| Alkitab lainnya |
Sebagai sebuah karya sastra, maka Kitab Ayub berisi filsafat yang dirangkaikan menjadi semacam prosa dan syair. Pendahuluan dan penutup kitab ini berbentuk prosa, sedangkan sebagian besar isinya merupakan syair yang dirangkai dalam bentuk dialog.
Naskah Ibraninya sendiri merupakan naskah yang sangat sulit untuk diterjemahkan. Para penafsir Septuaginta (LXX) mengalami kesulitan ketika menerjemahkan naskah ini, sehingga seperempat naskah asli kitab Ayub dinyatakan hilang.
Para ahli bahasa Ibrani mengatakan bahwa terdapat beberapa perikop dari naskah asli kitab Ayub tidak dapat diterjemahkan, sehingga muncul spekulasi yang mengatakan bahwa kemungkinan naskah asli Kitab Ayub bukanlah Bahasa Ibrani. Ada yang menduga Bahasa Arab ada juga yang mengatakan Bahasa Edom.
Namun, dugaan yang lebih banyak diterima adalah Kitab Ayub menggunakan dialek Ibrani yang berbeda dengan naskah-naskah Ibrani pada umumnya.
Kitab Ayub berisikan pemberontakan seorang teolog terhadap konsep-konsep filosofi yang kaku mengenai kehidupan, khususnya penderitaan dan dosa. Sahabat-sahabat Ayub digambarkan mewakili teolog-teolog ortodoks Yahudi, yang sangat kental beranggapan bahwa penderitaan adalah murni akibat dosa manusia.
Di sisi lain, diselipkan pemberontak-pemberontak spiritual lainnya, seperti diwakilkan oleh istri Ayub, yaitu kelompok-kelompok yang frustasi terhadap cara kerja TUHAN.
(1-5) AYUB, SIMBOL KESALEHAN
(1a) “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub”
Tanah Us belum diketahui pasti lokasinya, kemungkinan dekat Libanon
(1b) “orang itu saleh dan jujur” (tam we yashar)
Tam = “lengkap atau sempurna” -- Yashar = “jujur”
Septuaginta menerjemahkan dengan tiga kata: alethios (benar), amemptos (jujur), dikaios (adil), dan theosebes (saleh)
Ayub adalah gambaran manusia yang ideal secara religius. Ia tidak saja taat kepada TUHAN, tetapi juga mampu menjaga kekudusan dan memiliki prilaku yang sangat positif.
(2) “Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan”
Jumlah anak dalam adat Yahudi menggambarkan berkat TUHAN.
Artinya, Ayub adalah seorang yang diberkati TUHAN. Bukti berkat TUHAN dipertegas lagi pada ayat yang ke-3 dan ke-4. Ia adalah seorang yang kaya raya.
(3b) “sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur” (wayehi ha ish ha hu gadol mi kil-benei-qedem)
Kata “gadol” bukan sekedar “kaya” tapi lebih cocok diartikan “seorang yang termahsyur” artinya orang yang kaya dan dihormati bahkan disegani oleh banyak orang.
(5) Kesalehan Ayub
Dapat dilihat dari kejujuran dan keterbukaan serta kebaikan hatinya, mencakup kepedulian terhadap anak-anaknya, sebagai imam keluarga, bertanggung jawab terhadap kehidupan iman anak-anaknya.
Ia taat dan tekun dalam kehidupan keagamaannya. Lihat ay. 5a “Setiap kali” (wayehi) ... “pagi-pagi bangun” (hish’kim ba boqer)
(6-19) IBLIS, SIMBOL KEHANCURAN
Penulis kitab Ayub menghadirkan Iblis sebagai figur yang unik. Iblis dihadirkan sebagai sosok yang melakukan tawar-menawar dengan TUHAN.
1. Iblis tidak pernah yakin dengan kemampuan manusia (ay. 9)
Ketaatan dan kesalehan adalah suatu kebanggaan bagi TUHAN, tetapi merupakan suatu kegusaran bagi Iblis. Maka, apalah artinya kesalehan jika itu hanya ditunjukkan dalam keadaan yang “serba ada” (kaya raya dan dihormati).
Iblis bertanya, “Bagaimana jika kondisi Ayub itu terbalik?” (band. ay. 9)
Jadi, bukan Iblis yang membuat manusia goyah, tetapi Iblis hanya memanfaatkan realita dunia untuk mempengaruhi iman manusia.
2. Iblis dapat memanfaatkan berkat TUHAN untuk menghancurkan iman manusia (ay. 12)
Jika iman hanya bergantung pada berkat TUHAN, maka ketika berkat itu digunakan atau dikuasai Iblis, Iblis akan dengan mudah mengendalikan manusia mengikuti keinginannya
3. Malapetaka tidak selalu identik dengan dosa (ay. 14-19)
Malapetaka atau bencana atau kehancuran boleh jadi merupakan ujian atas iman manusia. Seberapa sanggup manusia mempertahankan imannya ketika ia berada dalam tahapan kritis dalam kehidupannya?
Dapatkah kita berkata “TUHAN aku percaya dan beriman pada-MU” ketika kita tidak merasakan ada perlindungan TUHAN dalam hidupa kita?
Umumnya manusia hanya bersaksi atas berkat, anugerah dan perlindungan TUHAN. TUHAN hanya dipuja dalam situasi-situasi yang menguntungkan, tetapi tidak sedikit orang yang akhirnya meninggalkan TUHAN ketika ia merasa tidak mendapatkan apa-apa.
Ibarat hubungan rumah tangga, iman terkadang bergantung pada kondisi:
Selama suami kita sanggup menafkahi kita, maka cinta kita tulus kepadanya, bagaimana jika sebaliknya?
Selama istri kita mampu melayani kita, maka kasih sayang kita tercurah padanya, bagaimana jika sebaliknya?
Cinta kita kepada TUHAN terkadang adalah cinta yang selalu menuntut balas, bukan cinta yang lahir karena kesadaran bahwa kita memang harus mencintai TUHAN.
(20-22) KETEGUHAN IMAN
(20) “mengoyakkan jubahnya” “mencukur kepalanya”
Ini adalah tradisi orang-orang Ibrani ketika ia berduka (band. Kej. 37:29; Ul. 14:1; Ezr. 9:3; Yes. 15:2; dsb), biasanya diikuti dengan menaruh abu di atas kepalanya.
(21) “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
Ayat 21 merupakan kunci dari keseluruhan Ayub 1:1-21
“dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku” – Manusia dilahirkan tanpa apa-apa. Tanpa kekayaan, tanpa harta, tanpa kekuasaan, tidak berdaya dan lemah.
“dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya” – Manusia mati juga tanpa apa-apa
“TUHAN yang memberi (nathan), TUHAN yang mengambil (laqakh), terpujilah nama TUHAN!” – Segala sesuatu hanya karena anugerah (nathan) TUHAN. Segala kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan berada di tangan TUHAN, maka sudah selayaknya semuanya itu dikembalikan untuk kemuliaan nama TUHAN.
Ayub menyadari, bahwa kebaikan TUHAN tidak mungkin dikhianati hanya karena realita dunia berbalik. Semua itu milik TUHAN, maka TUHAN-lah yang berhak atas segala sesuatu. Manusia tidak berhak untuk menuntut apa-apa, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup membalas kasih setia TUHAN. /MA/
© Magen Avraham
Masuk: 19 Sep 2009 (19:27 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi