| Alkitab lainnya |
Cerita ini berada dalam rangkaian cerita untuk memperjelas perbedaan sikap dan cara pandang Yesus dengan kelompok Farisi. Bagian pertama (5:12-16) hanya menunjukkan secara umum perbedaan tersebut. Namun, pada bagian-bagian berikutnya, perbedaan itu semakin diperjelas:
1. Pernyataan secara terbuka keberatan kelompok Farisi dan ahli-ahli Taurat (5:21);
2. Teguran terhadap murid-murid Yesus (5:30);
3. Teguran terhadap murid-murid Yesus terkait dengan pelanggaran terhadap “kewajiban-kewajiban agama” Yahudi (5:33-34);
4. Teguran terhadap murid-murid Yesus karena pelanggaran terhadap Sabat (6:1);
5. Teguran terhadap Yesus karena pelanggaran terhadap Sabat (6:6);
Puncak dari konflik ini adalah munculnya upaya-upaya untuk menyingkirkan Yesus (6:11).
[17] “ketika [Yesus] sedang mengajar”
Yesus banyak memanfaatkan waktu untuk mengajar, baik di sinagoge, di dalam rumah (18, 19), maupun di tempat terbuka. Kali ini, Yesus sedang mengajar di sebuah rumah di Kapernaum (Mrk. 2:1).
“orang-orang Farisi”
Dalam tulisan-tulisannya, Lukas banyak menampilkan orang-orang Farisi sebagai orang-orang yang mengevaluasi segala pengajaran dan tindakan Yesus.
Banyak penafsir sering keliru menafsirkan tentang kelompok Farisi, akibatnya, banyak kalangan menilai bahwa Injil Sinoptik berkesan anti-semitik.
Para penginjil sebetulnya hanya menampilkan semacam karikatur tentang kelompok ini, termasuk yang dilakukan oleh Lukas. Sebab, pada masa itu, kelompok Farisi adalah kelompok yang paling berpengaruh di kalangan Yahudi. Tidak ada nada-nada anti-Farisi dalam Injil-injil Sinoptik, yang ada adalah kritik atau koreksi terhadap arogansi mereka.
Lukas sendiri, meskipun sering menampilkan kritik terhadap kelompok tersebut (Luk. 7:30; 11:39-44; 12:1; 16:14, dan band. Kis. 15:5), namun, ia beberapa kali mengungkapkan kedekatan Yesus dengan Farisi (7:36; 14:1) dan orang-orang Kristen dengan Farisi (Kis. 25:6-9; 26:4-8; band. 5:34-39).
“ahli-ahli Taurat” (“nomodidaskaloi” secara harafiah berarti “Guru-guru Taurat”)
Istilah ini hanya digunakan oleh Lukas. Matius dan Markus menggunakan istilah grammateus (ahli-ahli Kitab). Mereka berfungsi sebagai murid sekaligus guru Taurat Yahudi. Peranan mereka dalam pengadilan sangatlah besar. Lukas sering menyebut mereka nomikos, yang secara harafiah berarti “pengacara” (7:30; 10:25; 11:45, 46, 52, 53; 14:3). Mereka juga memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kekuatan politik di Yudea.
“dan sedang duduk” (terj. LAI “duduk mendengarkan”)
Mereka (orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat) sedang menyimak setiap ucapan Yesus. Mereka sedang meneliti atau menganalisis ajaran Yesus, sebab mereka sangat ketat dalam hal pengajaran. Setiap penyimpangan dapat berakibat fatal bagi si pengajar.
“mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem”
Menunjukkan bahwa mereka bukanlah semata-mata orang Kapernaum. Mereka telah mendengar (langsung ataupun tidak langsung) tentang Yesus. Popularitas Yesus serta kedekatan Yesus dengan banyak orang membuat mereka tertarik untuk menyelidiki tentang Yesus. Pada waktu itu, di antara mereka sendiri mulai berkembang isu-isu yang mengatakan bahwa Yesus adalah pengajar sesat.
Selain orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, juga datang banyak orang dari kota-kota tersebut, sebab, mereka telah mendengar kabar tentang Yesus (Mrk. 2:1-2).
[18] “Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur”
Markus menyebutkan mereka berjumlah empat orang (Mrk. 2:3).
“Lumpuh” adalah gambaran ketidaksanggupan dan ketidakberdayaan.
“mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus” [19] “Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus”
Tidak ada penjelasan apakah orang lumpuh itu percaya terhadap Yesus ataukah tidak. Namun, setidaknya orang lumpuh itu memiliki atau mengetahui dasar-dasar pemahaman teologi Yahudi pada waktu itu, dimana, sakit-sakit tertentu sering dikaitkan dengan dosa. Untuk dapat sembuh dari penyakit tersebut, ia harus terlebih dahulu insaf dari dosanya. Dalam tradisi Yahudi dikenal persembahan atau kurban sebagai bentuk pengakuan dosa.
Dalam kondisinya yang lumpuh, orang lumpuh itu tidak sanggup memenuhi ritual tersebut. Tetapi, apakah kemudian dia dibujuk untuk datang kepada Yesus ataukah dia yang memaksa teman-temannya untuk mengantarkannya kepada Yesus, para penulis Injil sama sekali tidak menceritakannya.
Lukas melihat bahwa kedatangan orang lumpuh itu adalah akibat dari tindakan iman orang-orang yang membawanya [20a] “Ketika Yesus melihat iman mereka...”
“Hai saudara, dosamu sudah diampuni”
Meskipun yang didambakan oleh orang lumpuh itu adalah kesembuhan secara fisik, namun, Yesus melihat lebih dalam. Kelumpuhan itu telah mengakibatkan penderitaan spiritual terhadap orang itu. Selama ia menghadapi kelumpuhan, pikiran bahwa ia telah melakukan dosa, selalu muncul dalam benaknya. Sebab, sebagaimana diuraikan di atas, bagi orang-orang Yahudi pada waktu itu, penyakit-penyakit tertentu, apalagi penyakit yang berlangsung cukup lama, adalah akibat dari dosa.
[21] “Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempertanyakan Yesus. Bagi mereka, Yesus telah menyetarakan diri dengan Allah, sebab dalam ajaran Yahudi, hanya Allah yang sanggup mengampuni dosa manusia. Bahkan, tidak ada sedikit pun ajaran dalam Yahudi yang mengatakan bahwa Mesias dapat mengampuni dosa.
Mereka tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, dan mereka tidak mengetahui bahwa Ia adalah Firman yang menjadi manusia.
[23] “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?
Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab. “Dosamu sudah diampuni” adalah pernyataan sederhana, tetapi mengandung resiko besar dalam teologi Yahudi. Tidak mungkin seorang manusia dapat berkata begitu, dan tidak ada bukti bahwa dosanya telah betul-betul dipulihkan.
Namun, karena penyakit selalu diidentikkan dengan dosa, maka mengatakan “dosamu sudah diampuni” seharusnya diikuti dengan sembuhnya penyakit.
“Bangunlah dan berjalanlah” juga merupakan pernyataan sederhana dengan resiko teologi yang sama dengan pernyataan pertama. Persoalannya, pernyataan kedua ini membutuhkan bukti yang jelas di depan mata, yaitu si lumpuh harus sembuh dari kelumpuhannya.
Jika si lumpuh sembuh, maka berarti dosa-dosanya juga telah diampuni.
Yesus memahami pemikiran Yahudi. Karena itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak sanggup memberikan jawaban terhadap pertanyaan itu. Pemikiran mereka telah menjebak mereka untuk diam.
Dampak dari tindakan Yesus: [25b] “memuliakan Allah” [26] “Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah” “mereka sangat takut”
Ada tiga ekspresi yang sangat kuat menjadi penekanan Lukas dalam ceritanya ini: takjub – takut – memuliakan
Ketiganya merupakan bentuk ekspresi religius yang sering digunakan orang-orang Israel terhadap Allah. Artinya, melalui karya Yesus tersebut, orang-orang melihat dan menyadari keagungan dan kemuliaan Allah.
Kesadaran itu tidak pernah mereka peroleh dari sekedar teori para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Karenanya, ekspresi itu kemudian ditutup dengan suatu pernyataan:
“Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan (paradoksa)”
Kata paradoksa berarti “hal-hal yang bertentangan dengan ajaran, opini, atau dugaan.” Suatu pernyataan yang wajar, sebab mereka tidak saja menyaksikan kesembuhan yang luar biasa, tetapi yang terutama adalah bagaimana seseorang bisa mengampuni dosa. [ ]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 22 Jul 2010 (22:02 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi