| Alkitab lainnya |
Namun, siapa sebetulnya yang mendirikan jemaat di Roma? Para ahli Perjanjian Baru terus memperdebatkan hal itu. Secara tradisi, jemaat di Roma didirikan oleh Rasul Petrus. Tetapi, pandangan ini banyak ditolak para ahli Perjanjian Baru, sebab jika benar Rasul Petrus yang merintis jemaat di sana, tentulah Rasul Paulus menyinggung hal itu dalam suratnya.
Sama seperti umumnya jemaat-jemaat yang didatangi Rasul Paulus, yaitu jemaat-jemaat yang tersebar di luar Palestina, jemaat Roma juga merupakan jemaat yang majemuk. Apalagi, pada waktu itu, Roma menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Romawi, yang saat itu menjadi penguasa dunia.
Di Roma, terdapat dua kelompok Kristen yang dominan, yaitu kelompok Kristen Yahudi dan Kristen Yunani. Yang dimaksud dengan Kristen Yahudi adalah orang-orang Yahudi yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Mesias mereka. Kelompok ini berpusat di Yerusalem dan beberapa wilayah di sekitar Yerusalem. Mereka sangat menghormati Rasul Yakobus sebagai pemimpin mereka, sebagaimana dicatat dalam tulisan-tulisan Bapak-bapak Gereja.
Orang-orang Kristen Yahudi masih menjalankan semua tradisi Yahudi. Mereka beribadah pada hari Sabat, melakukan sunat dan tidak memakan makanan-makanan haram.
Sementara, yang dimaksud dengan Kristen Yunani adalah orang-orang non-Yahudi yang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka. Kelompok ini tersebar di berbagai kota, terutama di wilayah Asia Kecil, dimana Rasul Paulus dan Barnabas memfokuskan pelayanan mereka.
Umumnya, orang-orang Kristen Yunani menolak untuk menjalankan tradisi-tradisi Yahudi, sebab, mereka percaya bahwa Kristus telah datang untuk melepaskan keterikatan-keterikatan tradisi dengan Taurat.
Akibat perbedaan pemahaman ini, maka kedua kelompok ini, yaitu Kristen Yahudi dan Kristen Yunani, sering terlibat dalam perselisihan. Dalam berbagai suratnya, Rasul Paulus berkali-kali memberikan nasihat agar jemaat menghindari perselisihan-perselisihan semacam itu. Namun, rupanya perselisihan semacam itu terus saja berlangsung pada zaman itu.
Perselisihan itu pun rupanya terjadi juga di antara jemaat Roma. Karena itu, dalam pasal 15 ini, Rasul Paulus menegur jemaat Roma agar tidak terjebak dalam perselisihan itu. Apalagi, perselisihan itu mulai mengarah pada munculnya kesombongan-kesombongan rohani yang tidak mencerminkan persaudaraan dan kasih Kristus.
Ternyata, meskipun Rasul Paulus belum pernah berkunjung ke kota Roma. Namun, jemaat Roma sudah banyak mendengar mengenai sepak terjang pelayanan Rasul Paulus di kota-kota lain. Karena itu, mereka menantikan pengajaran-pengajaran Rasul Paulus bagi jemaat Roma.
Jika kita membaca keseluruhan surat Roma, maka kita akan menemukan kekhasan surat Roma dibandingkan dengan surat-surat Rasul Paulus yang lain. Salah satu ciri paling menonjol dari kitab Roma adalah padatnya ajaran-ajaran yang bersifat dogmatis.
Rasul Paulus banyak berbicara tentang doktrin-doktrin dasar kekristenan, mulai dari pandangannya tentang Injil, kebenaran, iman, hukum Taurat, dosa hingga kedaulatan TUHAN serta kemenangan orang percaya. Rasul Paulus baru berbicara tentang etika praktis pada pasal 12-15, hanya 4 pasal dari keseluruhan 15 pasal surat Roma.
Mengapa demikian?
Sebab, jemaat Roma adalah jemaat yang dewasa. Sebagaimana sudah dikemukakan di atas, kota Roma adalah pusat Kerajaan Romawi. Kota ini menjadi ibu kota pemerintahan Romawi, sehingga di sana menyatu segala kegiatan penting, mulai dari ekonomi, politik, sosial hingga pendidikan.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka Roma ibarat kota Jakarta, dimana segala pusat pemerintahan, ekonomi hingga pendidikan ada di sana. Roma bisa disebut kota metropolitan pada zaman itu. Banyak orang dari berbagai wilayah jajahan Romawi, datang ke kota ini dengan berbagai tujuan, termasuk untuk menyebarkan agama.
Namun, dampak negatif dari sebuah kota metropolitan adalah keadaan penduduknya yang sangat heterogen, sehingga memunculkan berbagai bentuk interaksi sosial. Terjadi banyak sekali percampuran budaya di kota ini, seiring dengan tingginya aktivitas orang-orang di kota ini.
Akibatnya, tantangan menjadi orang Kristen di Roma pun sangatlah besar. Mereka diancam dengan kepentingan-kepentingan sekuler, sekaligus mendapat tantangan dari masuknya ajaran-ajaran filsafat dan keagamaan populer yang datang dari berbagai wilayah.
Rasul Paulus sangat menyadari akan kondisi itu. Itulah sebabnya, ia membekali jemaat Roma dengan suratnya yang panjang lebar berbicara tentang doktrin-doktrin iman Kristen, tanpa lupa membekali mereka dengan etika-etika praktis.
Di sinilah letak kekuatan sebuah pemuridan. Pemuridan ditujukan untuk membekali jemaat agar memiliki landasan-landasan yang kuat serta kesanggupan untuk menghadapi tantangan di sekitarnya.
Persoalannya adalah, jika pemuridan menjadi fondasi bagi pembekalan jemaat, lalu apa yang menjadi fondasi bagi pemuridan itu sendiri?
Dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya garis-garis besar program pengajaran (GBPP) yang berisi garis-garis besar materi pengajaran yang akan diberikan kepada para peserta didik. GBPP ini akan menjadi acuan bagi para pengajar, yaitu guru, untuk menyusun materi-materi yang akan mereka sajikan kepada para peserta didik.
Nah, bagaimana dengan pemuridan atau pengajaran dalam kekristenan?
Nats yang kita baca pada malam ini memberikan jawaban yang tegas soal itu. Di sini, Rasul Paulus berkata, “hosa gar proegrafê” artinya “apa saja yang sebelumnya telah dituliskan.” Kata proegrafê, berasal dari kata pro- artinya “di depan atau sebelum” dan grafô artinya “mengukir atau menuliskan.” Jadi, kata ini secara harafiah berarti “yang telah dituliskan sebelumnya” atau “yang dahulu dituliskan.”
Kata proegrafê, yang digunakan oleh Rasul Paulus dalam nats ini merujuk pada Perjanjian Lama atau Tanakh, yang merupakan kitab suci atau Alkitab pada waktu itu. Pada waktu itu, Perjanjian Baru belum dikanonkan atau belum dianggap sebagai kitab suci, karena masih tersebar dalam bentuk surat-surat kepada jemaat-jemaat, bahkan sebagian kitab Perjanjian Baru belum dituliskan.
Rasul Paulus mengajak jemaat untuk melihat kembali kepada Alkitab serta memahami fungsi kitab suci dalam kehidupan jemaat. Di sini, Rasul Paulus berkata, bahwa Alkitab berfungsi untuk “menjadi pelajaran” (didaskalian).
Ini mengingatkan kita pada tulisan Rasul Paulus kepada Timotius. Dalam 2Timotius 3:16 Rasul Paulus berkata, “pasa grafê theopneustos kai ôfelimos pros didaskalian” (semua tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar).
“Pelajaran” dan “mengajar” identik dengan “pemuridan.” Dengan demikian, Alkitab hendaknya menjadi basis atau fondasi dari pemuridan. Gereja tidak bisa membangun pengajaran yang tidak berlandaskan Alkitab, tetapi hendaknya Alkitablah yang menjadi landasan dari semua bentuk pengajaran gereja.
Alkitab juga hendaknya menjadi alat uji untuk membuktikan apakah sebuah ajaran itu bisa diterima ataukah tidak.
Sekarang ini, banyak bentuk pengajaran yang dikembangkan seolah-olah berangkat dari Alkitab, tetapi sebenarnya tidak memiliki landasan Alkitabiah sama sekali. Untuk itulah, melalui pemuridan, jemaat diajarkan bagaimana secara cermat menilai setiap bentuk-bentuk ajaran yang berkembang.
Masalahnya adalah, bagaimana jika pemuridan itu sendiri ternyata tidak berlandaskan Alkitab?
Inilah yang perlu kita waspadai, jangan sampai gereja mengembangkan bentuk-bentuk pemuridan yang keluar dari Alkitab, lalu menjadikan aspek-aspek non-Alkitab sebagai fondasi pemuridannya. Ini sangat berbahaya!
Dampak semacam ini pernah dialami jemaat mula-mula, ketika sebagian jemaat mulai dikuasai oleh ajaran-ajaran yang lebih bersumber dari filsafat ketimbang Alkitab. Pada saat itu, gereja disibukkan dengan masuknya ajaran-ajaran gnostik, marcionisme hingga ajaran-ajaran lain yang mencoba mensinkretiskan ajaran-ajaran para Rasul dengan ajaran-ajaran yang bersumber dari pemahaman filsafat Yunani.
Memang tidaklah salah jika kita memang ingin mendalami filsafat. Filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan, bahkan teologi ikut mengalami perkembangan yang luar biasa akibat adanya sentuhan-sentuhan filsafat. Namun, adalah keliru jika kita menggantikan Alkitab dengan filsafat dalam hal basis atau landasan pengajaran-pengajaran gereja.
Jika itu yang kita lakukan, maka dampaknya adalah munculnya teologi-teologi baru yang cenderung mengikuti trend, ketimbang menyuarakan kebenaran Alkitab.
Pada abad ke-19 dan 20, bentuk-bentuk teologi semacam ini begitu merajalela di Eropa hingga Amerika. Pada periode ini, berkembang teologi-teologi seperti teologi evolusi, teologi sukses, teologi penderitaan, mistisisme, teologi liberal, fundamentalisme, neo-evangelikalisme, dan banyak lagi.
Banyak ahli teologi pada masa itu mencoba mengubah fondasi Rasuli dan Alkitabiah yang dimiliki gereja ke arah religio-filosofi baru, sebagai bentuk respon atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Akibatnya, kekristenan justru kehilangan jati diri, serta kian parahnya perpecahan gereja dimana-mana.
Jemaat yang tidak dibekali dengan pemuridan yang baik, juga menjadi korban dari pergerakan keagamaan pada waktu itu. Jemaat kehilangan fondasi dan dipaksa untuk ikut saja arus perkembangan itu. Alhasil, muncul berbagai aliran kekristenan yang tidak jelas landasan Alkitabiahnya.
Inilah bahayanya jika pemuridan tidak dilandasi lagi oleh kebenaran Alkitab. Secara perlahan, Alkitab akan tersingkirkan dari kehidupan jemaat, dan digantikan dengan bentuk-bentuk pengajaran kontemporer yang tidak jelas sumbernya. Alkitab hanya berperan sebagai pendukung, bukan lagi sumber utama dari pengajaran-pengajaran itu. Metode, sistematika bahkan isi pengajaran diambil dari sumber-sumber non-Alkitab, lalu diberi penguatan dengan ayat-ayat Alkitab, sehingga terkesan rohani, padahal sesungguhnya duniawi.
Contoh sederhana dari bentuk-bentuk pengajaran modern yang seperti ini adalah “teologi kemakmuran” atau yang juga disebut “Injil kemakmuran” yang berkembang di Amerika.
Teologi ini berkembang tak lama setelah berakhirnya Perang Dunia II. Namun, perkembangannya semakin pesat pada era 1990-an, ketika kekristenan kian akrab dengan para penginjil gaya baru yang disebut “televangelis.”
Para televangelis menyampaikan khotbah-khotbah mereka melalui jaringan televisi satelit ke seluruh dunia. Ini bukanlah hal yang aneh atau patut dicemaskan. Namun, yang mencemaskan adalah isi dari apa yang mereka khotbahkan.
Mengatasnamakan TUHAN dan Kristus, mereka mendorong jemaat untuk tidak segan-segan memberikan uang mereka guna membantu program pelayanan mereka, sehingga mereka menjadi jutawan-jutawan baru di Amerika Serikat, yang bebas dari sentuhan pajak negara.
Mereka menyusun strategi-strategi marketing dan bisnis, kemudian memberi kekuatan pada strategi-strategi itu dengan ayat-ayat Alkitab yang telah ditafsirkan menurut sudut pandang mereka sendiri. Inilah bentuk-bentuk penipuan atas nama Kristus, yang sungguh sangat memprihatinkan bagi kekristenan itu sendiri.
Bagaimana jemaat bisa memfilter bentuk-bentuk pengajaran palsu semacam itu?
Bentuk-bentuk pengajaran semacam itu hanya bisa difilter dengan pemuridan-pemuridan yang bersifat kontinyu dan berbasis utama pada ajaran-ajaran Alkitab.
Alkitab dapat menjadi perisai guna menangkal masuknya dan berkembangnya ajaran-ajaran palsu tersebut, bahkan sekaligus menjadi penuntun bagi jemaat untuk dapat terus melangkah pada jalur yang benar, yang sesuai dengan kehendak TUHAN. Amin!
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 21 Feb 2010 (13:05 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi