| Lintas Agama lainnya |
Kesimpulan itu diperoleh dari survei The International Journal of Press dan Yayasan Pantau. Riset berjudul “Misi Jurnalisme Indonesia: Demokrasi yang Seimbang, Pembangunan, dan Nilai-Nilai Islam” dikerjakan oleh Lawrence Pintak dari Washington State University dan Budi Setiyono dari Yayasan Pantau.
Pintak dan Budi Setiyono melakukan survei terhadap 600 wartawan media (cetak/online, televisi, dan radio) yang tersebar di 16 provinsi. Provinsi yang disurvei antara lain Aceh, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, dan Sulawesi Utara.
”Kami tidak masuk Papua dan Ambon (Maluku) karena situasi di sana masih belum aman,” kata Ketua Yayasan Pantau Andreas Harsono dalam presentasi survei, Selasa (23/8).
Dari 600 wartawan yang diwawancarai, 85 persen beragama Islam, 7 persen Kristen Protestan, 4 persen Katolik, 3 persen Hindu, dan Buddha sebanyak 0,8 persen. Sebanyak 0,2 persen wartawan masuk dalam kategori lain-lain.
Survei menemukan 40,3 persen wartawan menjawab ”Indonesia” ketika ditanya identitas diri di atas segala-galanya. Jawaban ”muslim” sebanyak 39,7 persen, ”wartawan” sebanyak 11,7 persen, dan etnis sebanyak 2,3 persen.
Menurut Andreas, hasil ini menunjukkan tingkat independensi wartawan terhadap isu. Jika wartawan menyadari identitas utamanya sebagai wartawan, seharusnya identitas agama dan etnis tidak diutamakan. ”Ketika wartawan keluar rumah, identitas agama dan suku harus ditinggalkan,” ujar Andreas.
Kebanyakan wartawan yang diwawancarai mendukung isu pelarangan Ahmadiyah (64,3 persen), diikuti dukungan terhadap fatwa haram MUI terhadap liberalisme, pluralisme, dan sekularisme (63,5 persen).
Sedangkan wartawan yang mendukung UU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (63,1 persen), dan larangan terhadap majalah Play Boy (63 persen). Selanjutnya, dukungan terhadap jilbab (41,4 persen), hukum syariah (37,6 persen), poligami (20,3 persen), dan hukum cambuk (20,2 persen).
Peneliti Wahid Institute, Rumadi mengaku tidak terkejut mengetahu hasil survei tersebut. Menurut dia, survei mencerminkan sikap masyarakat terhadap isu agama. ”Wartawan cerminan masyarakat umum,” kata Rumadi.
Menurut Rumadi, orang Islam sulit memisahkan identitas agama dari profesinya. Rumadi ragu Indonesia mampu menampilkan diri sebagai bangsa yang toleran. ”Kita mulai berpikir (ulang) untuk menyebut Islam Indonesia itu toleran,” ujar Rumadi.
Jurnalis senior, Atmakusumah Asraatmadja mengatakan kecenderungan dukungan wartawan terhadap sejumlah isu itu karena masih terikat kebiasaan masyarakat dan pemimpin yang konservatif. ”Kalau pemimpinnya konservatif, sulit mengharapkan wartawan yang modern dan rasional,” kata Atmakusumah. []
© VHR Media
Masuk: 24 Ags 2011 (22:15 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi