| Alkitab lainnya |
Dalam situasi yang serba tertekan, muncul berbagai bentuk kebimbangan. Iman mereka pun kian terkerus dengan beratnya salib yang harus mereka pikul. Mereka terus ditekan untuk meninggalkan iman mereka kepada Kristus.
Situasi semacam itu tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang dihadapi oleh gereja-gereja pada masa sekarang. Hanya saja, jika pada masa Petrus, jemaat menghadapi tekanan secara fisik, maka, pada masa sekarang, jemaat-jemaat menghadapi tekanan-tekanan secara pikiran.
Belakangan ini, kita dihantui dengan berbagai bentuk pengajaran yang tidak jelas asal-usulnya, tetapi diklaim sebagai ajaran-ajaran yang berasal dari Kristus. Banyak guru-guru palsu dan nabi-nabi palsu yang mengenakan jubah Kristen untuk menyesatkan domba-domba Kristus. Mereka menggunakan segala cara untuk mengelabui jemaat, sehingga secara perlahan, makin banyak orang yang akhirnya meninggalkan iman mula-mula, sebagaimana yang diajarkan oleh para Rasul.
Sementara hal ini terjadi, banyak juga jemaat yang mulai frustasi karena tidak bisa berapologia. Pikiran mereka seakan-akan buntu, sehingga muncul ajaran-ajaran yang bernada skeptik, tetapi terkesan seakan-akan menguatkan iman jemaat. Ajaran-ajaran itu antara lain ajaran tentang akhir zaman, yang dimanipulasi sedemikian rupa untuk menakut-nakuti jemaat, sehingga jemaat “dipaksa” untuk tetap mempertahankan imannya kepada Kristus.
Kita sering mendengar bagaimana pengajar-pengajar palsu mulai membuat kalkulasi-kalkulasi “nyeleneh” tentang akhir zaman. Mereka membuat analisa-analisa atas penyingkapan-penyingkapan dalam kitab Wahyu, lalu mencocok-cocokkan dengan keadaan dunia yang sekarang, dibalut dengan logika sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Bentuk-bentuk pengajaran semacam ini sangatlah berbahaya, sebab bisa melencengkan makna iman Kristen, mengaburkan alkitab, dan membutakan jemaat. Karena itu, sebagai orang-orang yang sama-sama dipanggil dalam satu kesatuan tubuh Kristus, marilah kita belajar dari surat Rasul Petrus ini, bagaimana memanfaatkan kesempatan di hari-hari menjelang kedatangan Yesus kembali.
[7a] “kesudahan segala sesuatu sudah dekat”
Kalau kita menerima berita semacam ini, maka reaksi kebanyakan orang Kristen sekarang ini adalah kuatir, cemas, bimbang bahkan takut. Ada semacam fobia terhadap hari kiamat yang terbentuk di dalam benak setiap orang percaya, seakan-akan akhir zaman adalah keadaan yang amat mengerikan bagi manusia.
Ditambah lagi, hingga sekarang ini, akhir zaman atau kiamat sering dilukiskan sebagai keadaan yang sangat mengerikan, sebagaimana dilukiskan dalam film-film ala Hollywood, seperti film 2012 yang sempat menghebohkan itu.
Bumi digambarkan hancur, meteor-meteor berjatuhan dan matahari berhenti bersinar. Inilah gambaran yang tercipta dalam benak kita tentang hari kiamat, sehingga kalau bisa, kita jangan sampai mengalaminya.
Padahal, Rasul Petrus tidak melihat akhir zaman itu sebagai keadaan yang harus kita cemaskan. Ia menggunakan kata “telos” di sini, yang berarti “kesudahan” atau juga “tujuan.”
Akhir zaman dipandangnya sebagai suatu tujuan hidup orang percaya, sebab ke sanalah kita akan menerima janji-janji Kristus. Kita akan dimerdekakan sebagai pemenang, dan bersama-sama dengan Kristus, kita akan memerintah segala bangsa.
Artinya, akhir zaman adalah kemenangan orang-orang percaya, sehingga seharusnya kita tidak dibikin ngeri dengan isu-isu kiamat. Sebaliknya, seharusnya kita dengan penuh syukur menantikan kedatangan Kristus itu, sebab kita sudah punya jaminan untuk memperoleh hidup yang kekal.
Lalu, apa yang harus kita lakukan di masa-masa terakhir ini?
Di sini, dengan jelas Rasul Petrus mengemukakan bahwa yang harus kita lakukan bukanlah menghitung-hitung dengan analisa-analisa palsu kapan kiamat itu datang. Toh, Yesus sendiri mengatakan bahwa “saat” itu adalah “saat” yang ditentukan sendiri oleh BAPA. Tidak ada seorangpun yang dikaruniai hikmat untuk mengetahui “saat” itu (Mrk. 13:32-33).
Jadi, kenapa kita menyibukkan diri dengan ramalan-ramalan palsu, dugaan-dugaan yang tak mendasar dan manipulasi firman TUHAN?
Rasul Petrus memberikan saran-saran praktis yang sederhana untuk menghadapi saat-saat terakhir:
1. [7b] “kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa”
Kata “kuasailah dirimu” menggunakan kata perintah “sofronêsate” yang berasal dari kata “sôfroneô.” Secara mental, kata ini berarti “memiliki mental yang sehat” yaitu bersikap waras, bukan seperti orang gila.
Secara intelektual, kata sôfroneô berarti “masuk akal” dan secara emosional, kata ini berarti “mampu untuk mengendalikan diri.”
Begitu luasnya makna kata ini, tetapi jika kita simpulkan, maka, makna kata sôfroneô ini sesungguhnya adalah “memiliki pikiran yang sehat.” Sebab, untuk bisa memiliki mental yang sehat, masuk akal dan mampu mengendalikan diri, semuanya terfokus pada sehat tidaknya pikiran seseorang.
Inilah tuntutan Rasul Petrus yang pertama bagi orang percaya dalam menghadapi akhir zaman, yaitu berpikiran sehat, tidak gegabah, tidak panik apalagi bersikap seperti orang yang tidak waras.
Hal ini diperkuat dengan kata “jadilah tenang,” dalam Bahasa Yunani menggunakan kata perintah “nêpsate,” yang berakar dari kata “nêfô,” secara harafiah, arti kata ini adalah “berpantang dari meminum anggur,” atau secara kiasan berarti “dalam keadaan sadar atau tidak seperti orang mabuk.”
Tujuannya adalah agar kita dapat memfokuskan pikiran kita pada doa, sebagaimana dijelaskan pada ayat 7 ini, “supaya kamu dapat berdoa.”
Bagaimana kita dapat fokus berdoa jika kita sibuk memikirkan kapan hari kiamat itu? Apalagi terlalu dihantui oleh ketakutan yang tidak perlu.
Jadi, berpikiranlah yang sehat dan jernih. Jangan terlalu mengada-ada, apalagi disibukkan dengan hal-hal yang justru menghalangi hubungan kita dengan TUHAN.
Bagaimana pun, pikiran adalah unsur terdalam yang ada pada manusia. Jika pikiran kita sehat, maka segala sesuatu akan dapat kita jalani secara sehat pula.
2. [8] “kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain”
Kata “kasihilah” di sini menggunakan kata “agapên” dari kata “agapê.”
Jika “pikiran” berbicara tentang inti terdalam di dalam diri kita, yaitu inti yang mengendalikan segala tindakan dan prilaku kita, maka “kasih” (agapê) berbicara tentang motivasi dari segala tindakan dan prilaku kita.
Segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya berlandaskan “agapê,” yaitu kasih TUHAN, kasih yang tidak menuntut, kasih yang tanpa pamrih.
Perhatikan bagaimana Rasul Petrus mencontohkan kasih agapê itu pada ay. 9-11:
a. (ay. 9) “Beri tumpangan tanpa bersungut-sungut”
Artinya, penuh dengan keikhlasan. Jangan mengharapkan pamrih dari setiap perbuatan baik kita, sebab TUHAN sendiri yang akan membalaskan setiap perbuatan baik yang kita lakukan kepada sesama kita, tanpa mengharapkan pamrih.
b. (ay. 10, 11) “Layani seorang akan yang lain sesuai dengan karunia yang kita peroleh”
Artinya, penuh dengan kesungguhan. Bukan dengan setengah hati, sebab, karunia yang TUHAN berikan kepada kita bukan setengah-setengah. Demikian juga dengan berkat TUHAN dalam hidup kita bukan berkat setengah-setengah, tetapi TUHAN memberikan kepada kita dengan takaran yang penuh bahkan melimpah. Semuanya itu diberikan secara cuma-cuma, sebagai anugerah dari DIA.
Karena itu, jangan perhitungan dalam membagi karunia dan berkat yang diberikan TUHAN kepada kita.
Jika kita tidak menahan dalam berbagi, maka TUHAN akan menambahkan dalam hidup kita secara berkelimpahan.
Dari keseluruhan uraian di atas, maka ada dua hal penting yang menjadi penekanan dari uraian ini, untuk membekali kita dalam menjalani kehidupan di zaman akhir ini:
1. Miliki pikiran yang sehat!
2. Miliki kasih yang ikhlas dan sungguh-sungguh!
Jika kita mampu melakukan keduanya, maka yakinlah, sekalipun kita tidak pernah tahu kapan Yesus akan datang kembali, tetapi sukacita iman akan terus kita alami dalam hidup keagamaan kita. Amin!
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 01 Mar 2010 (08:00 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi