| Alkitab lainnya |
Harapan agar Indonesia menjadi negara yang maju tentulah menjadi harapan kita bersama. Bahkan, cita-cita membangun masyarakat yang adil dan makmur telah sejak dulu ditargetkan oleh para pemimpin bangsa.
Harapan itu terasa semakin dekat pasca-tumbangnya rezim Orde Baru. Ketika kita sama-sama memasuki era reformasi, yang dicapai dengan harga yang sangat mahal. Tidak saja dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya, tetapi juga dengan pengorbanan nyawa.
Namun, harapan membangun "Indonesia Baru" sepertinya kian terasa mustahil. Berbagai persoalan di negara ini yang tak kunjung selesai, menumbuhkan sikap-sikap pesimis terhadap perkembangan bangsa ini. Belum juga pulih kondisi bangsa akibat krisis ekonomi tahun 1997 silam, kini bayang-bayang krisis ekonomi yang lebih parah semakin meneror bangsa ini.
Siapkah kita menghadapi kondisi semacam ini?
Sikap pasif hanya akan menguburkan cita-cita "Indonesia Baru" dan bisa memenjarakan kita pada keadaan yang serba tak pasti seperti sekarang ini. Pada akhirnya, keputusasaanlah yang mengendalikan kita. Suatu kondisi kejiwaan yang dapat membuat kita menjadi hilang kendali.
***
Untuk membangun "Indonesia Baru" maka seyogyanya kita perlu mengambil "langkah baru." Langkah yang optimis dan pasti, yang akan menjadi cambuk bagi kita untuk maju membangun di tengah keterpurukan.
Langkah baru yang dimaksud adalah "pencerahan." Perubahan radikal dalam pribadi kita yang diawali dengan perubahan paradigma berpikir. Kita perlu melakukan pembebasan diri dari model keberagamaan yang tidak mencerahkan, sebab pada dasarnya, agama adalah sebuah pencerahan.
Yesus meminta orang percaya untuk menjadi "terang dunia." Dalam naskah Yunaninya, "terang dunia" menggunakan kata fos tou kosmou. Kata fos (terang) biasanya merujuk kepada matahari (Yohanes 11:9) yang berfungsi sebagai pemberi cahaya.
Kita harus menjadi cahaya. Dengan menjadi cahaya, maka apapun yang kita lakukan akan menjadi transparan bagi orang lain. Dalam ayat ini, Yesus berkata "Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."
Banyak kota di Yudea terletak di sisi atau di puncak bukit, sehingga orang bisa melihatnya dari kejauhan. Yesus menggambarkan demikian agar pendengar-Nya memahami apa yang dimaksudkan dengan menjadi cahaya. Menjadi cahaya berarti menjadi terbuka. Setiap prilaku kita tidak mungkin tersembunyi bagi orang lain.
Karenanya, menjadi cahaya berarti merubah cara hidup kita menjadi lebih baik. Menjadi teladan bagi banyak orang, sehingga dengan demikian, banyak orang akan mengikuti prilaku kita yang baik.
Ini adalah cara yang Yesus lakukan ketika Ia melakukan perubahan di Palestina. Kala itu, Palestina merupakan bangsa yang sedang dijajah oleh Romawi. Situasi masyarakatnya serba tidak menentu, sebab dimana-mana terdapat kelompok pemberontak, yang meskipun bermaksud membebaskan Palestina dari jajahan Romawi, namun, tak jarang mereka justru mengancam kehidupan warga lain.
Dalam situasi itu, Yesus tidak mengajarkan umat untuk ikut-ikutan memberontak, sebab pemberontakan hanya akan menyengsarakan bagi mereka sendiri. Yesus menunjukkan sikap teladan kepada mereka dan mengajarkan mereka bagaimana bersikap lebih bijaksana.
***
Cahaya juga membuat kita dapat melihat sebuah obyek dengan jelas. Artinya, menjadi cahaya juga perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, kita memperoleh kemampuan untuk lebih kritis dalam melihat berbagai hal, sebagaimana cahaya juga membuat kita dapat melihat wujud atau bentuk yang sebenarnya dari suatu benda.
Diperlukan kecerdasan untuk sanggup melakukan perubahan. Ini adalah salah satu aspek yang harus terus kita tingkatkan di negara ini. Marilah kita berkaca dari negara-negara lain, seperti Jepang, Korea, Cina, dan Singapura. Sama-sama merupakan negara yang bangkit dari keterpurukan, tetapi kenapa mereka kini sanggup bersaing dengan negara-negara sekaliber Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa? Salah satunya adalah karena mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dengan baik.
Pada akhirnya, menjadi cahaya juga berarti membuat orang lain dapat dengan jelas melihat jalan mereka. Pernahkah Anda melakukan perjalanan pada malam hari tanpa lampu ataupun cahaya sedikit pun? Betapa gelapnya jalan itu, sehingga Anda tidak bisa mengetahui dengan pasti kemana arah langkah Anda.
Negara kita saat ini sedang berjalan dalam kegelapan. Banyak orang tidak tahu lagi sedang melangkah kemana dan tidak memahami jalan apa yang sedang mereka tempuh. Betapa banyak orang yang kini hidup dalam kejahatan dan kebodohan.
Kasus-kasus kriminal, mulai dari pencurian, pemerkosaan, hingga pembunuhan merupakan bentuk kebutaan akibat kegelapan bangsa ini. Tugas kita adalah memberi cahaya dalam kegelapan itu. Menjadi pemberi petunjuk bagi orang lain. Bukan hanya dalam aspek rohani tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya, termasuk memberikan pencerahan bagi orang lain.
Marilah kita menjadi cahaya. Mewujudkan pencerahan bagi bangsa ini demi kemajuan bersama. Sebab, kesejahteraan Indonesia, adalah kesejahteraan kita bersama. Amin!
© Yoses R
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 12 Jun 2008 (12:23 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi