| Alkitab lainnya |
Tidak hanya itu, tindakan Musa itu juga memicu amarah Firaun, sehingga ia berbuat lebih kejam terhadap orang-orang Ibrani. Akibatnya, Musa pun dibenci oleh bangsanya sendiri.
Karena itu, pelarian Musa ke Midian merupakan upayanya untuk bersembunyi dari amarah Firaun sekaligus upayanya untuk mengasingkan diri dari bangsanya yang membencinya. Pelarian ini juga merupakan bagian dari ketakutannya terhadap dirinya sendiri, sebab, ia menganggap dirinya telah celaka (Kel. 2:14).
Di Midian, Musa tidak sekedar mencari pengalaman, tetapi juga sibuk menyelesaikan konflik batin yang ia alami. Di Midian juga Musa menikah. Artinya, di sanalah Musa berhasil memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik dan melepaskan ketakutannya dari kejaran Firaun.
Di masa-masa pemulihan konflik batin itu, TUHAN menampakkan diri kepada Musa. Peristiwa penampakan TUHAN melalui nyala api ini dipercaya secara tradisi, terjadi 40 tahun sejak kedatangan Musa di Midian, atau ketika ia berumur sekitar 80 tahun (band. Kis. 7:30). Suatu periode yang panjang dalam sejarah kehidupan Musa, bahwa ia harus bersembunyi selama itu untuk mengobati traumanya di Mesir.
Bahkan Musa harus menunggu hingga Firaun wafat (Kel. 2:23) untuk bisa memulihkan batinnya dari rasa takut yang mencengkeram, mengingat karakter Firaun Mesir yang dikenal sangat kejam memperlakukan tahanan-tahanannya.
Selama 40 tahun masa penantian Musa itulah, umat TUHAN terus diperbudak di Mesir. Namun, TUHAN memang melatih Musa selama 40 tahun, untuk menuntun umat itu selama 40 tahun berikutnya.
[ay. 1] “Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba”
Menggembalakan kambing domba Yitro adalah bagian dari penyesuaian diri Musa terhadap keluarga barunya. Di sini juga ia belajar memperoleh kepercayaan, sebab dalam tradisi Midian, kambing domba merupakan salah satu modal hidup keluarga.
Lingkungan geografis Midian yang didominasi oleh pegunungan, juga menjadi pelatihan tersendiri bagi Musa, sebelum ia memimpin umat TUHAN melewati berbagai pegunungan. Namun, pelatihan itu tidak ia sadari, sebab dia sama sekali belum punya gambaran siapakah dirinya kelak.
Dalam pikiran Musa, pekerjaan sebagai gembala hanyalah sebuah pengalaman awal baginya. Karena itu, ia harus menjalankan pekerjaan itu sebaik-baiknya.
Di sisi lain, pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang istimewa dalam lingkungan Midian. Memang Yitro adalah mertua Musa. Jadi, Musa sebetulnya sedang dipercayakan untuk mengelola bisnis keluarga. Namun, status Musa sebagai penggembala menggambarkan bahwa ia belum diperhitungkan sebagai owner, melainkan masih sebagai karyawan biasa. Biasanya owner akan mengupahkan orang lain untuk menggembalakan kambing dombanya.
Meski demikian, kedudukan Yitro pada waktu itu cukup penting dan bergengsi dalam masyarakat Midian kuno.
Dalam Kel. 2:18-22 dikatakan bahwa mertua Musa bernama Rehuel (band. juga Bil. 10:29). Yitro adalah gelar keagamaan bagi Rehuel.
Nama “Rehuel” (Ibrani: Re’uel) sendiri berarti “sahabat El.” Jika nama ini dipadukan dengan gelar “imam” atau “pangeran” (Ibrani: kohen), maka menunjukkan bahwa agama Midian kuno juga memiliki penyembahan kepada “El” sebagai sembahan mereka. Dalam Kel. 18 menjadi nyata bahwa Yitro menyembah “El” yang sama dengan yang disembah oleh Musa
Kesamaan ini disebabkan karena bangsa Midian adalah keturunan Abraham juga, yaitu keturunan Abraham dari istrinya yang bernama Ketura (lihat Kej. 25:1,2). Artinya, kepada anak-anak Ketura pun, Abraham mengajarkan iman yang sama dengan yang diajarkan kepada Ishak, anak Sara.
Sebagai anak mantu seorang imam, tentu saja Musa mendapatkan banyak pengajaran dari Yitro, mertuanya itu. Pengajaran-pengajaran Yitro ini penting bagi Musa, mengingat ia tidak banyak dididik dalam tradisi Ibrani. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama ibunya, tetapi dalam status sebagai anak angkat putri Firaun. Setelah beranjak remaja, Musa harus tinggal di istana dan dididik dalam tradisi Mesir.
Dengan menjadi mantu Yitro, maka Musa kembali diingatkan akan siapa TUHAN yang disembah oleh Abraham.
Yang tak kalah penting juga dalam ayat ini adalah disebutkannya “gunung Allah” (har ha’Elohim), yaitu “gunung Horeb” (Ibrani: Horeva).
Gunung Horeb, di kemudian hari diberi nama Gunung Sinai. Nama “Sinai” diambil dari kata Ibrani “sene” artinya “semak duri” (lihat ay. 2), sebab TUHAN menyatakan diri melalui semak duri di gunung ini.
“Horeb” adalah nama kuno Gunung Sinai, sedangkan penyebutan “Gunung Allah” berasal dari tradisi kemudian, sesudah Musa. Di Gunung Sinai jugalah TUHAN menurunkan kesepuluh perintah (dasa titah) kepada Musa, sehingga Gunung Sinai menjadi sangat penting dalam sejarah Israel.
Yang menarik dalam penampakan TUHAN adalah simbol penampakan yang digunakan TUHAN. Pada ay. 2 disebutkan bahwa TUHAN menampakkan diri kepada Musa “di dalam nyala api yang keluar dari semak duri” (belabbath-esh mittokh hassene).
“Nyala api” (labbath-esh) menjadi simbol kehadiran TUHAN. Dalam tradisi bangsa-bangsa kuno lainnya, “api” memang selau identik dengan hal ilahi (kehadiran para dewa). Dalam peristiwa Musa, TUHAN tidak memilih penampakan lain, tetapi IA menggunakan cara yang lazim di dunia kuno. Nyala api itu tidak membakar semak duri.
Ini menggambarkan kekuasaan dan kehadiran TUHAN yang melampaui dewa-dewa yang dikenal dalam masyarakat pagan.
“Semak duri” (sene) merupakan gambaran umat yang terhilang. TUHAN mendengar erangan mereka, dan IA berseru dari tengah-tengah mereka kepada Musa. Semua itu, sudah masuk dalam rencana TUHAN, tetapi Musa belum memahaminya (Kel. 2:23-25).
[5] “tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, dimana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (ad’math-qodesh)
Konsep Bait Suci sebagai rumah kudus berawal dari sini, dimana kasut yang penuh debu harus ditanggalkan untuk memasukinya. Ini menggambarkan bahwa untuk menghampiri hadirat TUHAN haruslah dengan jiwa yang murni dan bersih.
Tradisi melepas kasut untuk masuk Bait Suci dilakukan oleh bangsa Yahudi sampai hari ini, khususnya pada hari raya Yom Kippur. Tradisi ini juga dilakukan oleh orang-orang Kristen Ethiopia dan orang-orang Islam.
Tetapi, sesungguhnya itu hanyalah simbolitas belaka, yang terpenting adalah bahwa kita memiliki jiwa yang murni dan bersih tatkala kita menghampiri hadirat TUHAN, sebab, TUHAN akan berkenan kepada mereka yang memiliki kemurnian dan kebersihan jiwa di hadapan hadirat kudus-NYA.
Kepada mereka yang berkenan di hadapan TUHAN, TUHAN akan menyapanya:
[ay. 6] “AKU-lah Allah ayahmu (Elohe avikha), Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.”
Inilah awal perkenalan TUHAN kepada Musa sebagai Allah Perjanjian, yang setia memelihara perjanjian-NYA dengan para leluhur Musa. Allah yang dulu menyatakan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub, adalah Allah yang sama yang menyatakan diri kepada Musa, dan Allah itu juga yang menyatakan diri kepada kita, melalui Anak-NYA, Yesus Kristus, Juruselamat dan satu-satu-Nya Perantara kita.
Perhatikan reaksi Musa ketika TUHAN menyapanya, “Musa menutupi mukanya.” Hal yang sama dilakukan Elia dalam 1Raj. 19:13, yang melambangkan kekudusan hadirat TUHAN dan keberdosaan manusia. Bahwa sesungguhnya, kita adalah orang-orang berdosa, yang seharusnya malu setiap kali berhadapan dengan TUHAN.
Tetapi, TUHAN yang kita sembah adalah TUHAN Yang Maha Pengasih. Meskipun kita adalah orang-orang berdosa, yang sering membuat DIA murka, tetapi IA senantiasa memperhatikan keadaan kita.
Perhatikan pada ay. 7-9 “AKU telah memperhatikan dengan sungguh (ra’o ra’ithi) kesengsaraan umat-KU” (band. 2:25) “dan telah mendengar (shama’ti) seruan mereka” (band. 2:23). “AKU mengetahui (yada’ti) penderitaan mereka” (band. 2:24)
TUHAN memperhatikan—mendengar—mengetahui jeritan umat-NYA. Inilah pegangan iman percaya kita, bahwa TUHAN tidak pernah meninggalkan kita, meskipun ada saat-saat dimana seakan-akan kita tidak merasakan kehadiran atau pertolongan TUHAN.
Bayangkan, orang-orang Israel harus menunggu sampai 40 tahun. Suatu penantian panjang yang menuntut kesabaran dan kesetiaan. Tapi, satu hal yang pasti bahwa TUHAN tidak mungkin meninggalkan kita. IA telah menentukan saat untuk karya-NYA. Bukan suatu karya yang fantastik, dalam arti bahwa TUHAN datang langsung membebaskan umat-NYA dari Mesir bersama bala tentara surgawi, tetapi karya yang terencana dan penuh makna. Bukan sebagai karya instan, tapi melalui suatu proses yang matang.
Ia memulai dengan proses recruiting, memilih dan melatih agen-NYA.
Dengan cara itu, TUHAN ingin melibatkan manusia dalam karya-karya agung-NYA. Dengan demikian, orang-orang yang tidak percaya kepada-NYA akan melihat bahwa karya itu begitu sempurna, yang dilakukan oleh Sang Maha Kuasa melalui umat-umat yang dikasihi-NYA.
Perhatikan bagaimana TUHAN merekrut agen-NYA. IA memanggil Musa dan berkata pada ay. 10 “Pergilah, AKU mengutus engkau.”
Mengapa TUHAN memilih Musa? Seorang pelarian yang sedang bimbang dengan masa lalunya?
Musa adalah seorang yang pernah menjadi anak kesayangan putri Firaun di istana Firaun, kini dipanggil untuk menentang Firaun. Ia pernah masuk dalam daftar nomor satu untuk dibunuh di Mesir, kini dipanggil untuk kembali ke Mesir. Ia adalah seorang yang tidak lagi dipercaya oleh bangsanya sendiri, kini dipanggil untuk membebaskan bangsanya.
Yang tak kalah pentingnya, ia adalah seorang gembala kambing domba, kini dipanggil menjadi “gembala kawanan domba TUHAN.
Dalam pandangan TUHAN, Musa adalah pribadi yang paling cocok untuk menjalankan rencana-NYA. Semuanya telah diperhitungkan TUHAN.
Musa memiliki kepedulian yang tinggi terhadap nasib bangsanya, sehingga ia rela membunuh prajurit Mesir yang bertindak sewenang-wenang terhadap bangsanya.
Musa juga memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi pemimpin bangsanya, yang telah sekian tahun menjadi budak di Mesir. Musa dibesarkan di istana Mesir, dididik dengan pendidikan ala istana Mesir. Ia dididik ilmu politik, militer dan pendidikan-pendidikan layaknya anak-anak raja di Mesir. Karena itulah, ia mampu membunuh prajurit Mesir yang juga dilatih berperang, bahkan ia mampu melarikan diri dari kejaran prajurit-prajurit Firaun. Menjadi buron selama 40 tahun, tanpa pernah ditemukan oleh Firaun.
Sebagai anak mantu seorang imam di Midian, Musa juga memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup. Maka, apakah yang kurang dari sosok Musa?
Tetapi, perhatikan apa kata Musa pada ay. 11. Musa berkata, “Siapakah aku ini?” (mi anokhi?)
Seringkali kita tidak menyadari potensi dalam diri kita sendiri, sehingga kita sering memiliki pertanyaan seperti Musa, “siapakah aku ini?”
Padahal, ada begitu banyak potensi dan kemampuan yang telah TUHAN berikan dalam diri kita. Jika kita menggalinya, maka kita pasti bisa menjadi pribadi yang handal, yang membanggakan bagi orang lain, dan terlebih bagi TUHAN.
Karena itu, jangan pernah meremehkan diri kita sendiri. Jangan hanya karena profesi kita yang tidak lebih baik dari orang lain, lalu kita menganggap bahwa kita bukan siapa-siapa. Ingat! Banyak orang sukses di dunia ini, berawal dari “bukan siapa-siapa.”
Ada satu kunci untuk menjadi orang yang luar biasa, perhatikan perkataan TUHAN pada ay. 12 “Bukankah AKU akan menyertai engkau?” (ki-ehye ‘immakh?)
Kunci keberhasilan dalam hidup kita hanya satu, yaitu apabila TUHAN beserta kita!
Itulah sebabnya Yesus diberi nama “immanu-El” artinya “Allah beserta kita.” Sebab, jika TUHAN Allah bersama-sama dengan kita, maka tidak akan ada yang mustahil bagi kita.
Jadi, andalkanlah TUHAN dalam setiap tindakan kita. Dengan demikian, kita akan menjadi agen-agen TUHAN, seperti Musa, yang mampu diangkat menjadi orang-orang yang diperhitungkan, menjadi pemimpin yang disegani, dan sukses dalam segala hal.
Persoalannya, bagaimanakah kita tahu bahwa TUHAN beserta kita?
Perhatikan kalimat selanjutnya pada ay. 12 ini, “inilah tanda bagimu, bahwa AKU mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka, kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”
Intinya ada pada kalimat terakhir, “kamu akan beribadah kepada Allah” (ta’avdun eth-ha’Elohim). Kata “ta’avdun” dalam Bahasa Ibrani memiliki makna yang cukup luas, tak hanya berarti “ibadah” tapi juga “bekerja” atau “melayani.” Kata dasarnya adalah “avad.” Dari kata inilah muncul istilah “eved” (abdi) dan “avoda” (ibadah).
Jadi, bukti atau tanda bahwa TUHAN beserta kita adalah apabila segala yang kita lakukan dan kerjakan, semata-mata kita lakukan dan kerjakan untuk TUHAN, bukan untuk diri kita sendiri. Itulah ibadah kita yang sejati kepada TUHAN. Amin!
Masuk: 03 Mei 2010 (09:05 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi