| Lintas Agama lainnya |
''Kami hanya ingin berbagi bersama komunitas lainnya di bulan Ramadhan ini,'' kata Rafey Habib, salah satu anggota Islamic Center South Jersey kepada Courier Post. Menurutnya, bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memberi dan berbagi dengan sesama.
Seperti dilansir Islamonline.com, selama merayakan ibadah puasa, Islamic Center terbuka bagi warga non-Muslim untuk membagikan jamuan puasa bersama dengan komunitas Muslim. Ini adalah tahun ketiga Islamic Center tersebut menyelenggarakan acara serupa di bulan Ramadhan.
Tahun ini, acara tersebut mampu menjaring sekitar 50 warga non-Muslim di wilayah yang terletak di negara bagian New Jersey. ''Ini adalah Muslim apa adanya, jadi kita dapat saling memahami dan meninggalkan segala ketakutan yang tercipta,'' kata event organizer acara, Naseem Badat.
Para tamu non-Muslim yang diundang ke masjid tersebut diberikan pengantar tentang Ramadhan, bulan di mana Alquran turun ke bumi. Ketika waktu Maghrib tiba, para non-Muslim itu hanya menyaksikan ketika saudaranya yang Muslim berbuka puasa dan shalat Maghrib.
Sebenarnya, kata Badat, para warga non-Muslim dengan sukarela menjalankan berbagai aspek Ramadhan karena puasa memang telah banyak dipraktikkan oleh agama-agama lain di dunia. ''Maksudnya, Ramadhan mengingatkan orang-orang pada prinsip-prinsip umum yang telah ada,'' katanya.
Paul Monson, seorang non-Muslim yang datang ke acara tersebut bersama dengan istri dan tiga anaknya, mengatakan hajatan tersebut telah membantunya mengenal sesuatu yang tidak diketahuinya tentang komunitas Muslim di South Jersey. ''Saya sebelumnya tidak tahu kalau ada masjid di South Jersey,'' katanya.
Kutipan; ''Puasa meningkatkan kepedulian kita terhadap fenomena kelaparan di banyak belahan dunia''. (Ben Ries, pastor gereja Kristen di Bellingham, AS).
Ia mengakui, sejak mengikuti acara tersebut dirinya sekarang memiliki wajah baru mengenai komunitas Muslim. ''Saya kira bagus bahwa mereka (warga Muslim) saat ini berbaur dengan komunitas lainnya,'' papar Manson.
Amerika Serikat adalah rumah bagi komunitas Muslim minoritas. Jumlah warga Muslin yang tinggal di negara ini sekitar 6-7 juta jiwa. Akan tetapi, penelitian lembaga survei terbaru menunjukkan mayoritas penduduk AS hanya mengerti sedikit tentang Islam.
Pastor berpuasa
Sementara itu, di Bellingham, AS, seorang pastor bernama Ben Ries menjalankan puasa selama Ramadhan. Ries adalah seorang pastor di Gereja Kristen Sterling Drive di Bellingham.
Ia memutuskan untuk menjalankan ibadah puasa bersama orang-orang Muslim selama bulan puasa untuk memperoleh pengetahuan yang lebih baik tentang keyakinan Islam. ''Puasa meningkatkan kepedulian kita terhadap fenomena kelaparan di banyak belahan dunia lain,'' kata Ries kepada Bellingham Herald.
Ries menjelaskan bahwa dirinya belajar dari Monem Salam, seorang pemimpin Islam di Bellingham. Proses ini berawal saat ia menemukan nama Salam di internet dan kemudian mengiriminya e-mail (surat elektronik) yang isinya permintaan agar Salam mau jadi mentornya selama bulan Puasa.
Pertemuan berlanjut dalam sebuah makan malam keluarga sebelum Ramadhan. Saat itu, Salam setuju untuk mengajari Ries tentang menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan. ''Kami melakukan kerja sama yang baik karena kami saling belajar satu sama lain,'' kata Salam.
Ries kemudian mulai membaca Alquran dan telah membuat sebuah jurnal yang menceritakan refleksi dan pengalamannya selama Ramadhan.
Ia berharap pengalamannya dalam berpuasa akan dapat membantu mewujudkan dunia yang lebih baik. ''Sebagai seorang Kristen, saya percaya dunia sedang rusak, ini bukan dunia seperti yang seharusnya,'' ujarnya. Pendapat tersebut kemudian diamini Salam.
Sementara itu, Salam mengatakan, jika Ries membagi pengalamannya dengan anggota-anggota gereja dan warga non-Muslim lainnya, hal tersebut akan meningkatkan pemahaman orang terhadap keyakinan Islam. ''Saya berharap di masa depan, akan banyak orang yang melakukan seperti Ries tersebut,'' katanya. [Rep]
Masuk: 03 Sep 2009 (14:50 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi