| Alkitab lainnya |
Paulus berbicara soal hikmat sebab hikmat (sofia) adalah bagian yang sangat melekat dengan kehidupan orang-orang Korintus. Tak hanya orang percaya, orang-orang yang belum percaya pun memahami apa itu “hikmat” dalam tradisi Hellenis.
Kita mengetahui bahwa ada begitu banyak pecinta hikmat di wilayah-wilayah Hellenis. Mereka kita kenal dengan sebutan “filsuf” (dari Bahasa Yunani: filo “cinta” dan sofia “hikmat”). Dan rupanya penginjilan di tanah Korintus adalah model penginjilan yang khas yang digunakan Paulus, yaitu dengan melakukan transformasi budaya dan pemikiran, sebagaimana yang digunakan Paulus di Athena.
Transformasi budaya dan pemikiran adalah suatu metode penyampaian Injil dengan menggunakan budaya dan pemikiran setempat. Model seperti ini juga pernah digunakan oleh para penginjil Eropa ketika masuk ke Indonesia pada zaman penjajahan.
Banyak nilai-nilai budaya dan pemikiran lokal yang dimanfaatkan untuk menanamkan pengertian Injil yang sesungguhnya.
Kini, Paulus melihat adanya kekeliruan dalam model penginjilan itu. Sebab, ternyata Jemaat Korintus telah memaknainya secara mentah-mentah.
Mereka diberitahu bahwa Injil adalah “hikmat” (sofia), maka kini mereka berpikir bahwa segala sesuatu yang berbicara tentang sofia atau kata-kata yang dibumbuhi dengan sofia dapat disetarakan dengan Injil.
Ini telah menimbulkan perpecahan dalam Jemaat Korintus. Perpecahan yang terjadi juga cukup unik, sebab jemaat tidak terpecah karena perbedaan ajaran, melainkan karena faktor pengajar. Ada jemaat yang menjadi fanatik dengan pengajar tertentu, misalnya terhadap Apolos dan Paulus (1Kor. 1:12) juga Kefas (1Kor. 3:22).
Apolos adalah orang yang sangat fasih dalam berpidato, serta menguasai tafsir Kitab Suci (Kis. 18:24), sementara Paulus adalah seorang yang juga pandai dalam menafsir dan mengajar. Keduanya memiliki pengikut-pengikut fanatik di Korintus, dan masing-masing pengikut mereka saling berselisih dan mengagungkan guru mereka masing-masing berdasarkan ukuran sofia sang guru.
Untuk itulah, pada pasal 2:6-4:21 Paulus secara tegas dan gamblang berbicara tentang perbedaan antara sofia yang benar dan sofia yang palsu.
Mengawali pembicaraan tentang sofia yang benar dan sofia yang palsu, Paulus pada perikop ini (2:6-16) berbicara tentang ukuran sofia yang benar.
HIKMAT ALLAH
[6] “sungguhpun demikian” [de] – kata sambung “de” dalam Bahasa Yunani menunjukkan adanya peningkatan pemikiran dari pemikiran semula yang dikemukakan Paulus pada ay. 1-5
Pada ay. 1-5 Paulus melanjutkan pengantar suratnya pada pasal 1. Ay. 1-5 Paulus menjelaskan bahwa pada dasarnya ia hanyalah manusia biasa, sehingga sangatlah tidak wajar jika ada di antara jemaat yang mengagungkan kepandaiannya dalam menyampaikan firman TUHAN.
“kami memberitakan” [laloumen] – penggunaan kata “kami” di sini memperluas maksud Paulus, dari “aku” (ay. 1) menjadi “kami.” Artinya, Paulus tidak sekedar ingin meluruskan cara pandang jemaat terhadap dirinya saja (“aku”), tetapi juga terhadap guru-guru lain yang sama-sama memberitakan Injil.
“hikmat” [sofia] – Paulus menyebut Kristus, yang ia beritakan sebagai “hikmat Allah” [theou sofian] band. ay. 7
Karena itu, Paulus mengatakan bahwa hikmat yang ia beritakan bukanlah hikmat dari dunia dan bukan dari penguasa-penguasa dunia.
[7] “hikmat Allah” [theou sofian] – adalah hikmat yang “tersembunyi” [apokekrummenēn] dan “rahasia” [mustēriō]
“tersembunyi” artinya tidak mungkin ditemukan dengan akal manusia, sementara hikmat orang-orang Yunani sangat mengandalkan akal manusia
“rahasia” artinya tidak semua orang dapat memahaminya. Hanya orang-orang beriman yang sanggup memahami “hikmat Allah.”
“Hikmat Allah” itu sudah ada “sebelum dunia dijadikan.” Ini menunjukkan bahwa rencana keselamatan manusia telah ditetapkan Allah sejak semula, bukan merupakan gagasan susulan seperti dipahami oleh filsafat Yunani.
[8] Penyaliban Kristus merupakan bukti bahwa manusia, khususnya para penguasa dunia ini, tidak mengenal Kristus.
Tidak mengenal Kristus sama saja dengan tidak memahami rencana penyelamatan yang dikerjakan Allah.
[9] Paulus mengutip Yes. 64:4 dan 65:17, tapi tidak mengutip secara harafiah. Ini adalah jawaban Paulus terhadap pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang TUHAN. Paulus membenarkan bahwa TUHAN itu tidak terjangkau oleh akal manusia (band. konsep Plato tentang TUHAN).
Namun, ketakterjangkauan TUHAN itu tidak ditanggapi pasif oleh TUHAN. Pada ay. 10 Paulus mengungkapkan “kepada kita Allah telah menyatakannya [apokaluptō] oleh Roh.”
Apokaluptō artinya “menyingkapkan” atau “mewahyukan.”
Jadi, apa yang dianggap “rahasia” dan “tersembunyi” oleh hikmat manusia, telah dinyatakan sendiri oleh TUHAN kepada mereka yang beriman, melalui Roh Allah sendiri (band. ay. 11). Sebab, Roh berfungsi untuk “menyelidiki [ereunaō] segala sesuatu.”
Dalam hal ini, Paulus memberikan perbandingan dengan fungsi roh dalam diri manusia (ay. 11).
KARUNIA ROH KUDUS
[12] “kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah”
Roh Allah yang menyatakan hal-hal yang “tersembunyi” dan “rahasia” itu diberikan kepada setiap orang yang percaya dengan maksud “supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan [kharisthenta] Allah kepada kita.”
Artinya, “karunia” [kharismata] yang diberikan Allah melalui Roh Kudus kepada orang-orang percaya bertujuan untuk menyatakan hal-hal yang “tersembunyi” dan “rahasia.”
[13] Karunia itulah yang membuat Paulus dan guru-guru lainnya sanggup untuk “menafsirkan hal-hal rohani” [pneumatikois pneumatika sugkrinontes]
Kalimat “pneumatikois pneumatika sugkrinontes” secara harafiah berarti “membandingkan atau menghubungkan hal-hal rohani dengan hal-hal rohani.” Pengertian yang dimaksud Paulus di sini mengacu pada kesejajaran antara “kebenaran” dan “pemberitaan.”
Artinya, “kebenaran” membuktikan “pemberitaan” dan “pemberitaan” menyingkapkan “kebenaran,” sehingga keduanya bukanlah dua hal yang harus dipisahkan dalam pemberitaan Injil.
“kepada mereka yang mempunyai Roh” – yaitu jemaat yang mendengarkan ajaran-ajaran Paulus dan guru-guru lainnya.
Mereka bisa menerima apa yang diajarkan oleh Paulus dan guru-guru lainnya bukan karena kemampuan Paulus dan para guru itu semata, melainkan karena mereka juga memiliki Roh yang memungkinkan mereka untuk memahami ajaran-ajaran yang diberitakan.
[14-15] Paulus menegaskan kembali bahwa mereka yang tidak memiliki Roh Kudus, tidak akan memahami ajaran-ajaran yang ia dan guru-guru beritakan. Bagi mereka, ajaran-ajaran itu hanya akan dianggap sebagai kebodohan.
PIKIRAN KRISTUS
[16] Kunci dari segala pemberitaan Paulus dan guru-guru lainnya adalah “pikiran Kristus” [noun khristou], yang memampukan orang percaya untuk melihat segala perkara dalam sudut pandang Kristus. [MA]
© Magen Avraham
Masuk: 19 Sep 2009 (19:14 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi