| Lintas Agama lainnya |
"Dengan mematikan lampu, anda telah berkomitmen untuk tidak melanggar apa yang dilarang Allah SWT," demikian bunyi pesan komunitas Muslim seperti dikutip alarabiya.net, Jum'at (30/12).
Imbauan komunitas Muslim terinspirasi buku berjudul "Mutiara Sunnah dalam Perjalanan Waktu" karya Almir Dumica.
"Pada malam itu, awali dengan mematikan lampu dan biarkan semua orang melihat Anda memboikot segala sesuatu yang terjadi pada malam itu. Jangan takut munculnya keberatan sebab anda memiliki hak untuk memilih,'' tulis Dumica dalam bukunya. ''Jangan katakan bagaimana saya bisa melakukan itu. Sedang, saya akan dinyatakan sebagai kambing hitam tapi saya akan mengubah apapun."
Komunitas Muslim juga berpesan kepada umat Islam Bosnia untuk menjadikan pergantian tahun sebagai siklus kehidupan normal. Siklus yang harusnya lebih banyak diisi dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan anugerah-Nya. "Pikirkan kesehatan anda dan keluarga, perdamaian dan keamanan yang anda nikmati. Dengan demikian, anda akan sadar setiap malamnya rahmat Allah SWT akan menyertai jiwa dan raga anda," demikian isi pesan lainnya.
Bosnia Herzegovina merupakan negara balkan dengan populasi Muslim terbesar. Islam masuk ke Bosnia Herzegovina setelah negara ini sempat mejadi bagian dari wilayah Turki Ustmani. Saat ini jumlah Muslim Bosnia mencapai 1,8 juta.
Komunitas Muslim New York Boikot Acara Lintas Agama
Di New York, sekelompok umat Muslim memboikot acara lintas agama tahunan yang diselenggarakan oleh Walikota Michael Bloomberg. Aksi boikot ini merupakan bentuk protes mereka terhadap tindakan Kepolisian yang memata-matai umat muslim di New York pasca tragedi 11 September.
Diketahui bahwa setiap tahunnya, Walikota Bloomberg mengundang sejumlah tokoh lintas agama untuk berkumpul bersama. Pada 30 Desember waktu setempat, sekitar 350 orang dengan latar belakang agama yang berbeda, termasuk Muslim, diundang untuk menghadiri sarapan pagi bersama yang digelar di salah satu ruangan di Perpustakaan Kota New York.
Namun, sekitar 15 undangan yang merupakan umat Muslim di New York menolak hadir. Mereka mengirimkan surat yang ditujukan kepada Walikota Bloomberg, yang isinya mengecam tindakan polisi yang terus memata-matai mereka sejak tragedi 11 September.
"Selama hak-hak masyarakat masih terang-terangan dilanggar, para pemimpin tidak bisa begitu saja muncul dalam acara pertemuan publik dengan pejabat pemerintahan, yang seharusnya bertanggung jawab, dan bahkan tersenyum pada kamera," demikian bunyi surat tersebut dan dilansir kantor berita AFP, Sabtu (31/12/2011).
Kelompok yang melakukan aksi boikot ini juga mengutip laporan sejumlah media, yang menyebut polisi New York selalu memantau dan merekam aktivitas kehidupan sehari-hari para umat Muslim di New York City. Bahkan hal ini dilakukan tanpa didasari adanya kesalahan ataupun pelanggaran yang dilakukan mereka.
Menurut surat tersebut, polisi terus memonitor dan mengumpulkan informasi dari sekitar 250 lokasi di New York, seperti masjid, sekolah, dan pusat bisnis yang ada. "Hanya berdasarkan agama mereka dan bukan karena mereka menunjukkan perilaku yang mencurigakan," demikian isi surat tersebut, mengutip laporan sejumlah media.
Surat yang ditujukan bagi Walikota Bloomberg ini ditandatangani oleh sejumlah tokoh muslim New York, diantaranya Imam Al-Hajj Talib Abdur-Rashid selaku Pemimpin Dewan Islam New York, Ahmed Jamil dari Muslim American Society, dan Aisha al-Adawiya dari kelompok 'Women in Islam'. Selain itu, sejumlah tokoh lintas agama juga ikut menandatangani surat tersebut. Mereka adalah para Rabi dan pendeta Protestan, seorang suster Katholik, dan sebuah kelompok yang menamakan dirinya 'Jews Against Islamophobia'.
Namun, dalam sambutan saat acara lintas agama tersebut, Walikota Bloomberg sama sekali tidak memberikan komentar soal aksi boikot tersebut. Tapi beberapa waktu lalu Bloomberg sempat memberikan tanggapan soal tudingan polisi memata-matai umat Muslim New York.
"Kami tidak menargetkan kelompok etnis tertentu. Beberapa laporan tentang hal itu tidak akurat. Kami mendatangi lokasi-lokasi yang berpotensi menimbulkan ancaman," tutur Bloomberg kepada WOR Talk Radio News.
Forum Betawi Bersatu Tolak Boikot Tahun Baru
Di Jakarta, seruan boikot pesta perayaan tahun baru yang diserukan sejumlah komunitas muslim internasional ditanggapi dingin oleh sebagian masyarakat.
Ketua Forum Betawi Bersatu (FBB) Amirullah, menilai, perayaan tahun baru semestinya ditanggapi secara positif sebagai ajang persatuan bangsa. “Memang ini bukan budaya asli dalam negeri, tapi selama itu baik untuk persatuan bangsa ya tidak masalah,” ungkapnya kepada Republika, Sabtu (31/12).
Meski demikian, Amirullah tidak menampik adanya dampak negatif dari perayaan tersebut. Konsentrasi massa yang berlebihan pada satu titik tertentu dipandangnya dapat menimbulkan masalah ketertiban dan keamanan. Persoalan semacam ini bila tidak diantisipasi dengan baik justru dapat menimbulkan dampak sosial yang lebih luas. “Seperti di Jakarta ini kan terdiri dari berbagai suku dan budaya, jadi kalau ketertiban tidak dijaga ya bisa berbahaya,” katanya.
Hal berbeda diungkapkan pengasuh komunitas Lawang Ngajeng, Wahyu NH Aly. Menurutnya, pesta perayaan tahun baru lebih identik kepada sesuatu yang tidak berguna. Menurutnya, pesta perayaan semacam itu lebih cenderung pada pemborosan waktu, biaya, dan energi. “Daripada untuk pesta kan lebih baik dialokasikan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti menyantuni orang miskin,” tandasnya.
Komunitas Lawang Ngajeng memiliki cara tersendiri untuk merayakan pergantian tahun. Wahyu dan komunitasnya lebih memilih melakukan tirakat dengan mengurangi makan dan muhasabah guna mengevaluasi kekurangan-kekurangan dalam setahun yang telah lewat. Selain itu, mereka juga menjadikan kesempatan ini sebagai momen silaturahmi dari berbagai kalangan. “Kita mengundang dari kalangan santri, buruh, hingga pelacur untuk berkumpul bersama,” katanya. []
Masuk: 31 Des 2011 (12:58 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi