendapat bahwa polisi harus terbuka dan jujur terkait dengan kasus itu.
Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI) mengatakan polisi hendaknya lebih profesional. Ia menambahkan bahwa KWI berpendapat para pelaku adalah orang yang melegalkan kekerasan.
Hasyim Muzadi, sekretaris jenderal ICIS (International Conference of Islamic Scholars) dan mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menyarankan bahwa pemerintah hendaknya membantu Gereja di Bekasi mencari tempat bagi mereka untuk beribadat.
Bahrul Hayat, sekretaris jenderal Menteri Agama, menjawab bahwa pemerintah membantu Gereja HKBP itu dengan mencari sebuah tempat permanen untuk kebaktian Hari Minggu dan pihaknya mendapat sebuah gedung yang bisa digunakan untuk sementara. []
© Cath News
Masuk: 16 Sep 2010 (00:46 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi