| Lintas Agama lainnya |
Syamsi Ali adalah ulama yang menjadi imam di Pusat Kultural Islam di New York. Syamsi Ali mengeluarkan pernyataan tersebut bersama Rabi Marc Schneier usai salat Jumat (21/5). Rabbi Schneier adalah agamawan yahudi yang menjadi presiden Yayasan Saling Pengertian Etnis dari Sinangog New York.
Pernyataan Syamsil Ali itu berkaitan dengan penahanan tiga warga negara Amerika Serikat James Cromitie, David Williams, dan Onta Williams serta Laguerre Payen seorang warga Haiti pada Rabu (20/5) malam. Mereka ditahan karena berniat meledakkan dua tempat ibadah kaum Yahudi (sinagog) di wilayah Bronx, kota New York. Rencana mereka digagalkan oleh Biro Penyelidik Federal (FBI) berdasarkan rekaman pembicaraan para tersangka dengan seorang informan FBI yang menyusup ke kelompok tersebut.
Terbongkarnya kasus ini dimanfaatkan oleh mereka yang tidak sejalan dengan Barrack Obama untuk mengkritik rencana Presiden AS itu menutup penjara Guantanamo. Salah seorang yang bersemangat menyindir adalah Dick Cheney, mantan wapres era Goerge W Bush.
Berita tentang pernyataan mengutuk dari Syamsi Ali atas kasus tersebut dilansir oleh beberapa media, termasuk kantor berita AP dan AFP. Namun kedua kantor berita itu hanya memberitakan secara ringkas.
Bagi warga Amerika, New York Khususnya, sikap Syamsi Ali itu bukan sesuatu yang mengherankan. Selama ini ia dikenal sebagai tokoh Muslim yang berpengaruh di New York dan cinta damai.
Oleh karena itu Syamsi yang menjadi Ketua Masyarakat Muslim di New York belum lama ini mendapat penghargaan sebagai tokoh yang dianggap telah memberikan sumbangan kepada masyarakat maupun kepada kehidupan secara umum di Amerika Serikat, khususnya di kota New York.
"Alhamdulillah, ini penghargaan kedua yang diterima setelah oleh New York Magazine saya dinobatkan tahun 2006 sebagai tujuh tokoh agama yang paling berpengaruh di New York," kata Imam pada Islamic Center of New York yang asal Makassar itu lewat pesan elektronik kepada Antara di Jakarta, Jumat (8/9/2008).
Penghargaan yang diberikan kepada Syamsi termasuk sangat membanggakan karena hanya pernah diterima oleh individual-individual yang masyhur, seperti mantan presiden, tokoh politik Amerika, pebisnis sekaliber Donald Trump, altlet semacam Muhammad Ali atau tokoh dunia seperti mantan Presiden Majelis Sidang Uumum PBB, Sheikha Haya Rashid Al Khalifa.
Menurut Syamsi Ali, penghargaan atau medal award tersebut diberikan oleh Koalisi Organisasi Etnik (National Ethnic Coalition Organizations) bernama Ellis Island Medal of Honor Award.
Setiap tahunnya koalisi organisasi ini memberikan penghargaan kepada individu-individu yang dianggap telah memberikan kontribusi kepada masyarakat maupun kepada kehidupan secara umum.
Nama-nama yang mendapat penghargaan ini akan dituliskan di dinding gedung museum Ellis Island, sebuah pulau bersejarah karena tempat mendaratnya para imigran pertama kali di Amerika, katanya.
Rencana pemberian penghargaan kepada para penerima Ellis Island Medal of Honor Award 2009 berlangsung Sabtu, (9/5) di kota New York. Acara resepsi untuk para penerima penghargaan akan dilangsungkan Jumat malam, (8/5).
"Saya bersyukur kepada Allah SWT, bukan karena penghargaan kepada saya, tapi atas kenyataan bahwa Islam dan peranan komunitas Muslim di kota New York sudah diakui dan dihargai", kata Syamsi.
"Apalagi dengan melihat kepada kenyataan bahwa selama lebih tujuh tahun terakhir, Islam sedemikian disalahpahami dan dilihat sebagai momok yang menakutkan. Alhamdulillah, semoga ini adalah sinar di ujung terowongan" katanya.
Penghargaan ini bagi Indonesia merupakan kebanggan tersendiri karena baru pertama kali ini seorang warganya di Amerika Serikat mendapat penghargaan yang luar biasa.
"Rencananya Konjen RI di New York juga ingin sekali menyaksikan pemberian penghargaan itu. Tentu saya berterima kasih dan bangga karena ini adalah representasi bangsa sekaligus," demikian Syamsi Ali.
Profil M. Syamsi Ali, M.A.
Dai muda ini lahir 5 Oktober 1967 di Sul-Sel. Sejak lulus SD, Syamsi mulai menimba ilmu di Pesantren Muhammadiyah "Darul-Arqam" Makasar.
Pada akhir 1988, ia mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studinya pada the International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Tahun 1992 S1 dalam bidang Tafsir. Dilanjutkan pada universitas yang sama dan menyelesaikan S2 dalam bidang Perbandingan Agama pada tahnu 1994.
Selama studi S2 di Pakistan, Syamsi Ali juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran untuk mengajar pada the Islamic Education Foundation Jeddah, Saudi Arabia di awal 1995.
Pada musim haji tahun 1996, Syamsi Ali mendapat amanah untuk berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah Saudi Arabia. Dari sanalah bertemu dengan beberapa jamaah haji luar negeri, termasuk Dubes RI untuk PBB, yang sekaligus menawarkan kepadanya untuk datang ke New York, AS. Tanpa menyia-nyiakan, Syamsi Ali berhasil ke New York di awal tahun 1997.
Di New York inilah kiprahnya semakin luas. Selain menjadi imam di Masjid Pusat Islam New York, sejak 1997 Syamsi Ali memimpin Masjid Al Hikmah, masjid satu-satunya yang dimiliki masyarakat Indonesia di AS.
Selain menjadi pengasuh masyarakat Muslim di New York dan di AS pada umumnya, Syamsi Ali juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan komunitas muslim internasional dan terpilih sebagai Ketua Muslim Day Parade sejak 1998.
Syamsi Ali juga adalah salah satu pendidik Dewan Imam di Kota New York dan dipercayai mewakili umat Islam New York mendampingi Presiden AS George Bush ketika berkunjung ke Ground Zero pasca serangan 11 September 2001.
Syamsi Ali juga mewakili masyarakat muslim dalam perhelatan akbar "Pray for America" di Yankee Stadium setelah tragedi 11 September bersama mantan Presiden Clinton, Senator Hillary Clinton, serta pejabat tinggi New York lainnya.
Di kalangan pers, Syamsi adalah narasumber utama media-media massa New York, terutama dalam menanggapi suatu peristiwa penting.
Munculnya orang Indonesia sebagai pemuka Muslim di New York merupakan suatu hal yang cukup unik, karena meskipun Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun jumlah Muslim asal Indonesia yang berdomisili di kota tersebut relatif sedikit.
Dari sekitar 800.000 Muslim di New York, mayoritas adalah keturunan dari Timur Tengah, Asia Selatan (Pakistan dan Bangladesh), dan Afrika. Tiga kelompok mayoritas Muslim ini justru sering mempercayai Shamsi Ali sebagai pimpinan.
Di kantornya di Islamic Center of New York, Syamsi membuka kelas khusus tiap pekan bagi orang-orang non-muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam.
Di forum itulah ia ditantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis, terutama mengenai tindakan negatif dari kelompok-kelompok tertentu yang sering mengatasnamakan Islam. [rep]
Masuk: 23 Mei 2009 (13:33 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi