| Lintas Agama lainnya |
Di depan ribuan alumni dan santri Lirboyo yang menghadiri Musyawarah Nasional II Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal), Kiai Idris mengatakan upaya merongrong eksistensi pondok pesantren akhir-akhir ini semakin besar. Ada pihak-pihak yang menghendaki terjadinya perpecahan di tubuh pondok pesantren dan umat Islam dengan melancarkan propaganda. "Segala cara dihalalkan untuk menghancurkan pesantren," kata Kiai Idris di Aula Muktamar, Sabtu (17/7).
Indikasi gerakan ini, menurut Kiai Idris, tampak dengan munculnya kembali perdebatan pendapat dalam agama Islam atau khilafiah. Sejumlah persoalan yang telah diselesaikan oleh pengasuh pondok terdahulu terkait perbedaan pandangan kini kembali diungkit. Di antaranya adalah tahlil dan tawasul (amalan sunah yang disukai Allah).
Sebagian umat Islam terutama kalangan Nahdlatul Ulama mengenal tahlil sebagai zikir yang mempunyai keutamaan. Adab tahlil ini pada umumnya sering dilakukan pada saat suatu keluarga mengalami kedukaan. Amalan ini memiliki maksud untuk menghibur sang keluarga dari duka, dengan makna semua peristiwa yang terjadi di dunia merupakan ketentuan Allah SWT.
Pendapat ini dipertentangkan oleh kelompok lain seperti Muhammadiyah yang menganggap tahlil untuk kematian tidak ada. Perbedaan pendapat ini, menurut Kiai Idris, sebenarnya telah diselesaikan oleh pengasuh pondok terdahulu.Salah satu pengasuh Lirboyo yang getol meluruskan hal ini adalah almarhum KH Dzauhari Maksum. "Buat apa hal seperti ini dipertentangkan lagi?" kata Kiai Idris prihatin.
Kiai Idris mengungkapkan modus yang digunakan kelompok pengadu domba ini adalah memasukkan santri muda ke dalam pondok pesantren untuk memunculkan wacana tersebut. Dengan dibekali satu dua buah dalil, mereka didoktrin untuk merusak persatuan umat Islam dengan memanfaatkan perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Karena itu Kiai Idris menyerukan kepada seluruh komponen pondok pesantren dan alumni di Tanah Air untuk merapatkan barisan. Sebab gerakan seperti ini hanya bisa dilawan dengan persatuan yang kokoh di antara pondok pesantren dan alumninya. "Ini bukan soal salah paham, tapi memang paham mereka yang salah," tegas Kiai Idris. [ ]
© Tempo
Masuk: 17 Jul 2010 (19:16 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi