| Lintas Agama lainnya |
Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini ditemui di acara pemutaran film dan Diskusi Lautan Wahyu berjudul Ummah yang berlangsung Rabu kemarin (15/12) di Goethe Institut, Jakarta.
Menurutnya, ummah adalah indentifikasi atas sekelompok orang beragama, bukan kategori. Dengan identifikasi ini setiap kelompok didorong untuk saling mengenal, memahami, bekerjasama dan berkompetisi untuk kebaikan. "Jadi bukan untuk saling memusuhi apalagi saling memusnahkan," ujarnya.
Alumni University of Hamburg, Jerman ini melihat persoalan persaingan ekonomi dan politik sosial yang ada saat ini memprovokasi umat beragama, Dan situasi ini sering dipakai semua masyarakat yang meletupkan konflik dan perkelahian karena biasnya konteks pemahaman.
"Padahal radikalisme itu ada pada setiap agama. Radikalisme itu ada di Islam, Kristen, Budha, Hindu dan sebagainya." Repotnya lagi, kata Masykuri soal radikalisme pada warga negara selalu punya kepentingan yang dimainkan dengan regulasi hot dan cold yang berakibat fatal di masyarakat.
Regulasi saat ini justru tak menyelesaikan masalah apapun. Menurutnya, untuk memperkecil radikalisme bisa dilakukan dengan mengadakan taaruf (perkenalan, red) yang saling mengenal dan mengakui teologi yang moderat di masing-masing agama dan bisa menerima keberadaannya.
Sementara Syafii Maarif yang juga menjadi narasumber di acara tersebut mengatakan teologi umat Islam di Indonesia pada saat ini sedang kacau dan berujung kekerasan. Sialnya lagi, kata eks Ketua umum Muhammadiyah ini kekerasan justru dipakai sebagai mata pencarian karena memang krisis lapangan kerja yang sulit dan beban hidup yang makin menghimpit membuat terbukanya cela radikalisme.
"Pada saat teologi umat Islam sedang kacau ada pengharapan yang bisa memperbaiki yang tidak berujung kekerasan. Tapi yang terjadi di masyarakat kita karena sistim negara kurang berfungsi dengan baik menjadi menjadi salah satu penyebab munculnya radikalisme dan kekerasan."
Celakanya lagi radikalisme dan kekerasan ini kemudian menjadi lapangan pekerjaan. Pria yang biasa disapa Buya ini merujuk lemahnya fungsi sistim negara saat ini seperti kepolisian yang ternyata memiliki rekening gendut, lalu adanya orang-orang seperti Susno, Gayus yang bisa mempermainkan hukum, korupsi yang jalan terus dan tetap dilakukan oleh orang-orang beriman, pintar dan bermartabat, kemudian beragam persoalan lain.
"Inilah perlunya kearifan bukan hanya buka hati, tapi buka paru dan buka jantung. Kearifan untuk memahami konteks setiap persoalan yang tidak berujung ke arah radikalisme dan kekerasan," ujarnya. []
© Tempo Interaktif
Masuk: 16 Des 2010 (21:27 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi