| Alkitab lainnya |
Mazmur ini diberi judul "mazmur atau nyanyian ziarah" (shir lema'aloth) atau dalam terjemahan Syria diberi judul "satu dari nyanyian-nyanyian saat keluar dari Babel" (band. Ezr. 7:9). Dalam Midrash Sifri, mazmur ini diberi nuansa mistik dan disebut "nyanyian di atas tangga-tangga, ketika TUHAN membimbing orang-orang benar ke dunia lain."
Kata lema'aloth berakar dari kata ma'ala, artinya "naik; mendaki; atau langkah." LAI menerjemahkan "ziarah" sebab kata ini memang sering juga digunakan untuk perjalanan ke Yerusalem. Hal ini disebabkan karena letak Yerusalem yang berada di perbukitan.
Johann Keil dan Franz Delitzsch tidak melihat kata lema'aloth dalam makna harafiah "tahapan perjalanan" melainkan dalam makna simbolik, sehingga Keil dan Delitzsch menafsirkan kata lema'aloth sebagai "tahapan berpikir" atau "tahapan pemikiran."
Dari segi bentuk sastranya, Hans-Joachim Kraus menafsirkan mazmur ini sebagai suatu bentuk dialog liturgis antara seorang peziarah dengan seorang imam. Ayat 1 merupakan pertanyaan dari sang peziarah, sedangkan ayat 2-8 adalah jawaban dari sang imam.
KEKUATIRAN DAN PENGHARAPAN
Ay. 1b "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung"
Ada dua kemungkinan mengenai kalimat ini. Pertama, Kata harim yang diterjemahkan "gunung-gunung" pada ayat ini sebetulnya tidak selalu berarti "gunung" dalam pengertian geologis, tetapi juga bisa berarti perbukitan yang tinggi dan terjal, termasuk perbukitan yang dijadikan pemukiman, misalnya Yerikho.
Yerusalem adalah kota yang dikelilingi dengan pegunungan dan perbukitan (band. Mzm. 125:2). Daerah-daerah pegunungan di sebelah timur Yerusalem adalah daerah yang berbahaya, bahkan sampai pada zaman Yesus (Luk. 10:30).
Pada zaman Perjanjian Lama, daerah-daerah itu kerap dijadikan persembunyian oleh tentara-tentara musuh. Pada masa Perjanjian Baru, daerah-daerah itu menjadi persembunyian pada pemberontak dan perampok.
Jadi, dalam pengertian yang pertama ini, kalimat "melayangkan mata ke gunung-gunung" dapat diartikan "kekuatiran akan ancaman dari luar."
Kedua, puncak-puncak gunung dan bukit di Palestina pada zaman dulu menjadi tempat para pencari keberuntungan dan keselamatan, terutama di kalangan penyembah berhala. Mereka berdoa dan mempersembahkan kurban di sana sambil mengharapkan perlindungan dan pertolongan dari para dewa.
Jika makna kedua ini yang kita ambil, maka kalimat "melayangkan mata ke gunung-gunung" dapat diartikan "mencari pertolongan dari para dewa."
Intinya, keduanya berbicara tentang adanya pengharapan dalam diri penulis untuk mendapatkan pertolongan dan keselamatan dari TUHAN.
Itulah sebabnya muncul pertanyaan penting dalam ayat ini, yaitu: "dari manakah akan datang pertolonganku?"
Ketika kita berada dalam pengharapan, maka, pertolongan dan keselamatan adalah yang paling utama yang kita butuhkan. Apalagi jika kita berada dalam kondisi tertekan dan diwarnai dengan berbagai kekuatiran akan apa yang akan terjadi kemudian.
Pertanyaan pemazmur di sini merupakan pertanyaan mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap memulai hari dan aktivitas kita, kita selalu berharap agar semuanya berjalan dengan mulus. Artinya, kita mengharapkan agar apa yang kita rencanakan atau apa yang kita inginkan dapat berjalan dengan baik.
Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan akan orang lain pun menjadi hal yang amat penting. Dengan demikian, dalam pengharapan itu, kita pun mendambakan agar orang-orang di sekitar kita dapat bekerja dengan baik sesuai apa yang kita inginkan.
Namun, kenyataan yang kita hadapi tak selalu persis dengan apa yang kita bayangkan. Jika kenyataan itu ternyata jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan, maka kita akan sangat bersyukur, tapi bagaimana jika sebaliknya?
Inilah yang membuat manusia terjebak dalam pengharapan, yaitu karena seringnya realita kehidupan itu berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kesadaran akan fakta ini membuat manusia senantiasa berharap dan terus berharap.
Dalam situasi sekarang ini, kita hidup dalam dunia yang samar-samar. Kita sulit membedakan antara hitam dan putih. Orang-orang yang sangat kita percaya kadang-kadang berubah menjadi parasit dalam hidup kita. Sebaliknya, musuh-musuh yang sangat kita benci, justru berbalik menjadi pendukung yang setia kepada kita.
Kita terpenjara dalam kenyataan yang sulit ditebak, sehingga pengharapan kita kadang-kadang menjadi sia-sia. Kita tidak bisa berharap lagi pada siapapun di dunia ini, sebab orang yang paling dekat sekalipun, sewaktu-waktu bisa menjadi duri dalam hidup kita.
Situasi ini jugalah yang kerap dihadapi oleh pemazmur, yaitu Daud. Ia pernah begitu setia mengabdi kepada Saul, tetapi kemudian menjadi buronan Saul. Ia pernah begitu bangga dengan anak-anaknya, tetapi kemudian berbalik hendak menjatuhkan martabatnya. Tak jarang ia sendiri harus mengorbankan orang-orang kebanggaannya demi ambisinya dan nafsunya.
Menghadapi kenyataan ini, maka Daud yakin bahwa ia tidak bisa sepenuhnya berharap pada manusia dan dunia ini. Ada "sesuatu" yang lebih besar, yang seharusnya menjadi penopang hidupnya, sekaligus sumber pengharapannya. Itulah yang ia jawab pada ayat 2 "Pertolonganku ialah dari TUHAN"
Puncak-puncak gunung dan bukit yang selama ini menjadi sumber pertolongan bagi masyarakat pagan Kanaan, justru berbalik menjadi ancaman ketika musuh, pemberontak dan perampok bersembunyi di sana.
Karenanya, hanya TUHAN yang layak menjadi sumber pertolongan. Sebab, DIA-lah "yang menjadikan langit dan bumi"
Kalimat ini menjadi kalimat liturgi dalam ibadah-ibadah Ibrani. Menekankan betapa pentingnya untuk tetap pada keyakinan bahwa IA adalah Pencipta alam semesta (Kej. 1).
Hanya kepada DIA manusia beroleh pertolongan.
[Ay. 3-6] PERLINDUNGAN DAN PEMELIHARAAN TUHAN
Pada ay. 3-6 Daud menggunakan gambaran perlindungan bagi seorang peziarah ketika ia berjalan mendaki gunung dan bukit.
Ay. 3 "Ia takkan membiarkan kakimu goyah"
Dalam perjalanan mendaki gunung atau bukit, kita akan sangat bertumpuh pada kekuatan kaki kita. Sekali kaki kita lemah, maka kita akan jatuh. Jadi, yang dimaksud dengan "takkan membiarkan kakimu goyah" di sini, artinya TUHAN akan memberi kita kekuatan, sehingga kita tidak akan jatuh.
"Jatuh" di sini memiliki pengertian yang cukup luas, baik jatuh ke dalam dosa maupun jatuh dalam pengertian mengalami kegagalan dalam usaha kita.
"Penjagamu tidak akan terlelap" (ay. 4) "sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel"
Banyak hal yang tidak terduga terjadi dalam hidup kita ketika kita sedang "terlelap" atau "tertidur." Tetapi, kita sendiri bukanlah orang yang kuat untuk tetap terjaga sepanjang hidup kita. Setiap orang akan mengalami keadaan tertidur, yaitu keadaan tak sadarkan diri, sehingga tidak bisa mengantisipasi apa yang terjadi.
Ini bukan dipahami dalam pengertian harafiah, seperti tidur di waktu malam atau tidur untuk mengumpulkan energi setelah beraktivitas. Namun, ini adalah gambaran Daud tentang perjalanan hidup manusia.
Setiap orang akan mengalami keadaan dimana ia tidak berdaya, tidak menyadari ancaman dalam hidupnya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi, TUHAN tidak pernah terlelap. IA akan menjaga kita bahkan di saat kita lengah dan tak berdaya.
Ay. 5 "TUHAN-lah Penjagamu"
Bukan malaikat, orang suci atau pengawal pribadi, melainkan TUHAN sendiri.
"TUHAN-lah naunganmu di sebelah tangan kananmu"
Dalam perjalanan hidup kita, hujan, badai, terik matahari dan udara dingin akan selalu menjadi tantangan tersendiri. Hidup ini penuh dengan masalah, hambatan, tantangan, rintangan bahkan ancaman. Setiap langkah dalam hidup kita tidak selalu merupakan langkah yang mulus. Baik hidup pribadi kita, keluarga maupun bangsa bahkan dunia.
Banyak masalah dapat kita atasi dengan baik, tapi tak jarang kita tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi masalah-masalah itu, selain mencari tempat berlindung. TUHAN-lah yang akan menjadi tempat perlindungan kita, sama seperti anak-anak rajawali dilindungi oleh induknya di bawah sayapnya yang perkasa.
Kalimat "di sebelah tangan kanan" menggambarkan pertolongan dan dukungan yang penuh dari TUHAN (band. Mzm. 16:8; 109:31; 110:5).
Ay. 6 "matahari tidak menyakiti engkau pada siang, atau bulan pada waktu malam"
Karena TUHAN adalah tempat berteduh, maka panas matahari dan dinginnya malam, yang merupakan simbol dari persoalan-persoalan hidup, tidak akan sanggup menyakiti.
"Tidak menyakiti" bukan berarti kita akan terbebas dari semuanya itu. Sebab, siapakah yang dapat mengembara di siang hari tanpa terkena sengat matahari? Siapa juga dapat mengembara di malam hari tanpa tertusuk dinginnya malam? Kita semua pasti pernah, sedang atau bahkan akan mengalami persoalan-persoalan dalam hidup. Sebab, persoalan-persoalan hidup itu tidaklah memandang muka. Persoalan-persoalan hidup dapat menimpah siapa saja, baik orang percaya maupun orang tak percaya, baik orang kaya maupun orang miskin. Siapakah yang dapat bebas dari persoalan hidup?
Tetapi, inti yang ingin dikatakan oleh Daud dalam ayat ini bukanlah "bebas dari semuanya itu", melainkan "tidak akan tersakiti oleh semuanya itu."
Dekat pada Tuhan seperti memberi antibodi dalam tubuh rohani kita, sehingga meskipun kuman-kuman dalam hidup ini menyerang kita, tetapi tubuh rohani kita memiliki kekebalan terhadap semuanya itu.
Justru setiap orang percaya dapat menikmati sukacita ilahi meski berada dalam persoalan terpelik dalam hidupnya. Bukan karena kita sedang mengalami ekstase rohani, seperti seorang pecandu narkoba merasakan sakit sebagai kenikmatan, tetapi karena kita sedang dibentuk oleh kepahitan hidup itu. Seperti ketika kita sedang meminum jamu yang pahit, yang bermanfaat dalam membangun kekuatan baru dalam tubuh kita.
Maka, apapun persoalan hidup yang sedang kita alami, jangan pernah bersungut-sungut karenanya. Sebab, jika kita percaya bahwa Tuhan adalah Pemilik dari seluruh hidup kita, maka yakinlah, IA tidak akan pernah membiarkan kita terjatuh. IA akan terus menopang kita dan mengantarkan kita sampai pada puncak kemenangan dalam perjuangan hidup ini.
[Ay. 7,8] UCAPAN BERKAT
Ay. 7 "TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan"
Kata "kecelakaan" tidak hanya berbicara tentang malapetaka di dunia, melainkan juga memiliki aspek eskatologis, yaitu "kebinasaan" (band. Yoh. 17:12)
"IA akan menjaga nyawamu"
Menyelamatkan di dunia (Mzm. 41:3; 97:10) dan di hari akhir (Yoh. 3:16)
"TUHAN akan menjaga keluar masukmu"
Band. Ul. 28:6 -Kalimat ini menekankan pada kelimpahan dan pemeliharaan yang TUHAN berikan (Ayb. 5:24 dan Mzm. 1:3; lihat juga Kej. 30:30 dan 39:5)
"dari sekarang sampai selama-lamanya"
Pada akhirnya, jaminan Tuhan menjadi lebih pasti: "sekarang sampai selama-lamanya." Bukan hanya berhenti pada saat ini, tetapi IA akan terus bekerja dalam hidup kita.
Jadi, jika kita pernah merasakan bahwa Tuhan pernah menolong kita keluar dari persoalan yang paling sulit sekalipun, yakinlah, Tuhan sanggup melakukan karya yang lebih besar dari itu sampai selama-lamanya. Amin! [oyr79]
© Yosi Rorimpandei
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 22 Mar 2009 (13:45 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi