| Alkitab lainnya |
Namun, yang membingungkan adalah ketika ia memulai tulisannya dengan suatu nada pesimis, “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (1:2). Mengapa?
Pada pasal 3 ini, Pengkhotbah memberi jawaban atas usahanya menyelami misteri-misteri kehidupan yang terkadang sulit diterima oleh akal sehat.
[1] “Untuk segala sesuatu ada masanya”
“untuk apapun di bawah langit ada waktunya”
Ada dua kata kunci pada ayatnya yang pertama ini, yaitu “masa” dan “waktu.”
Pengkhotbah mau mengatakan bahwa untuk apapun juga di dunia ini, ada “masa”-nya dan ada “waktu”-nya.
Apa perbedaan antara “masa” dan “waktu”?
Dalam naskah aslinya, yaitu naskah Ibrani, kedua kata ini menggunakan kata “ZEMAN” dan “’ETH.”
ZEMAN adalah “waktu yang sudah ditetapkan.” Dalam Bahasa Inggris, diterjemahkan “season” (musim), artinya waktu yang memang harus dijalani karena sudah demikian adanya. Manusia tidak mungkin mengubah ZEMAN, selain menjalaninya apa adanya.
‘ETH adalah “waktu dimana sebuah peristiwa terjadi” sering juga diartikan “waktu biasanya.” Artinya, ‘ETH adalah waktu yang harus dikelola oleh manusia agar waktu itu menjadi berarti dalam rangkaian kehidupannya.
Dari dua kata ini, Pengkhotbah menekankan bahwa di dalam perjalanan hidup manusia, ada yang sudah di atur oleh TUHAN, yaitu ZEMAN, dan ada yang menjadi tanggung jawab manusia, yaitu ‘ETH.
Dengan demikian, kehidupan ini hanya dapat dijalani apabila manusia dengan penuh sukacita mensyukuri ZEMAN dan dengan penuh tanggung jawab mengendalikan ‘ETH.
Pengkhotbah melihat sejarah dunia sebagai lingkaran peristiwa, dimana TUHAN berdaulat dalam setiap peristiwa tersebut, tetapi menolak anggapan bahwa nasib manusia sudah ditentukan TUHAN sejak semula.
Pengkhotbah ingin mengatakan bahwa dalam ZEMAN, manusia tidak berkuasa melawan peristiwa itu, tetapi dalam ‘ETH, manusia berperan melalui “waktu” yang dimilikinya.
Karenanya, manusia harus aktif dengan segala perhitungan sebagai tanggung jawab yang kemudian “waktu” akan menuntutnya, sebab tidak selalu manusia berada di posisi yang menguntungkan (8:5-6; 11:9; 12:1).
Kitab Pengkhotbah bukan suara putus asa, justru mengajarkan orang bertanggung jawab dalam setiap waktu sebagai kesempatan, karena manusia mendapat kesempatan yang sama dalam lingkaran peristiwa tersebut.
Nada-nada putus asa hanya akan mengurung manusia dalam kecemasan, ketidakberdayaan dan bahkan kehancuran. Begitu juga dengan keluh kesah. Hidup dalam keluh kesah hanya akan menyengsarakan manusia itu sendiri, sebab keluh kesah tidak dapat mengubah apa yang sudah berlalu.
[2-8] “Ada waktu untuk ..., ada waktu untuk ...”
Pada ayat yang ke-2 hingga ayat ke-8, Pengkhotbah lebih menekankan apa yang ia maksud dengan “waktu” (‘ETH) dalam kehidupan manusia.
Pengkhotbah melukiskan waktu dengan kata-kata yang bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Ia hendak mengatakan bahwa kita punya kesempatan yang satu, tetapi juga punya kesempatan yang lain, jika kita tidak lakukan, kita sendiri yang sia-sia.
Contohnya: “lahir—meninggal”
Setiap yang dilahirkan akan menghadapi kematian. Tetapi persoalannya bukan pada “lahir” dan “mati,” sebab “lahir” dan “mati” adalah ZEMAN yang sama yang akan dihadapi semua orang.
Tidak ada gunanya menyesali “kelahiran” dan “kematian”, sebab yang terpenting adalah bagaimana waktu di antara kelahiran dan kematian itu, kita olah secara maksimal sesuai dengan kekuatan dan talenta yang TUHAN berikan kepada kita.
[9-10] HIDUP BERJERIH PAYAH
Jika tindakan manusia membuat ia kehilangan kebebasan, hanya karena tindakan itu ia jalankan sebagai konsekuensi dari dikte sebuah kekuatan yang lebih besar dari dirinya, maka apakah nilainya usaha itu?
Pengkhotbah menganggap bahwa manusia bersusah payah bukan karena sebuah nilai, tetapi karena tidak adanya nilai yang benar-benar nyata yang menjadi targetnya. Sebab, jika nilai itu benar-benar ia pahami, maka ia tidak perlu bersusah payah, tetapi sebaliknya, menikmati apa yang ia lakukan.
Setiap pekerjaan yang TUHAN berikan, mendorong manusia untuk menyadari bahwa tidak ada yang lebih memberi nilai dalam hidupnya selain mengucap syukur kepada TUHAN.
Manusia yang hidup dalam perhitungan-perhitungan akan setiap kesusahan hidupnya, tidak pernah menikmati dan menyelami nilai-nilai dari setiap pekerjaan yang berasal dari TUHAN.
[11] INDAH PADA WAKTUNYA
(11a) “IA membuat segala sesuatu indah pada waktunya”
Inilah kunci pemikiran Pengkhotbah, bahwa TUHAN tidak mungkin memberikan sesuatu yang buruk atau jahat bagi manusia. IA adalah TUHAN Yang Maha Baik, bagaimana bisa IA memberikan yang buruk apalagi jahat?
Yesus mengatakan, “BAPA-mu, yang di surga, ...menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik ...menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45). Artinya, TUHAN tidak pernah menahan kasih-NYA. IA memberikan kasih-NYA kepada semua orang.
Itulah juga sebabnya, dalam Mat. 7:11, Yesus berkata, “jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi BAPA-mu yang di surga! IA akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-NYA.”
Kasih TUHAN kepada manusia tidaklah terukur, karena itu, setiap peristiwa, hal bahkan musibah, bencana, ataupun malapetaka yang terjadi dalam kehidupan kita, bukanlah karena TUHAN membenci kita, tetapi karena IA sangat mengasihi kita.
Ingatlah perkataan Yesus dalam Mat. 6:26, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh BAPA-mu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”
(11b) “IA memberikan kekekalan dalam hati mereka”
TUHAN telah meletakkan dalam hati manusia kesimpulan dari segala “waktu”, tetapi manusia tidak dapat memahaminya. Penekanan pemikiran ini adalah pada kualitas ilahi (imago Dei) yang dimiliki manusia. Sebagai mahluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan TUHAN, maka manusia memiliki kemampuan untuk memahami keseluruhan “waktu” dalam sejarah. Tetapi, keterbatasannya membuat ia sulit memahaminya.
“manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan TUHAN dari awal sampai akhir”
Inilah yang sering tidak disadari manusia. Dalam setiap peristiwa hidup yang menyenangkan, kita sering lupa bahwa itu adalah pekerjaan TUHAN, tetapi dalam peristiwa-peristiwa hidup yang pahit, kita baru mengingat TUHAN dan mengeluh seakan-akan TUHAN harus bertanggung jawab atas kepahitan hidup kita.
Banyak misteri dalam hidup ini tidak dapat dimengerti oleh manusia. Kita dapat saja terus-menerus bertanya “mengapa?” tetapi tidak selalu pertanyaan itu mendapatkan jawabannya.
Alm. Eka Darmaputera berkata, “tidak semua pertanyaan di dunia ini tersedia jawabannya.” Lebih jauh ia menegaskan, “iman adalah jawaban dari semua pertanyaan di dunia ini, sekaligus pertanyaan dari semua jawaban yang ada.”
Inilah yang seharusnya menjadi pegangan hidup orang percaya. Sebab, mujizat terjadi bukan karena kita mengerti atau menemukan jawaban, tetapi karena kita beriman dan diberi jawaban! Amin!
© Yoses R
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 31 Mei 2008 (17:28 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi