| Lintas Agama lainnya |
Radikalisme tersebut makin menggejala di tanah air mendapat tanggapan serius termasuk Konjen AS di Surabaya bahkan secara khusus menghendaki agar radikalisme itu harus dihentikan.
Perwakilan AS di Surabaya ini kini berkonsentrasi pada generasi muda agar terhindar dari nilai radikalisme apa pun.
Dalam upaya itu, Selasa (10/1), Konjen AS di Surabaya menggandeng IAIN Sunan Ampel Surabaya menanamkan nilai-nilai anti-radikalisme bagi kaum muda Surabaya, terutama para mahasiswa.
“Radikalisme adalah isu penting baik bagi kami (AS) dan Indonesia,” kata Konjen AS Kristen F Bauer, seperti dilansir Tribun News.
Ia mengaku siap membantu Indonesia mengatasi radikalisme di Indonesia. Setidaknya, saat ini dibuktikan dengan menyediakan sarana berbagi pemikiran dan ide untuk menangkal tren radikalisme. “Nanti akan muncul ide-ide baru mengantisipasi radikalisme,” katanya.
Dalam seminar itu dihadirkan pakar dari IAIN, tokoh pemuda dari HMI, PMII, dan lembaga mahasiswa Kristen.
Selain itu, para tokoh agama juga hadir termasuk Romo Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI).
Romo Benny menyatakan bahwa pendidikan antiradikalisme harus ditanamkan kepada generasi muda. Mereka harus memaknai media tidak hanya tersurat. “Perlunya mereka juga paham pendidikan media,” katanya.
Dia menyatakan, kekerasan berlatar belakang agama di Indonesia marak karena lemahnya penanganan hukum. Apalagi kekerasan itu tidak memunculkan simbol agama. “Mereka bawa senjata tajam. Ini kekerasan dan harus ditindak,” tandas Romo Benny.
Selama ini, pemahaman agama tidak dalam komunikasi iman. Ada yang menganggap bahwa agama dia yang paling benar. Seharusnya, masyarakat ditanamkan nilai-nilai cinta, berbagi, persaudaraan, yang sesuai konteks ke-Indonesia-an. Antarwarga negara Indonesia hidup berdampingan. []
Masuk: 11 Jan 2012 (14:32 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi