| Lintas Agama lainnya |
Nasaruddin mengatakan, Kementerian Agama menyusun terjemahan dan tafsir versi baru ini untuk memberi pemahaman atas arti ayat-ayat al Qur'an. "Terjemahan al Qur'an berpotensi mengajak orang beraliran keras," kata dia dalam simposium nasional "Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme" di Jakarta kemarin.
Menurut dia, potensi itu ada karena sedikitnya kosakata bahasa Indonesia. "Misalnya, kata 'cinta' dalam bahasa Indonesia hanya satu, padahal dalam al Qur'an ada 14 kata yang menyatakan 'cinta' dalam berbagai tingkatan," tuturnya.
Nasaruddin mencontohkan Surat Al-Baqarah ayat 191, yang menyebutkan "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka ...". "Ayat ini berpotensi disalahpahami," ujar Nasaruddin. Menurut dia, dalam terjemahan al Qur'an versi baru, hal itu lebih moderat.
Namun dia mengatakan terjemahan dan tafsir al Qur'an versi baru ini jangan dikonotasikan merupakan produk dominasi negara. "Bahaya, karena nanti akan timbul resistensi," ujarnya. Ia juga menyebutkan resistensi sudah muncul dari beberapa organisasi masyarakat.
Dia mengatakan, terjemahan dan tafsir al Qur'an versi baru ini bukan versi negara. "Ini produk bersama dengan masyarakat," kata dia.
Kementerian Agama juga melakukan upaya deradikalisasi lainnya, yaitu pembinaan pengurus masjid oleh 95 ribu penyuluh agama hingga ke pedesaan. []
© Tempo
Masuk: 29 Jul 2010 (22:45 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi