| Alkitab lainnya |
Contoh keindahan surat Rasul Paulus nampak dalam surat kepada jemaat Efesus. Ketika memasuki perikop ini, Rasul Paulus memulai suatu rangkaian paraenesis (bersifat nasihat). Menurut Albert Barnes, pada pasal 4, Rasul Paulus mulai berkonsentrasi pada konsep-konsep yang lebih bersifat praktis (etis). Sementara, pada bagian pertama (pasal 1-3), Rasul Paulus lebih banyak menekankan pada hal-hal yang bersifat teoritis (dogmatis).
Dalam perikop kita kali ini, marilah kita melihat sorotan Rasul Paulus mengenai panggilan terhadap orang-orang percaya untuk membangun dan bertumbuh sebagai satu tubuh Kristus.
PANGGILAN KITA (1-6)
Pada ay. [1] diawali dengan kata “sebab itu” (oun). Kata ini menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara apa yang sudah dituliskan dalam pasal-pasal sebelumnya (ps. 1-3) dengan apa yang dituliskan dalam ps. 4 ini.
Jadi, persoalan-persoalan yang menyangkut etika (ps. 4 dst) adalah persoalan-persoalan yang tidak mungkin begitu saja dilepaskan dari persoalan dogma atau pengajaran (ps. 1-3). Ini adalah dua kekuatan utama yang harus dikembangkan secara seiring sejalan. Kita tidak bisa mengembangkan dogma saja lalu mengabaikan hal-hal etis. Sebaliknya, hal-hal etis tidak dapat dikembangkan dengan mengabaikan dogma.
Itulah sebabnya, apabila kita belajar Etika Kristen, salah satu parameter ukuran etisnya suatu keputusan dan tindakan adalah menggunakan dogma. Bagi kekristenan, dogma adalah semacam konstitusi atau syariat yang harus menjadi acuan pertama.
Meski demikian, kekristenan bukanlah “agama hukum.” Kekristenan adalah agama yang berdasarkan pada pertimbangan etis, atau kita menyebutnya “agama kasih.”
Sayangnya, banyak orang mulai keliru memahami apa itu “agama kasih.” Kasih disini seakan-akan dipahami bahwa kita bebas dari aturan. Kasih dipahami sebagai kelonggaran yang tidak terbatas. Di sinilah letak kekeliruan kita dalam memahami “agama kasih.”
Kekristenan disebut “agama kasih” bukan berarti melalui kekristenan maka segala sesuatu menjadi longgar, termasuk perbuatan dosa. Tidak! Lebih tepat menyebut kekristenan sebagai “agama pemuridan.” Pengikut-pengikut Yesus selalu disebut “disciple” (murid), dimana jika dilihat dari kata “disciple” tidak mungkin dilepaskan dari apa yang disebut “discipline” (disiplin).
Disiplin adalah aspek yang tidak bisa kita abaikan dalam kehidupan kekristenan, baik bergereja, bermasyarakat, berkelompok, dan sebagainya.
Itulah sebabnya, pada ps. 4 ini Rasul Paulus berbicara tentang pentingnya “kesatuan jemaat” yang ia sebut pada ay. [3] “kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”
Nasihat Paulus mengenai “kesatuan jemaat” di sini agak berbeda dengan nasihat-nasihatnya kepada jemaat di Korintus. Nasihat-nasihat kepada jemaat di Efesus lebih bersifat umum dan prinsipal. Sedangkan, nasihat-nasihat kepada jemaat di Korintus, lebih tegas karena ancamannya juga sudah jelas.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak atau belum ada ancaman khusus terhadap “kesatuan jemaat” di Efesus. Jadi, nasihat ini menjadi semacam peringatan dini Paulus jika ancaman itu datang.
Kunci “kesatuan jemaat” menurut Paulus adalah pada pelayan-pelayan sebagai [1] “orang-orang yang telah dipanggil”. Karena itu, setiap orang yang telah dipanggil sebagai pelayan, hendaknya hidup “berpadanan dengan panggilan”
Hidup berpadanan dengan “panggilan” (klêsis), dijabarkan oleh Rasul Paulus pada ay. [2]: “...selalu rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu, dan memelihara kesatuan itu sendiri”
RUPA-RUPA KARUNIA (7-10)
Hal lain yang menurut Paulus tidak kalah pentingnya adalah kesadaran bahwa di dalam suatu fungsi pelayanan terdapat berbagai “kasih karunia” atau “kharisma” (kharis)
Tiap-tiap anggota jemaat menerima [7] “menurut ukuran pemberian Kristus”
Artinya apapun kharis yang dimiliki oleh masing-masing anggota jemaat, semuanya itu diberikan menurut kehendak-Nya. Karenanya, setiap kharis yang ada hendaknya digunakan untuk membangun dan menjaga kesatuan tubuh Kristus. Bukan digunakan sebagai kebanggaan pribadi apalagi sebagai alat untuk menghakimi yang lain. Sebab, semuanya diberikan menurut ukuran pemberian Kristus.
Kekeliruan kita selama ini adalah sering membanggakan karunia-karunia yang kita miliki. Ada orang yang dikaruniai berbahasa Roh, lalu menganggap orang-orang yang tidak bisa berbahasa Roh sebagai orang-orang yang belum dijamah Roh Kudus.
Ada orang yang punya karunia penyembuhan lalu merasa bangga seolah-olah hanya dia yang dipakai oleh TUHAN, bahwa kalau bukan dia yang berdoa maka jemaat tidak akan sembuh.
Karakter-karakter semacam inilah yang sangat merusak kesatuan Tubuh Kristus, yang dapat memecah belah jemaat dan mengacaukan pelayanan.
FUNGSI DAN JABATAN DALAM JEMAAT (11-12)
Selanjutnya Rasul Paulus berbicara tentang fungsi-fungsi dan jabatan-jabatan dalam jemaat. Rasul Paulus menyebut tentang “rasul-rasul” (apostolos), “nabi-nabi” (profêtês), “gembala-gembala” (poimên), “pengajar-pengajar” (didaskalos) dan “pemberita-pemberita Injil” (euaggelistês).
Baik fungsi maupun jabatan dalam jemaat diberikan Kristus bukan untuk memerintah atau memegang kuasa, tetapi melayani. Inilah yang akan menjadi prinsip dasar pelayanan Magen Avraham. Tidak ada fungsi atau jabatan dalam Magen Avraham yang menjadikan kita sebagai “pemerintah.” Semua fungsi atau jabatan haruslah dijalankan atas dasar panggilan kita sebagai “pelayan.”
Karena itu camkanlah apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 20:26-28 “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
PERTUMBUHAN DALAM PERSEKUTUAN TUBUH KRISTUS (13-16)
Jika masing-masing kita telah memahami mengapa ada rupa-rupa karunia dan mengapa ada rupa-rupa fungsi dan jabatan di dalam jemaat, barulah kita berpikir bagaimana membangun pertumbuhan dalam persekutuan Tubuh Kristus. Bagaimana pertumbuhan dalam satu Tubuh Kristus itu dapat diukur?
Bagaimana pertumbuhan itu dapat diukur?
Pada ay. 13-15, Rasul Paulus menyebutkan beberapa parameter sebagai ukuran apakah persekutuan kita adalah persekutuan Tubuh Kristus yang sehat dan berkembang:
1. [13] adanya “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah”
Inilah parameter yang paling utama, yaitu bahwa kita memiliki iman yang sama serta pengetahuan yang sama tentang Kristus.
2. adanya “kedewasaan penuh”
Dalam naskah Yunaninya menggunakan kata “andra teleion” yang secara harafiah berarti “menjadi manusia sempurna.”
Artinya ada tuntutan supaya kita terus-menerus mengarah pada kesempurnaan hidup. Memang manusia tidaklah lepas dari dosa, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti berusaha menjadi sempurna.
3. adanya “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”
Dalam 1Yoh. 2:6, Rasul Yohanes menulis, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
4. [14] adanya keteguhan kepada kebenaran
Keteguhan kepada kebenaran diukur dari solidnya pengajaran di dalam jemaat.
Rasul Paulus berkali-kali dalam suratnya mengecam berbagai bentuk ajaran yang memalsukan Kristus di tengah-tengah jemaat, yaitu ajaran-ajaran yang mengatasnamakan Kristus tetapi sebenarnya mengaburkan makna kehadiran Kristus di dunia ini.
Banyak sekali praktek-praktek gereja belakangan ini yang mengaburkan ajaran Kristus dan para Rasul. Ada gereja-gereja yang menekankan pada performance, sehingga ibadah menjadi seperti konser rohani. Ada gereja-gereja yang menekankan pada kesembuhan ilahi, sehingga pendetanya menjadi dukun rohani. Dan banyak lagi rupa-rupa penyimpangan fokus misi gereja.
Dalam Matius 28:19, sangat jelas sekali misi yang diberikan Kristus, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”
Untuk menjadikan murid, pertama-tama kita harus berpegang pada ajaran yang sudah ada. Itulah sebabnya Rasul Paulus lebih banyak berbicara tentang dogma dalam ps. 1-3 surat Efesus ini. Sebab, ajaran adalah kekuatan dasar suatu organisasi.
Jika kita masuk dalam sekolah militer dan bergabung pada suatu kesatuan, maka hal pertama yang akan dijadikan prioritas oleh para tutor atau guru di sana adalah menanamkan doktrin kebangsaan yang kuat. Sehingga, kita menjadi tentara yang memiliki jiwa kebangsaan dan patriotik yang tangguh.
Begitu juga ketika kita masuk dalam persekutuan Tubuh Kristus, maka kita harus lebih dulu dikuatkan dari segi landasan fundamental kita, yaitu pengajaran. Organisasi Kristen atau gereja yang pengajarannya tidak solid, adalah organisasi yang rapuh dan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran lain.
5. [15] adanya “pertumbuhan ke arah Kristus”
Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan, lakukanlah itu untuk Kristus, sebab Kristus adalah Kepala.
CAPAIAN PERTUMBUHAN
Pada ay. 16, Rasul Paulus menyimpulkan suatu capaian yang harus diraih oleh persekutuan Tubuh Kristus.
Ada tiga kata kunci di sini:
1. “rapi tersusun”
Artinya ditata dengan baik. Jika kita mampu menata dan me-manage organisasi-organisasi sekuler menjadi lebih baik, mengapa kita tidak melakukannya dengan organisasi yang mengarah pada Kristus?
2. “diikat menjadi satu pelayanan”
Ada fokus visi dan misi yang harus dikembangkan. Ada rupa-rupa karunia yang diberikan kepada kita, tetapi janganlah karunia-karunia itu malah digunakan untuk memecah-belah persekutuan, melainkan hendaknya karunia itu memperkuat pelayanan kita.
3. “bertumbuh dan membangun dalam kasih”
Artinya pelayanan itu tidak boleh stagnan. Pelayanan itu harus dinamis dan harus selalu bisa menjawab tantangan zaman.
Sekarang ini kita sedang memasuki zaman yang penuh dengan berbagai bentuk pemalsuan, termasuk pemalsuan ajaran. Oleh karena itu, kita harus diperkuat secara ajaran, sehingga kita dapat menjawab setiap tantangan yang ada. [ ]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 25 Apr 2010 (08:59 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi