| Alkitab lainnya |
Namun, dalam dunia kekristenan mula-mula, model surat seperti 1Petrus ini adalah hal yang biasa, dimana ada orang atau kelompok lain yang menuliskan surat atas nama para rasul, kemudian dikirimkan ke jemaat-jemaat yang dibesarkan atas jasa rasul tersebut.
Jadi, siapapun penulis surat 1Petrus ini, tentulah seorang yang dekat dengan Petrus atau bahkan Petrus sendiri, sehingga isi surat ini dapat dipertanggungjawabkan secara iman sebagai surat yang memiliki otoritas Petrus.
Sebagaimana pendahuluannya, surat ini dikirimkan kepada “orang-orang pendatang” yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Istilah “orang-orang pendatang” di sini merujuk pada persekutuan-persekutuan jemaat, yang di dalamnya terdapat orang-orang Yahudi dan non-Yahudi, yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus. Jadi, jangan dipahami bahwa “orang-orang pendatang” di sini adalah orang-orang asing. Ini hanyalah istilah khusus yang digunakan Petrus untuk menyebut perkumpulan orang-orang percaya yang ia kirimi surat.
TAFSIRAN
[2] “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana TUHAN”
Menarik sekali bahwa Petrus memulai dengan suatu konsep teologis yang sangat akrab di antara jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu, yaitu “Konsep Pemilihan.”
Kita tahu bahwa awal Karya Keselamatan yang dilakukan TUHAN dimulai dengan “pemilihan.” Dimana TUHAN memilih Nuh dari antara orang-orang yang pada masanya mengalami kebobrokan moral (band. Kej. 6:8).
Jadi, konsep pemilihan adalah ketika TUHAN memilih orang-orang percaya untuk diselamatkan. Pemilihan itu dikatakan “sesuai rencana TUHAN.” Pemilihan itu bukan tanpa dasar, tetapi TUHAN memilih orang-orang yang betul-betul melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan kepadanya.
Lalu ada orang bertanya, “Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah kita, yang telah mengikuti Kristus, termasuk orang-orang pilihan itu?”
Bukan ketika kita mengaku percaya kepada Kristus, lalu kita menjadi bagian dari “orang-orang pilihan” melainkan apakah kita sanggup bertahan dalam iman kita kepada Kristus, itulah yang menentukan.
Siapa saja dapat dengan mudah mengucapkan pengakuan percayanya kepada Kristus, bahkan menerima sakramen baptisan kudus, tetapi tidak semua orang sanggup hidup dalam iman kepada Kristus hingga akhir hayatnya. Hanya orang-orang yang sanggup hidup dalam iman itu yang layak disebut “orang-orang pilihan.”
“dan yang dikuduskan oleh Roh supaya taat kepada Yesus Kristus”
Artinya, setiap orang pilihan adalah orang yang telah “dikuduskan oleh Roh Kudus.” Ini adalah konsep kedua menyangkut Karya Keselamatan, yaitu “Konsep Pengudusan.” Konsep Pengudusan bukanlah karena kita “kudus” melainkan karena pekerjaan Roh Kudus. Roh Kuduslah yang membuat kita kudus, supaya taat kepada Kristus.
Karenanya, ketika kita mengikrarkan diri kita sebagai “orang percaya,” yaitu sebagai pengikut-pengikut Kristus, maka kita harus memiliki komitmen untuk tunduk pada Roh Kudus. Sebab, hanya Roh Kudus yang sanggup memberi kita kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan dan setiap cobaan hidup ini.
Pada ay. 6 Petrus mengatakan “sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.”
Pencobaan adalah bagian dari kehidupan setiap orang. Tidak ada orang yang bisa terbebas dari cobaan hidup ini. Yesus sendiri mengalami pencobaan di padang gurun, bahkan sesaat sebelum Ia ditangkap, Ia berhadapan dengan pergumulan untuk bisa lepas dari ‘cawan pahit’ yang harus Ia jalani.
Itulah sebabnya, kita sangat membutuhkan pertolongan dan kekuatan Roh Kudus dalam setiap apapun yang kita lakukan, sehingga meskipun kita jatuh dalam pencobaan, kita tidak sampai meninggalkan iman percaya kita kepada Kristus.
Setelah menjelaskan Konsep Pemilihan dan Pengudusan, Petrus masuk pada esensi keselamatan yang dikerjakan TUHAN.
Setidaknya ada 6 hal penting dalam Karya Keselamatan itu yang dijelaskan pada ayat 3:
1. Sumber keselamatan itu sendiri adalah TUHAN: “terpujilah TUHAN dan BAPA Yesus Kristus”
Banyak orang berpikir bahwa dengan berusaha hidup dalam kebaikan, amal saleh, dan kebajikan-kebajikan lainnya, maka ia akan terbebas dari dosanya dan memperoleh keselamatan. Tetapi, banyak orang tidak menyadari bahwa pada hakikatnya, manusia adalah mahluk yang penuh dengan dosa. Sehingga, hari ini ia bisa hidup dalam kebaikan, tetapi besok ia jatuh lagi ke dalam dosa.
Dalam Kej. 6:5 diceritakan bagaimana TUHAN memperhatikan cara hidup manusia. Ketika TUHAN melihat kehidupan manusia, IA mendapati bahwa “segala kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata.”
Inilah realita yang sesungguhnya. Karena itulah Rasul Paulus berkata, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan TUHAN” (Rm. 3:23).
Jadi, mungkinkah manusia berusaha untuk kembali kepada citra ilahi?
Ketika Adam gagal mengemban amanat ilahi, pada saat itulah ia kehilangan kemuliaan TUHAN, dan selanjutnya manusia hanya mewarisi prilaku Adam, yaitu prilaku yang menyimpang dari kehendak TUHAN.
Karena itu, mustahil bagi manusia untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan TUHAN! Hanya ada satu cara, yaitu jika TUHAN sendiri yang melakukannya.
Itulah sebabnya dikatakan di sini bahwa keselamatan hanya bersumber dari TUHAN, bukan dari usaha manusia!
2. Landasan keselamatan adalah: “rahmat-NYA yang besar”
Tidak mungkin keselamatan itu ada, jika tidak ada “rahmat TUHAN yang besar” itu. Rahmat TUHAN memungkinkan IA untuk mengutus Anak-NYA Yang Tunggal supaya setiap orang diselamatkan (band. Yoh. 3:16).
“Rahmat TUHAN” yaitu “kasih-NYA.” Kasih yang melampaui segala kasih yang ada. Kasih yang tidak terukur dan tanpa pamrih.
Yesus berkata, “jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi BAPA-mu yang di surga!” (Mat. 7:11).
Begitu besarnya rahmat itu, bahkan IA sanggup merelakan Anak-NYA untuk mati di kayu salib, menanggung segala dosa umat-NYA. Apakah kasih BAPA masih kurang?
3. Tujuan keselamatan: “melahirkan kita kembali”
“Melahirkan kita kembali” sama dengan “lahir baru.” Dalam Yoh. 3:3, Yesus berkata, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan TUHAN (surga)”
“Lahir baru” adalah syarat penting untuk merespon “kasih TUHAN” yang besar. Tetapi bagaimanakah kita dapat “lahir baru” jika kecenderungan hati kita adalah kejahatan?
Perumpamaan Yesus dalam Lukas 15:11-24 memberikan gambaran yang sederhana tentang bagaimana “lahir baru” itu.
Kita ini ibarat anak bungsu dalam perumpamaan itu. Kita telah dimerdekakan oleh Kristus dan memperoleh warisan surgawi yang besar. Tetapi egoisme kita membuat kita “memboroskan” warisan itu dan hidup dalam berbagai cara hidup yang tidak berkenan kepada TUHAN.
Dalam perumpamaan Yesus dikatakan bahwa Bapa “selalu menunggu” di depan pintu. Ketika ia melihat dari jauh bahwa anaknya sudah pulang, ia “berlari” menyongsong anaknya itu. Menyambut dia dan mengadakan pesta untuk anaknya yang hilang.
Kita adalah anak-anak TUHAN yang hilang. DIA selalu menanti kita untuk pulang kepada-NYA. IA bahkan akan berlari menyongsong kita, ketika kita pulang kepada-NYA.
Persoalannya adalah: “Apakah kita mau kembali kepada-NYA?”
“Lahir baru” adalah ketika kita tidak saja memutuskan untuk kembali, tetapi juga berani melangkah pulang dan menyadari serta mengaku segala dosa kita kepada TUHAN.
Proses “lahir baru” adalah proses yang membutuhkan kebulatan tekad untuk meninggalkan segala yang di belakang kita, dan melangkah ke arah terang ilahi dalam pimpinan Roh Kudus.
4. Perantara keselamatan: “Yesus Kristus”
Kristus adalah satu-satunya perantara kita kepada BAPA. Ia juga adalah perantara keselamatan, sebab hanya melalui Dia-lah kita diselamatkan.
Di dalam Kristus kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada BAPA dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya (Ef. 3:12).
5. Karya: “kebangkitan”
Kebangkitan Kristus adalah jaminan iman kita. Dalam 1Kor. 15:17, Paulus berkata, “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu dan kamu masih hidup dalam dosa.”
Belakangan ini kita memang banyak disodorkan dengan tantangan-tantangan terhadap iman percaya kita.
Pada tahun 1983, Richard Sapir, seorang novelis Yahudi, menulis sebuah novel tentang penemuan mayat seseorang yang diduga mati karena disalibkan. Mayat itu kemudian diteliti dan ternyata mayat itu adalah mayat Yesus. Novel berjudul “The Body” ini kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 2001, dan sempat mendapat kritikan dari sejumlah gereja.
Tahun 2003, seorang novelis Amerika bernama Dan Brown, menulis novel berjudul “The Da Vinci Code.” Dalam novel itu dikisahkan bagaimana rahasia dibalik lukisan Perjamuan Kudus karya Leonardo da Vinci. Rahasianya adalah bahwa Yesus tidak mati, melainkan Ia menikah dan mempunyai seorang anak yang kemudian menjadi leluhur sebuah dinasti besar di Italia.
Novel ini pun kemudian difilmkan dengan judul yang sama, dan sempat dicekal oleh Gereja Katolik Roma.
Tahun 2007, seorang ketua departemen studi agama-agama di University of North Carolina, mengekspos penemuan peti mati (ossuary) di Talpiot, Yerusalem. Peti mati itu diduga milik Yesus dan keluarga-Nya.
Dari cerita fiksi hingga penggalian sejarah berusaha menggoyahkan iman Kristen tentang kebangkitan Kristus. Tetapi, seiring waktu, semuanya itu pun berhasil terjawab. Penemuan di Talpiot diklarifikasikan bukan sebagai peti Yesus, bahkan tulisan pada peti itu diragukan oleh para ahli sejarah Yerusalem.
6. Hasil: “hidup yang penuh pengharapan”
Inilah akhir dari karya keselamatan itu, yaitu “hidup yang penuh harapan.” Dalam Yoh. 3:16 disebut sebagai “hidup kekal.”
Hidup yang didambakan oleh setiap orang, itulah yang akan kita raih jika kita tetap hidup dalam iman kita kepada Kristus.
Hidup itu adalah hidup yang:
[4] “tidak dapat binasa” (aftharton) = tetap hidup (kekekalan)
“tidak dapat cemar” (amianton) = tetap bersih (kesucian)
“tidak dapat layu” (amaranton) = tetap segar (kemuliaan). Amin!
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 05 Apr 2010 (03:07 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi