| Alkitab lainnya |
Pada perikop sebelumnya (ay. 1-8), Yesus bercerita tentang perumpamaan mengenai seorang penabur yang menaburkan benih. Dari benih-benih yang ditabur itu, Yesus membaginya ke dalam empat bagian:
1. Sebagian benih jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis (ay. 5);
2. Sebagian benih jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering dan tidak mendapat air (ay. 6);
3. Sebagian benih jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati (ay. 7); dan
4. Sebagian benih jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.
Mendengar perumpamaan itu, murid-murid pun bingung dan bertanya-tanya apa maksud dari perumpamaan itu (ay. 9).
Uniknya, sebelum Yesus menjelaskan apa yang dimaksud dengan perumpamaan itu. Dalam Matius 13:1-24, penjelasan mengenai maksud pemberian perumpamaan oleh Yesus lebih panjang. Bahkan, Yesus mengutip nubuat Nabi Yesaya mengenai ketidakmengertian orang-orang yang tak percaya kepada Yesus (Mat. 13:15). Bahkan, dalam tulisan Matius, Yesus menguraikan betapa berbahagianya mereka yang mendapat karunia untuk memahami maksud dari setiap pengajaran Yesus (Mat. 13:17).
Dalam tulisan Lukas ini, penulis Injil Lukas tidak memberikan penjelasan yang cukup panjang mengenai hal itu. Lukas tidak mengutip nubuatan Nabi Yesaya dan tidak menjelaskan kebahagiaan khusus para murid yang memahami maksud dari setiap pengajaran Yesus.
Hal ini tentu saja disebabkan karena adanya perbedaan konteks pembaca kedua Injil ini. Injil Matius dituliskan untuk jemaat Kristen-Yahudi, yaitu orang-orang Yahudi yang menjadi percaya kepada Yesus. Sedangkan, Injil Lukas dialamatkan kepada jemaat umum, yang banyak didominasi oleh pengaruh budaya Yunani dan Romawi.
Itulah sebabnya, mengapa Matius mengutip nubuatan Yesaya, untuk menjelaskan kepada orang-orang Kristen-Yahudi bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah penggenapan dari nubuat para nabi terdahulu. Demikian juga Matius harus menjelaskan secara ditail kebahagiaan khusus yang diperoleh oleh murid-murid Kristus, untuk menunjukkan perbedaan dan keuntungan yang mereka peroleh dibanding mereka yang belum percaya.
Tetapi yang menarik adalah kesamaan penekanan antara Matius dan Lukas mengenai jawaban Yesus atas pertanyaan murid-murid-Nya. Kesamaan itu terletak pada kalimat “ta mustêria tês basileias tou Theou” (rahasia Kerajaan Allah), meskipun Matius menggunakan istilah “tes basileias tôn ouranôn” (Kerajaan Surga).
Matius dan Lukas sama-sama menggunakan kata “ta mustêria” (bentuk jamak). Berbeda dengan Markus. Markus menggunakan kata “to mustêrion” (bentuk tunggal) (Mrk. 4:11). Jadi, dalam Matius dan Lukas, sebaiknya diterjemahkan “rahasia-rahasia Kerajaan Allah (Mat: Kerajaan Surga).”
Artinya, ini berbicara tentang hal-hal yang belum diungkapkan secara jelas mengenai rencana Allah dalam membangun Kerajaan Mesias. Kata “rahasia” di sini bukan berarti sesuatu yang disembunyikan atau tidak boleh diketahui orang. Melainkan lebih tepat diartikan sesuatu yang terselubung.
Tujuannya jelas, yaitu untuk membedakan antara mereka yang benar-benar mengikut Yesus dengan mereka yang menolak Dia. Setiap orang yang benar-benar mengikut Yesus, maka mereka adalah murid-murid Yesus. Dan murid yang baik adalah murid yang mau belajar, sehingga bisa memahami apa yang diajarkan.
Dengan demikian, maksud dari hal ini bukanlah berarti bahwa Yesus membatasi keingintahuan orang. Tetapi sebaliknya bahwa rahasia-rahasia itu dipaparkan Yesus kepada semua orang yang mendengarkan ajaran-Nya. Hanya saja, jika kita sungguh-sungguh mendalami ajaran itu, maka kita bisa menemukan hakikat ajaran itu.
Jadi, yang terpenting di sini bukanlah sekedar apakah kita percaya dengan apa yang Yesus ajarkan. Tetapi lebih dari itu, yaitu apakah kita mendalami apa yang Ia ajarkan.
Di sinilah letak pentingnya kenapa kita harus terus-menerus mempelajari perkataan-perkataan Kristus dalam alkitab. Tujuannya bukan semata-mata supaya kita tahu, tapi lebih dari itu supaya kita menemukan “rahasia-rahasia” (mustêria) di balik setiap ajaran Kristus.
Rahasia-rahasia itulah yang akan membimbing kita pada pengetahuan yang benar akan Kristus, sehingga kita tidak dengan mudah dirusakkan oleh pengajaran-pengajaran yang sesat, yang keluar dari apa yang diajarkan oleh alkitab.
Sebab, sesungguhnya, para penyesat-penyesat yang berkedok “Kristen” ataupun yang “non-Kristen” adalah sama seperti yang dikatakan pada kalimat selanjutnya: “mereka memandang tapi tidak melihat, mereka mendengar tapi tidak mengerti.”
Kepada kita diberikan kitab yang sama. Kita diajarkan dengan ajaran-ajaran yang bersumber dari satu Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Tapi yang membedakan kita adalah jika kita mau mendalami kitab dan ajaran itu. Itulah yang membuktikan bahwa kita adalah sungguh-sungguh murid Kristus.
Selanjutnya pada ayat 11-15 Yesus menjelaskan arti perumpamaannya:
1. Benih yang ditabur (ay. 11)
Benih yang ditabur itu adalah “firman Allah” (ho logos tou Theou), yaitu Kristus itu sendiri serta pemberitaan-pemberitaan tentang Dia, baik oleh Dia sendiri, oleh para Rasul (dalam alkitab), maupun melalui penerangan Roh Kudus kepada gereja.
2. Benih yang jatuh di pinggir jalan (ay. 12)
Mereka yang mendengarkan firman Allah, tetapi dirongrong oleh Iblis, sehingga mereka tidak percaya dan tidak diselamatkan. Benih firman Allah itu tidak dapat tumbuh, karena mereka lebih dikuasai oleh Iblis ketimbang firman Allah.
3. Benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu (ay. 13)
Mereka yang mendengarkan dan menerima firman Allah, tetapi karena tidak berakar, disebabkan karena kekerasan hatinya, maka firman itu pun tidak bertumbuh dengan baik dalam hidupnya. Mereka menjadi sangat rapuh, sehingga ketika pencobaan datang, mereka pun menjadi murtad.
4. Benih yang jatuh dalam semak duri (ay. 14)
Mereka yang mendengarkan dan menerima firman Allah, tetapi karena hal-hal duniawi (kekuatiran, kekayaan, kenikmatan hidup, dll), firman itu tumbuh, tetapi tumbuh bersama-sama dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Alhasil, firman itu tidak berbuah dalam hidup mereka. Artinya, mereka hidup tidak sesuai dengan firman Allah.
5. Benih yang jatuh di tanah yang baik (ay. 15)
Mereka yang mendengarkan, menerima dan bahkan dengan tekun mempelajari firman Allah. Mereka itulah yang berbuah dalam hidupnya, sehingga ada kesesuaian antara apa yang mereka pelajari dengan apa yang mereka lakukan.
Dengan demikian, inti dari perumpamaan itu adalah bagaimana kita meresponi firman Allah dalam hidup kita. Respon itu tak cukup hanya sampai mengakar di hati kita, bahkan tak cukup hanya sampai bertumbuh dalam hidup kita. Tetapi harus sampai berbuah, sehingga orang lain pun turut memperoleh berkat TUHAN melalui firman Allah yang kita pelajari. [ ]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 23 Jul 2010 (18:51 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi