| Lintas Agama lainnya |
"Kita boleh tidak setuju dengan suatu penyangan film, tapi nggak setuju itu bukan berarti ada pelangaran'. Itulah kalimat yang dilontarkan komisioner KPI Ezky Suyanto saat berbincang dalam program Agama dan Masyarakat KBR68H.
Menurut Ezky masyarakat Indonesia sudah mulai cerdas dalam menilai tayangan film. Sehingga sebuah film akan bisa dipilah dalam pangang publik sendiri apakah pantas ditonton atau tidak. Makanya tidak bisa dinyatakan secara langsung ada pelanggaran sebelum film ditayangkan.
Ezky menyayangkan ketika film karya Hanung tersebut batal tayang di TV swasta SCTV. Padahal penolakkan penayangannya hanya dari segelintir kelompok masyarakat. Di sisi lain sebelumnya film tersebut masuk box officenya di sejumlah bioskop. Artinya film itu diterima masyarakat. Sehingga pelarangan tersebut merupakan suatu sikap yang tidak sehat, apalagi Lembaga Sensor Film yang memiliki otoritas sensor film di Indonesia telah meloloskan film tersebut.
"Waktu saya mendatangi pihak SCTV yang saya tanyakan apa sudah lolos dari LSF. Jawab mereka sudah. Nah berarti tidak ada masalah. Karena secara prosedur undang-undang memang begitu. Terus mereka katakan, apa yang harus kami katakan ke FPI kata pihak SCTV. Kalau ada msalah ya laporkan aja ke FPI. Jadi tidak ada yang dilanggar sebenarnya", tegas ezky.
Gairah Film Melemah
Bagi Pengamat Film Eric Sasono intervensi terhadap penyangan film di Indonesia bakal melemahkan kreatifitas insan film di Indonesia.
"Mungkin sampai ke tingkat takut belum ya, tapi para sineas akan menciptakan film tanpa kebebasan lagi. Ukuran setiap film yang dibuat selalu diperhitungan pada sensor orang lain," kata Eric.
Eric menyebutkan tidak ada yang salah dengan film "?". Secara isi memang film itu menceritakan tentang pluralime dan multikulutralisme. Tapi menurut saya film tersebut masih berhak untuk diproduksi dan beredar. Jika ada tidak setuju kan ada prosedur mengajukan keberatan', ujarnya.
Masyarakat Bingung
Film dimanapun memberikan inspirasi pesan baik dan buruk. Pro dan Kontra akan bisa muncul kapan saja dan itu bisa menjadi inspirasi bahan diskusi di tengah masyarakat. Hal ini akan mencerdaskan masyarakat, jika sebuah karya film tidak dicegat ditepi jalan,. Pelarangan Film "?' oleh FPI bukannya menjadikan masyarakat cerdas, tapi justru memingungkan masyarakat.
"Ini kan sudah lolos LSF. Ya semestinya putar saja. Apakah ada yang setuju dengan dangdut yang meliuk-liuk, nggak kan? Apa setujua dengan sinetron-sinetron yang ada, kan nggak? Lalu apa kita melarang, tidakkan. Kan ada prosedur hukumnya"tutup Ezky. []
© KBR68H
Masuk: 16 Sep 2011 (08:43 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi