| Alkitab lainnya |
Dalam 1Tim. 1:3 dikatakan bahwa ketika Paulus hendak ke Makedonia, ia meminta Timotius untuk tetap tinggal di Efesus guna mengawasi perkembangan ajaran di kota itu.
Dalam pasal 3 ini, Paulus berbicara tentang wewenang yang lebih besar bagi Timotius, yaitu wewenang untuk mengangkat dan mentahbiskan pejabat-pejabat gerejawi, dalam hal ini penilik jemaat (episkopos) dan diaken. Suatu wewenang yang cukup berat bagi seorang Timotius, sebab dalam 1Tim. 4:12 dikatakan bahwa Timotius masihlah muda.
Kata “muda” dalam 1Tim. 4:12 menggunakan kata “neotes.” Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Servius Tullius bagi warga Romawi pada masa itu, maka usia neotes adalah usia antara 17-46 tahun. Para ahli Perjanjian Baru memperkirakan bahwa pada tahun 50 M, Timotius telah menjadi asisten Paulus. Ketika itu ia berusia sekitar 18 tahun.
Surat 1Timotius diperkirakan ditulis tak lama setelah Paulus dibebaskan dari penjara, yaitu sekitar tahun 64 M. Maka, pada saat wewenang itu diberikan oleh Paulus, Timotius diperkirakan telah berumur 32 tahun. Usia yang relatif masih cukup muda pada waktu itu, untuk mengemban tanggung jawab mengangkat dan mentahbiskan pejabat gerejawi.
Yang menarik dari perikop ini (3:1-5) adalah ketika Paulus menuliskan syarat-syarat penting yang harus dijadikan acuan Timotius dalam mengangkat seorang penilik jemaat atau episkopos, yaitu uskup atau imam.
Pada zaman Perjanjian Baru, episkopos adalah jabatan fungsional dari seorang presbuteros (penatua atau tua-tua jemaat) (lihat penggunaan kedua istilah ini dalam Tit. 1:5,7 dan Kis. 20:17, 28). Tetapi pada masa kini, gereja-gereja telah membedakan kedua jabatan tersebut.
Bagi Paulus, jabatan episkopos adalah “pekerjaan yang indah” meskipun Paulus tidak menguraikan dimana letak keindahan jabatan ini. Namun, dari surat-surat Paulus kita dapat melihat bahwa yang dimaksud dengan “pekerjaan yang indah” adalah pekerjaan yang dikaruniakan TUHAN kepada orang-orang pilihan-NYA. Sehingga, tugas ini bukanlah tugas yang menuntut pertanggungjawaban kepada gereja semata-mata, melainkan tugas yang harus dipertanggungjawabkan kepada TUHAN sebagai Sang Pemberi Tugas.
Oleh karena tema Magen Avraham sepanjang bulan November ini adalah berbicara tentang “keluarga.” Maka, marilah kita melihat keterkaitan tugas ini dengan kehidupan keluarga.
“seorang yang tak bercacat” (ay. 2)
Kata “tak bercacat” di sini menggunakan kata “anepileptos.” Kata ini bukan berarti “tak bercacat” secara fisik, tetapi lebih pada moral dan kerohanian.
Artinya, “seorang yang tak bercacat” adalah seorang yang memiliki moral dan kerohanian yang baik, yang kemudian dijabarkan dengan syarat-syarat berikutnya: “suami dari satu istri”, “dapat menahan diri”, “bijaksana”, “sopan” dan “suka memberi tumpangan.”
Semuanya menjadi dasar pertimbangan moral dan kerohanian yang praktis untuk seorang episkopos, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang besar dalam kehidupan jemaat.
Untuk mengemban tugas dan tanggung jawab tersebut, Paulus memberikan syarat-syarat yang jika dibahasakan dengan bahasa sederhana, maka seorang episkopos adalah “seorang kepala keluarga yang baik” (ay. 4).
Artinya, ketika seseorang hendak mengajukan diri untuk memegang tugas dan tanggung jawab pelayanan, maka terlebih dahulu dia haruslah teruji dalam keluarganya sendiri. Jika ia adalah kepala keluarga, maka ia haruslah kepala keluarga yang baik.
Mengapa Paulus menjadikan keluarga sebagai wadah penguji?
Pertama, keluarga adalah wadah terkecil sekaligus terdekat dengan seorang pelayan. Dimana, di dalamnya ia berbagi tugas, tanggung jawab dan kasih setianya. Di dalam keluarga, seorang pelayan dituntut untuk mampu mempraktekkan kasih Kristus, sehingga dengan sendirinya, ia akan terlatih ketika harus menghadapi lingkungan pelayanan yang lebih luas, yang di dalamnya terdapat keluarga-keluarga yang bersekutu.
Kedua, keluarga adalah lembaga sakral yang dibentuk atas dasar janji setia di hadapan TUHAN dan jemaat sebagai saksi. Di dalam keluarga, suami dan istri diikat oleh ikatan kasih Kristus membentuk persekutuan kecil yang dituntut untuk mampu memelihara komitmennya di hadapan TUHAN dan jemaat.
Maka, keluarga adalah persekutuan Tubuh Kristus terkecil, dimana di dalamnya ada persekutuan (koinonia), pelayanan (diakonia) dan kesaksian (marturia).
“suami dari satu istri”
Ada dua hal yang diajarkan kepada kita ketika Kristus mengajarkan prinsip pernikahan yang monogami.
Pertama, menyangkut kesetiaan. Dalam pernikahan yang monogami, kita dituntut untuk setia pada satu-satunya pasangan hidup kita. Menerima dia dalam suka dan duka, menerima dia dalam keadaan sakit dan sehat, memahami karakter masing-masing, dan bersama-sama mengarahkan bahtera rumah tangga kepada kesatuan dengan Kristus.
Ini bukanlah hal yang mudah. Karena itu, adalah suatu kekeliruan apabila ada orang berkata, “seorang pria yang berpoligami adalah pria yang hebat.” Justru sebaliknya, “orang yang mampu mempertahankan pernikahan yang monogami jauh lebih hebat dari orang yang berpoligami.”
Kedua, menyangkut ego. Seorang yang hidup dalam pernikahan monogami dituntut untuk memiliki kemampuan menahan diri, sehingga hal ini terkait dengan syarat berikutnya yang diberikan Paulus pada ay. 2 ini, yaitu “dapat menahan diri.”
Kata “dapat menahan diri” pada ayat ini diterjemahkan dari kata “sofron” dalam Bahasa Yunani, yang harafiahnya berarti mampu untuk mengendalikan diri.
Pada ayat 4 dan 5 Paulus merangkum alasannya kenapa seorang pelayan Kristus haruslah orang yang teruji dalam keluarganya. Ia harus menjadi “kepala keluarga yang baik” yang “disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.”
“Disegani dan dihormati oleh anak-anak” tidak mungkin terdapat pada seorang ayah yang otoriter, tetapi lebih pada seorang ayah yang bijaksana, yang tidak saja mampu mendidik anak-anaknya, tetapi juga mampu memberi teladan yang baik, sehingga anak-anak merasa patut menyegani dan menghormati ayahnya. Bukan segan dan hormat karena takut, tetapi segan dan hormat karena mereka merasa layak untuk menyegani dan menghormati.
Dalam contoh sederhana, Paulus memberikan beberapa parameter praktis pada ay. 2 dan 3 tentang bagaimana seseorang dapat hidup baik sehingga layak disegani dan dihormati.
Akhirnya, marilah pertanyaan Paulus pada ay. 5 menjadi bahan renungan kita bersama, sebagai murid-murid Kristus yang siap untuk memuridkan orang lain. Simaklah dan renungkan secara mendalam pertanyaan Paulus ini, “Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” [oyr79]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 15 Jun 2010 (15:24 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi